Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

30 Agustus 2014

WILL YOU MARRY ME?

             "Sudahlah, biarkan ikan itu pergi dengan tenang."  Nanang menepuk pelan pundak Damang, berlagak simpati.  Sudah beberapa hari ini ia perhatikan sahabatnya itu memiliki hobi baru.  Entah hobi atau nasib, yang jelas menurut Nanang sama sekali tidak ada manfaatnya.  Sohib dekatnya itu selalu tertangkap basah saat sedang melamun.

"Busyet dah.  Aku aja yang dari tadi di sini baru nyadar kalo' ada ikan mati."  Celetuk Damang sembari melirik seekor ikan mengambang pasrah dalam kolam tepat di hadapannya.

"Emang beneran ada yang mati?  Padahal tadi itu aku cuman godain kamu aja kali.  Lagian kamu akhir-akhir ini hobi melamun.  Tar kesambet lho!"

Damang diam, membiarkan Nanang ikut duduk menemaninya di sisi kolam.  Cuaca tidak jelas -maksudnya nggak mendung, nggak juga panas- kian membuat suasana jadi tak menentu bagi Damang.  Taman ganesha di waktu sore masih lumayan ramai oleh beberapa mahasiswa ITB.  Ada yang belajar kelompok, ada yang asyik berduaan sambil makan siomay, ada juga yang tertawa sendirian, ditemani note atau android kesayangan.

           

05 Juni 2014

SEPASANG MATA DI DEPAN KANTOR GURU

            Sepasang mata mengawasi, seperti detektif sedang mengamati targetnya.  Tidak, mata itu lebih sayu.  Tidak setajam mata detektif.  Tapi di balik sayunya, ia cermat mengawasi.

***     

Aku berjalan menyusuri koridor menuju ruang guru.  Sebelum masuk aku melihat Eka berdiri tak jauh di bawah teras, persis menghadap ke dalam ruangan.  Seulas senyum aku lemparkan, namun ia hanya menatap nanar.  "Ah, selalu begitu."

Bergegas aku masuk, melewati beberapa guru yang sedang asyik berbincang di ruang tamu.  "Permisi, Bu." Ucapku santun sambil berlalu ke meja Bu Heni, wali kelasku.  Setelah meletakkan tumpukan buku tugas para siswa, aku bergegas keluar.  Sementara Eka, dia masih saja di sana.

06 Mei 2014

PRIA KESEPIAN

                Aku sunyi.  Parah!  Mengapa tiada barang satu dua orang teman?  Apa akan begini hingga tarikan nafas pamungkas?  Hhh!  Dengarlah, aku perlu bersuara.  Gigi yang tersimpan dalam rongga mulut pun mulai kering, tersebab lama bersembunyi.

            Kau mungkin mengira aku terpenjara dalam ruang pengap, tanpa kehidupan.  Atau boleh jadi kau menyangka aku tengah terlempar ke planet antah barantah yang belum lagi berpenghuni.  Salah!  Sandiwara yang kulakoni jauh lebih mengerikan.  Aku bernafas di antara jutaan manusia yang tiap saat berganti, hilir mudik entah menyibukkan apa.  Di tengah mereka aku mengeja waktu, detik demi detik.  Yah, aku hidup di bumi, bahkan di tengah kota besar yang penduduknya kian membludak.  Tapi mengapa di tengah ramai insan justru aku mengecap tragisnya kesunyian?  Entah.

***     

25 Oktober 2013

MR. MATA-MATA

            "Telat lagi?? Makanya, baca komik jangan sampe’ malem.  Kesiangan deh tuh!”

Glekk.  Baso yang belum terkunyah sempurna nyaris melesat masuk ke kerongkongan.  Dari nomornya aku tak kenal.  Siapa yang mengirim sms iseng begini?

            “Paling temen kelas kita.”  Tiara berkomentar.

            “Kalo nggak, fans rahasia.”  Marsya tak mau kalah.

Entah siapa, awalnya tak begitu aku pedulikan.  Tapi pada akhirnya kami sibuk menerka sembari bercanda, lalu diikuti tawaan cuek.  Seolah kini kami punya mainan baru.

Tebakan pertama jatuh pada Arifin.  Cowok culun, berkacamata minus, dan selalu membawa bekal dari rumah.  Rumornya, siswa kutu buku ini memang diam-diam sering mencari informasi apa saja terkait dengan kepribadianku.  Tapi jika melihat pembawaannya yang polos, juga jemarinya yang selalu bergetar saat akan berbincang langsung denganku, rasanya mustahil dia berani mengirimkan sms tadi.  Kuteliti lagi gaya bahasa sms yang cenderung berani.  Pastilah bukan dari orang bertipe seperti Arifin.

           

22 Juli 2013

MANUSIA KANIBAL

                “Allahuakbar, allahuakbar...”

            Lantunan adzan menyapa.  Dan seperti biasa, suara adzan maghrib di bulan ramadhan selalu menjadi alunan merdu yang paling dirindu.

            “Alhamdulillah.”

Dina tak sabar melahap aneka hidangan ta’jil dihadapannya.  Ada kolak labu, puding coklat, es cendol, martabak telor, teh hangat, juga beragam sajian makan malam seperti sop buntut goreng, pepes ikan, tumis kangkung, tempe bacem, serta sambal goreng.  Komplit!

            “Hueekk!!”  Mata Dina membelalak.

“Aih aih!!  Naon ieu??! Iigghh, hueek!”  Baru berkisar kurang dari sepuluh menit menikmati makanan pembuka, Dina mendadak merasakan jijik luar biasa.  Wajar saja, karena aneka makanan yang semula menggoda selera, kini tiba-tiba berubah wujud menjadi daging busuk, darah, serta puluhan belatung.  Puding coklat yang sedang lahap dinikmati pun tak jauh beda, serupa darah kental yang berbau amis.  Alih-alih melanjutkan buka puasa, Dina bergegas menuju kamar mandi, memuntahkan isi perut yang sejatinya masih kosong tak berisi.

26 Maret 2013

BUNUH AKU, SEKARANG !

            "Bunuh saja aku, sekarang!"  Teriakan sia-sia, karena kau pun tak akan pernah peduli.  Putus asa?  Ya, terlalu lelah dalam siksaan.  Terkadang aku muak dengan kelakuanmu yang serupa memanjakan, tapi diam-diam menikam.  Awalnya aku masih berbaik sangka.  Aku pikir kau memang tak menyadari sikapmu mampu membunuhku, perlahan, sangat menyiksa.  Tapi sering kudengar kerabat berusaha menyadarkanmu dengan ragam peringatan.  Kau acuh.  Oh, baik sangkaku keliru.  Kau bukannya tak tahu, tapi tak mau tahu. 

"Aku ingin mati sekarang!"  Kuulangi lagi.  Kau asyik masyuk, sibuk dengan kesenangan sendiri.

"Percuma.  Dia tak akan peduli."  Satu suara menyadarkan.  Kuperhatikan kondisinya tak jauh beda denganku.

"Kita senasib.  Aku pun tertawan.  Kita sama-sama menanti ajal."  Ucapnya pesismis.

04 Oktober 2012

IMPIAN CAHAYA

                    Gemetar tanganku membuka lipatan kertas kumal itu.  Kertas impian Cahaya yang beberapa hari lalu sempat kuabaikan, namun begitu mengusik penasaran kini.  Rangkaian kalimat singkat beradu dengan kabut yang mengaburkan pandangan.  Sesak.

***

            “Mak, sudah lihat kalender?”  Aku menghentikan gerakan tangan dari mencuci sayuran, menoleh sejenak ke sumber suara.  Di depan pintu dapur tampak Cahaya tengah mengulas senyum.

            “Emang kita punya kalender?”  Kulanjutkan kembali aktivitas yang tertunda, menyiapkan bahan untuk dagangan pecel pagi ini.  Meski urung namun kujawab jua pertanyaan Aya, panggilan untuk Cahaya.

            “Ada, Mak.  Tuh, di depan.”  Ah ya, aku ingat.  Satu karton bekas yang ditulisi dengan rangkaian angka dan hari beserta keterangan singkat kini terpajang di ruang depan.  Kalender hasil kreasi tangan Aya.  Mungkin bentuk protes atas sikapku yang enggan membeli kalender dikarenakan sayang akan rupiah.

            “Sebentar lagi tanggal sembilan Desember.”  Kini Aya telah berdiri di sampingku.

           

22 Mei 2012

HILANG BERANTAI

            Usep terjaga dan bangkit terburu-buru begitu melirik angka 13.27 pada layar ponselnya.  Dengan mengumpulkan kesadaran, ia melangkah keluar.  Pelataran sepi.  Lebih dari sepuluh menit ia menyusuri teras, berharap secepatnya menemukan satu benda.  Nihil.  Kini sambil berjinjit kaki Usep menelusuri halaman masjid kantor.  Berjalan ke sana kemari mencari sepasang sandal jepit berwarna biru nomor 39 miliknya.  Tidak terlalu mewah, tapi cukup sebagai alas kaki hingga menuju lift dan naik ke lantai sepuluh.

            "Nyari apaan, Sep?" Rio menepuk pundak Usep.  Entah dari sebelah mana, tiba-tiba makhluk itu sudah berdiri di belakangnya.

            "Sendal saya ke mana ya? Heran, sendal butut juga laku geuning[1]."  Usep garuk-garuk kepala.  Liar tatapnya menyapu seantero halaman.  Tak sedikitpun matanya beradu pada sang pemilik tanya.

            "Anu kumaha sendalna?[2]"  Rio jadi celingak-celinguk, mengikuti aksi rekan kerjanya.

            "Sendal jepit warna biru.  Lagi shalat mah disimpen weh di teras.  Naha’[3] sekarang nggak ada?  Cuma ditinggal shalat sama tidur bentar.”  Kini ia menuju rerimbun pohon bonsai yang menjadi penghias di sisi halaman.

            "Biru, alit[4] nya'? Barusan si Sopyan juga kehilangan sendal, terus liat ada sendal jepit biru di teras.  Dipake’ weh sama Sopyan teh.  Yah, kali aja yang itu."

           

28 Maret 2012

ROKOK DAN KAOS BOLA

             Rokok dan bola adalah dua makhluk tak terpisahkan dari pribadi Ayah.  Ibarat api dan asap, air dan basah, telah menyatu sejak kemunculannya pertama di muka bumi.  Pekerjaan yang sehari-hari hanya menjaga toko klontong milik pribadi tentu semakin mengakrabkan Ayah dengan dua hobinya itu.  Ia bahkan sengaja membeli satu TV bekas dari Mang Rusli untuk ditempatkan di sudut toko, agar saat pertandingan bola ia tetap bisa menjaga toko sambil leluasa menyaksikan jalannya pertunjukkan.  Dan sudah pasti, teman paling setia yang tak akan ketinggalan adalah batang rokok. 

Maniaknya Ayah terhadap bola sudah mencapai stadium akhir.  Dulu sewaktu timnas Indonesia bertanding melawan kesebelasan Malaysia di Gelora Bung Karno, Ayah rela mengantri tiket yang meski kelas paling murah tetap saja bagiku harganya selangit.  Tidur di sisi luar stadion bersama sesama maniak yang datang dari berbagai daerah pun sanggup dilakoni.

"Atas nama nasionalisme.  Harus cinta negeri, dong!"  Kilahnya saat Emak menyampaikan protes atas jatah uang yang terpaksa disunat demi membeli tiket.  Aku dan Emak hanya bisa geleng-geleng kepala.

07 Maret 2012

MAHAR

              Nanar ditatapnya langit-langit kamar.  Pikiran Ammar menerawang, mengenang proses ta’aruf enam bulan lalu.  Kurang dari satu bulan istikharah dilanjutkan dengan temu keluarga dan khitbah.  Namun niat tak ingin berlama-lama akhirnya kandas sudah.  Ah, andai bukan karena mahar yang menurutnya terlalu dipersulit, tentu setidaknya tiga bulan lalu ikrar suci itu telah ia lafadzkan.

            “Tring.”  Teriakan hp membawanya ke alam sadar.  Deretan kata dalam pesan singkat ia telusuri.

            “Akhi, afwan ana hanya sekedar evaluasi mengenai permintaan adik ana.  Sampai saat ini, berapa persen mahar sesuai yang disyaratkan telah sanggup terpenuhi?”  Ridwan, kakak sang calon kembali menagih janji.  Tentulah atas permintaan Khadijah, adik semata wayangnya.

Setelah disimpannya hp tanpa memberi jawaban, Ammar kembali berbaring.  “Tak perlu kujawabpun pastilah mereka tau kondisiku.”  Pikir hatinya.

            “Mengapalah tak sejak awal ia mensyaratkan mahar itu pada biodatanya, jika akhirnya menjadi demikian wajib tak tertawarkan.  Atau minimal saat ta’aruf.  Mengapa juga harus mengiyakan, bahkan memajukan urusan sampai ke khitbah.”  Sesal Ammar, merunut permintaan Khadijah yang baru diterimanya saat menjelang akad.  Entahlah dirinya yang salah karena tak mempersiapkan diri sejak dulu, atau Khadijah yang terlalu berlebihan.

           

18 Januari 2012

RINGTONE

            "Sya'tisy syajaaru nadqal hajaru, syuqqal qamaru bi isyaratihi...”

Lantunan merdu Zamzam yang menjadi nada dering hp GW 300 ku memecah keterdiaman.  Biasanya suara remaja 14 tahun yang juga qari internasional itu syahdu memanjakan gendang telinga, tapi tidak kali ini.  Pasalnya, sepasang mata yang terarah dari seberang tempatku duduk menjelma belati yang menikam nyali.  Dering tadi pastilah mencuri perhatiannya.

Mobil jurusan caheum cileunyi meluncur lancar, karena jam macet memang telah berlalu.  Kuperkirakan saat ini telah melampaui pukul sepuluh.  Di segala sisi hanya sesekali kendaraan menderu dalam kecepatan tinggi.  Parahnya, jok belakang kendaraan berplat kuning ini hanya menyisakan dua penumpang, aku dan seorang lelaki muda yang kini menatap penuh selidik.  Ah, menyesal terlalu menunda kepulangan, padahal pertandingan volly persahabatan telah bubar sejak pukul lima sore tadi

Memeluk Kenangan

Saat aku mencoba melupakan namun gagal, Saat itulah aku memutuskan untuk berhenti melupakan. Berdamai. Merangkai kisah dalam ...