23 Mei 2012

Rajab, Warming Up Yuk!

"Muharram, Shafar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, RAJAB, SYA'BAN, RAMADHAN, Syawal, Zulqa'idah, Dzulhijjah..."

Sebait lirik lagu dari grup nasyid 'Alarm me' ini dulu sukses membuat saya menghafal urutan nama bulan-bulan Islam secara benar dan cepat.  Tapi coba perhatikan tiga nama bulan yang bercetak tebal.  Yah, saat ini kita sedang berdiri, bernafas, meniti hitungan hari dalam Bulan Rajab.  Tapi, apa istimewanya?

22 Mei 2012

HILANG BERANTAI

            Usep terjaga dan bangkit terburu-buru begitu melirik angka 13.27 pada layar ponselnya.  Dengan mengumpulkan kesadaran, ia melangkah keluar.  Pelataran sepi.  Lebih dari sepuluh menit ia menyusuri teras, berharap secepatnya menemukan satu benda.  Nihil.  Kini sambil berjinjit kaki Usep menelusuri halaman masjid kantor.  Berjalan ke sana kemari mencari sepasang sandal jepit berwarna biru nomor 39 miliknya.  Tidak terlalu mewah, tapi cukup sebagai alas kaki hingga menuju lift dan naik ke lantai sepuluh.

            "Nyari apaan, Sep?" Rio menepuk pundak Usep.  Entah dari sebelah mana, tiba-tiba makhluk itu sudah berdiri di belakangnya.

            "Sendal saya ke mana ya? Heran, sendal butut juga laku geuning[1]."  Usep garuk-garuk kepala.  Liar tatapnya menyapu seantero halaman.  Tak sedikitpun matanya beradu pada sang pemilik tanya.

            "Anu kumaha sendalna?[2]"  Rio jadi celingak-celinguk, mengikuti aksi rekan kerjanya.

            "Sendal jepit warna biru.  Lagi shalat mah disimpen weh di teras.  Naha’[3] sekarang nggak ada?  Cuma ditinggal shalat sama tidur bentar.”  Kini ia menuju rerimbun pohon bonsai yang menjadi penghias di sisi halaman.

            "Biru, alit[4] nya'? Barusan si Sopyan juga kehilangan sendal, terus liat ada sendal jepit biru di teras.  Dipake’ weh sama Sopyan teh.  Yah, kali aja yang itu."

           

14 Mei 2012

Manusia Unik, Kepada Mereka Belajar Tentang Cinta

Jika ditanya siapa yang menyimpan Alqur'an di dalam rumahnya, saya yakin hampir semua umat muslim menjawab, 'Ya, saya punya!'

Namun jika dilanjutkan dengan pertanyaan, 'siapa yang rutin membaca dan mengkhatamkan Alqur'an?' Meski saya belum melakukan penelitian secara khusus, tapi di beberapa tempat saya sering menemukan muslim yang hanya menjawab dengan senyum malu sembari mengatakan,
'He he, saya rutin kok, tiap Ramadhan (aja), tapi ga khatam sih.'

Ini masih jauh lebih baik, karena pada kenyataannya tak jarang kita jumpai muslimin yang begitu 'menjaga' kesucian Alqur'an, hingga tak berani meski sekadar menyentuh. Alqur'an disimpan di tempat yang tinggi, dalam lemari kaca, tanpa pernah dijamah. Alqur'an ibarat pajangan.

17 April 2012

Nyaman, Haruskah??

Seorang mahasiswa angkatan 2011 yang merantau jauh dari orangtua, menghubungi ibunya.  Kali ini permintaannya adalah sebuah meja belajar model baru, setelah sebelumnya difasilitasi dengan laptop lengkap dengan modem.   Alasannya, untuk kenyamanan belajar selama masa kuliah.

Tak lama sang ibu bertandang dari pulau sumatera ke Kota Bandung.  Meja belajar plus kursi bak direktur (kursi beroda yang dapat diputar) akhirnya menetap di kamar kostan sang anak yang tak seberapa luas.  Temannya yang berkunjung hanya menyindir,

"Wah, saya belum pernah nih duduk di kursi kaya' gini."

Sebelumnya, sang anak minta dibelikan tempat tidur, karena merasa tak cukup hanya kasur di lantai.  Padahal mayoritas penghuni kostan di tempat tersebut hanya menggunakan kasur, tanpa tempat tidur khusus.  Selanjutnya, sebuah Televisi juga berhasil ditangkringkan di atas meja belajar barunya.

28 Maret 2012

ROKOK DAN KAOS BOLA

             Rokok dan bola adalah dua makhluk tak terpisahkan dari pribadi Ayah.  Ibarat api dan asap, air dan basah, telah menyatu sejak kemunculannya pertama di muka bumi.  Pekerjaan yang sehari-hari hanya menjaga toko klontong milik pribadi tentu semakin mengakrabkan Ayah dengan dua hobinya itu.  Ia bahkan sengaja membeli satu TV bekas dari Mang Rusli untuk ditempatkan di sudut toko, agar saat pertandingan bola ia tetap bisa menjaga toko sambil leluasa menyaksikan jalannya pertunjukkan.  Dan sudah pasti, teman paling setia yang tak akan ketinggalan adalah batang rokok. 

Maniaknya Ayah terhadap bola sudah mencapai stadium akhir.  Dulu sewaktu timnas Indonesia bertanding melawan kesebelasan Malaysia di Gelora Bung Karno, Ayah rela mengantri tiket yang meski kelas paling murah tetap saja bagiku harganya selangit.  Tidur di sisi luar stadion bersama sesama maniak yang datang dari berbagai daerah pun sanggup dilakoni.

"Atas nama nasionalisme.  Harus cinta negeri, dong!"  Kilahnya saat Emak menyampaikan protes atas jatah uang yang terpaksa disunat demi membeli tiket.  Aku dan Emak hanya bisa geleng-geleng kepala.

07 Maret 2012

MAHAR

              Nanar ditatapnya langit-langit kamar.  Pikiran Ammar menerawang, mengenang proses ta’aruf enam bulan lalu.  Kurang dari satu bulan istikharah dilanjutkan dengan temu keluarga dan khitbah.  Namun niat tak ingin berlama-lama akhirnya kandas sudah.  Ah, andai bukan karena mahar yang menurutnya terlalu dipersulit, tentu setidaknya tiga bulan lalu ikrar suci itu telah ia lafadzkan.

            “Tring.”  Teriakan hp membawanya ke alam sadar.  Deretan kata dalam pesan singkat ia telusuri.

            “Akhi, afwan ana hanya sekedar evaluasi mengenai permintaan adik ana.  Sampai saat ini, berapa persen mahar sesuai yang disyaratkan telah sanggup terpenuhi?”  Ridwan, kakak sang calon kembali menagih janji.  Tentulah atas permintaan Khadijah, adik semata wayangnya.

Setelah disimpannya hp tanpa memberi jawaban, Ammar kembali berbaring.  “Tak perlu kujawabpun pastilah mereka tau kondisiku.”  Pikir hatinya.

            “Mengapalah tak sejak awal ia mensyaratkan mahar itu pada biodatanya, jika akhirnya menjadi demikian wajib tak tertawarkan.  Atau minimal saat ta’aruf.  Mengapa juga harus mengiyakan, bahkan memajukan urusan sampai ke khitbah.”  Sesal Ammar, merunut permintaan Khadijah yang baru diterimanya saat menjelang akad.  Entahlah dirinya yang salah karena tak mempersiapkan diri sejak dulu, atau Khadijah yang terlalu berlebihan.

           

07 Februari 2012

Pesan Untuk Pak Slamet Widodo

Sobat, kali ini aku kembali ingin berkisah.  Bukan kisah pribadi, melainkan pengalaman yang aku comot dari seorang kakak, yang ia sampaikan penuh antusias saat malam telah melewati batas tengahnya.  Saat mata mulai meredup, dan mulut tak terhitung entah berapa kali menguap lebar.

Ini kisah nyata kakakku lho.  Selamat menikmati.

Aku dan liza adalah sepasang sahabat, dekat, akrab.  Sejak SMP hingga mengenakan seragam putih abu-abu, kian lekat hubungan pertemanan kami.  Di sekolah kami, SMUNSA Jebus Bangka, kami duduk satu meja.

Memeluk Kenangan

Saat aku mencoba melupakan namun gagal, Saat itulah aku memutuskan untuk berhenti melupakan. Berdamai. Merangkai kisah dalam ...