13 Juli 2012

Ramadhan in sight, are u Ready??!

Alhamdulillah, gak lama lagi kita sampai juga nih, ke bulan yang satu tahun lalu kita lepas dengan derai air mata, hati pilu, jiwa tergores sedih (ehh, iya gak? atau justru seneng bisa bebas dari Ramadhan?).

Ya, apapun kondisi hati kita satu tahun lalu, tetaplah kesempatan yang masih diberikan adalah sebuah anugerah yang tak terkira.  Siapa sih yang akan memungkiri bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya Allah turunkan berlimpah karunia, ampunan, pahala, dan kemudahan dalam beribadah.  Kita sering menyebutnya sebagai BULAN ISTIMEWA.
Jadi, terlepas berat atau tidak perjuangan ibadah yang akan kita jalani nanti, pastilah ada kebahagian luar biasa saat usia masih menghadapkan raga kita kepada tamu istimewa ini.  Dan untuk itu, kita WAJIB bersyukur.  Betul??

Nah!  Sekarang nih yah.  Ngomong-ngomong tentang tamu yang bentar lagi mau bertandang, kita udah nyiapin apa aja?  Masa' iya sih tau ada tamu mau datang gak disuguhin apa-apa?  Kita kan harus memuliakan tamu.  Bukan begitu??

PERSIAPAN!
Ini nih yang mau kita bicarain kali ini.  Apa aja sih yang kudu kita persiapkan?  Minimal ada EMPAT persiapan utama.  Apa aja tuh??

10 Juli 2012

Ilahana, balighnaa Ramadhan

Masa berarak, bergerak pasti.
Siap percikkan tetes sejuk yang ditunggu.
Pasti, pasti ia sirami sekarat jiwa yang haus dan merindu.
Jiwa-jiwa yang dulu berkabut, saat sembab mata menjadi saksi tentang haru perpisahan.

Pasti??
InsyaAllah...
Ia akan kembali.
Ia 'makmurkan' bumi.
Ia bentang selebar-lebar peluang.
Ia sapa hati yang larut menanti.

07 Juni 2012

Merayakan 10 tahun, Hijab Pilihan Hati

7 Juni 2002 - 7 Juni 2012
10 tahun sudah....

Terkenang masa sepuluh tahun silam, saat niat kuat untuk menutup aurat ternyata tak serta merta dapat direalisasikan.  Perjuangan saya memang tak seberat muslimah di era 1980-an atau 1990-an yang harus berhadapan dengan pihak petinggi sekolah, ayah yang seorang aparat negara, dan lain sebagainya.  Sebagian ada yang harus mati-matian mempertahankan keteguhan prinsip, karena terlalu dicurigai.  Tidak, zaman saya perjuangan tidak lagi seperti itu, karena Alhamdulillah jilbab telah dapat diterima oleh masyarakat luas.

Tapi kendala tetap ada.  Bulan Mei 2001 hidayah menghampiri, namun saya baru resmi menggunakan jilbab pada Tanggal 7 Juni 2002.
Saat itu saya berfikir mungkin Allah hendak menguji kesungguhan hati.  Karena dengan demikian saya dapat lebih menyelami ketulusan niat.  Karena apakah saya berhijab?
Saya mempunyai masa satu tahun untuk jujur pada diri sendiri, sekaligus memantapkan kembali apa yang telah menjadi pilihan jiwa saat itu.
Lebih dari itu, dengan sedikit perjuangan pastilah akan menjadi kenangan demikian indah, sehingga hidayah akan dihargai, begitu mahal dan tak ternilai.  Ibarat suatu benda yang didapatkan dengan susah payah, pasti akan dijaga hingga tetes keringat penghabisan (he he).
Yah, tak akan mudah dan tak akan rela kita melepas sesuatu yang telah kita raih dengan berpayah-payah.  Setuju?

24 Mei 2012

Aksara Cinta

Kibaran rahim menjalar
menjelma cinta yang Maha

Duhai Rahman,
hendak kubalas, kujawab
agar layak menadah
biar tak malu mereguk kasih
meski entah secuil laku bermakna balas, entah masih jauh menebar hina

23 Mei 2012

Rajab, Warming Up Yuk!

"Muharram, Shafar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, RAJAB, SYA'BAN, RAMADHAN, Syawal, Zulqa'idah, Dzulhijjah..."

Sebait lirik lagu dari grup nasyid 'Alarm me' ini dulu sukses membuat saya menghafal urutan nama bulan-bulan Islam secara benar dan cepat.  Tapi coba perhatikan tiga nama bulan yang bercetak tebal.  Yah, saat ini kita sedang berdiri, bernafas, meniti hitungan hari dalam Bulan Rajab.  Tapi, apa istimewanya?

22 Mei 2012

HILANG BERANTAI

            Usep terjaga dan bangkit terburu-buru begitu melirik angka 13.27 pada layar ponselnya.  Dengan mengumpulkan kesadaran, ia melangkah keluar.  Pelataran sepi.  Lebih dari sepuluh menit ia menyusuri teras, berharap secepatnya menemukan satu benda.  Nihil.  Kini sambil berjinjit kaki Usep menelusuri halaman masjid kantor.  Berjalan ke sana kemari mencari sepasang sandal jepit berwarna biru nomor 39 miliknya.  Tidak terlalu mewah, tapi cukup sebagai alas kaki hingga menuju lift dan naik ke lantai sepuluh.

            "Nyari apaan, Sep?" Rio menepuk pundak Usep.  Entah dari sebelah mana, tiba-tiba makhluk itu sudah berdiri di belakangnya.

            "Sendal saya ke mana ya? Heran, sendal butut juga laku geuning[1]."  Usep garuk-garuk kepala.  Liar tatapnya menyapu seantero halaman.  Tak sedikitpun matanya beradu pada sang pemilik tanya.

            "Anu kumaha sendalna?[2]"  Rio jadi celingak-celinguk, mengikuti aksi rekan kerjanya.

            "Sendal jepit warna biru.  Lagi shalat mah disimpen weh di teras.  Naha’[3] sekarang nggak ada?  Cuma ditinggal shalat sama tidur bentar.”  Kini ia menuju rerimbun pohon bonsai yang menjadi penghias di sisi halaman.

            "Biru, alit[4] nya'? Barusan si Sopyan juga kehilangan sendal, terus liat ada sendal jepit biru di teras.  Dipake’ weh sama Sopyan teh.  Yah, kali aja yang itu."

           

14 Mei 2012

Manusia Unik, Kepada Mereka Belajar Tentang Cinta

Jika ditanya siapa yang menyimpan Alqur'an di dalam rumahnya, saya yakin hampir semua umat muslim menjawab, 'Ya, saya punya!'

Namun jika dilanjutkan dengan pertanyaan, 'siapa yang rutin membaca dan mengkhatamkan Alqur'an?' Meski saya belum melakukan penelitian secara khusus, tapi di beberapa tempat saya sering menemukan muslim yang hanya menjawab dengan senyum malu sembari mengatakan,
'He he, saya rutin kok, tiap Ramadhan (aja), tapi ga khatam sih.'

Ini masih jauh lebih baik, karena pada kenyataannya tak jarang kita jumpai muslimin yang begitu 'menjaga' kesucian Alqur'an, hingga tak berani meski sekadar menyentuh. Alqur'an disimpan di tempat yang tinggi, dalam lemari kaca, tanpa pernah dijamah. Alqur'an ibarat pajangan.

Memeluk Kenangan

Saat aku mencoba melupakan namun gagal, Saat itulah aku memutuskan untuk berhenti melupakan. Berdamai. Merangkai kisah dalam ...