09 Juni 2014

Nonton Film 'Ketika Tuhan Jatuh Cinta' -Lanjutan-

Film Ketika Tuhan Jatuh Cinta, diangkat dari novel karya Wahyu Sujani terbitan Diva Press pada tahun 2009.
Sebenarnya saya pernah beberapa kali melihat novel ini di toko buku, namun saat itu saya sama sekali tidak berminat untuk membeli.  Entahlah mengapa.  Mungkin karena saking banyaknya pilihan judul-judul novel yang lain.

Hingga suatu hari, saya membaca sebuah tweet dari diva press, yang mengabarkan bahwa novel ini akan segera tayang di layar lebar.  Rasa penasaran akhirnya membuat saya berburu sebuah novel yang sebelumnya saya abaikan.  Tapi sayang seribu kali sayang sodara-sodara, setelah mendatangi beberapa toko buku, hingga menghubungi beberapa toko buku online, ternyata novel ini sudah habis.  Bahkan saat saya bertanya langsung di stand penerbitnya pada sebuah Islamic Book Fair di kawasan braga Bandung, hasilnya tetap sama saja, HABIS alias KOSONG.  Oh no!

Tadinya sih buat bahan perbandingan, sebelum saya menonton filmnya.  Tapi yah, apa mau dikata.  Memang takdirnya saya harus menonton film ini tanpa membaca novelnya terlebih dahulu.



Well, saya menonton pada hari ahad, tanggal 8 Juni 2014 di XXI Jatos (Jatingor Town Square).  Bukan karena harganya jauh lebih murah dibanding tempat lain sih, tapi karena bioskop ini yang paling dekat posisinya dengan tempat tinggal saya yang berada di sebelah timur kota Bandung.  Ini adalah kali kedua saya nonton di Jatos, dan suasananya masih tetap sama saja, sepi.  Tapi bagi saya tidak masalah.  Karena toh yang saya nikmati filmnya, bukan huru-hara para penontonnya.

Nonton Film 'Ketika Tuhan Jatuh Cinta'

Salam bulan Juni, pembaca sekalian! :)

Kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman saya saat kemarin (8 Juni 2014) menonton film 'Ketika Tuhan Jatuh Cinta.'  Bukan sebuah review sih sebenernya, hanya cerita-cerita aja.  Karena saya memang bukan pakarnya untuk mereview sebuah film.  Ya, kali-kali aja cerita saya jadi bikin pembaca sekalian penasaran and jadi pengen ikutan nonton filmnya juga :D

Ok pertama, kenapa saya mau nonton?  Padahal saya bukan penggila film lho.  Maksudnya nggak yang banget-banget maniak pengen nonton bioskop.  Apa karena film ini dibintangi oleh Reza Rahadian?  Hmm, bisa jadi, bisa jadi.  Hehe :D

Tapi alasan utamanya adalah karena (melalui sinopsis yang saya baca sebelum filmnya tayang) saya menilai bahwa ini adalah film yang berkualitas (dari sisi nilai moral yang ingin disampaikan).  Entah kalau dari sisi efek, gambar, de el el.  Karena sekali lagi, saya bukan penggila film yang bisa menilai segi kualitas produksi sebuah film.  Bagi saya, sejauh itu nggak garing, nggak bikin boring, ya cukuplah untuk tidak dilewatkan begitu saja.



Kalau dibilang bukan penggila film, tapi sebenernya saya termasuk pemburu juga sih.  Biasanya film yang saya kejar adalah film yang diadopsi dari cerpen atau novel Indonesia, yang memang secara isi, sarat akan makna.

05 Juni 2014

SEPASANG MATA DI DEPAN KANTOR GURU

            Sepasang mata mengawasi, seperti detektif sedang mengamati targetnya.  Tidak, mata itu lebih sayu.  Tidak setajam mata detektif.  Tapi di balik sayunya, ia cermat mengawasi.

***     

Aku berjalan menyusuri koridor menuju ruang guru.  Sebelum masuk aku melihat Eka berdiri tak jauh di bawah teras, persis menghadap ke dalam ruangan.  Seulas senyum aku lemparkan, namun ia hanya menatap nanar.  "Ah, selalu begitu."

Bergegas aku masuk, melewati beberapa guru yang sedang asyik berbincang di ruang tamu.  "Permisi, Bu." Ucapku santun sambil berlalu ke meja Bu Heni, wali kelasku.  Setelah meletakkan tumpukan buku tugas para siswa, aku bergegas keluar.  Sementara Eka, dia masih saja di sana.

06 Mei 2014

PRIA KESEPIAN

                Aku sunyi.  Parah!  Mengapa tiada barang satu dua orang teman?  Apa akan begini hingga tarikan nafas pamungkas?  Hhh!  Dengarlah, aku perlu bersuara.  Gigi yang tersimpan dalam rongga mulut pun mulai kering, tersebab lama bersembunyi.

            Kau mungkin mengira aku terpenjara dalam ruang pengap, tanpa kehidupan.  Atau boleh jadi kau menyangka aku tengah terlempar ke planet antah barantah yang belum lagi berpenghuni.  Salah!  Sandiwara yang kulakoni jauh lebih mengerikan.  Aku bernafas di antara jutaan manusia yang tiap saat berganti, hilir mudik entah menyibukkan apa.  Di tengah mereka aku mengeja waktu, detik demi detik.  Yah, aku hidup di bumi, bahkan di tengah kota besar yang penduduknya kian membludak.  Tapi mengapa di tengah ramai insan justru aku mengecap tragisnya kesunyian?  Entah.

***     

05 Mei 2014

Kepribadian di balik Warna Favorit

Hai, hai, hai!!
Ups, Assalamu'alaikum pembaca wafiyyatunnisa's site.

Adakah yang merasa kehilangan tulisan-tulisan saya yang renyah bin garing?  :D
Maklum, sudah beberapa bulan ini saya benar-benar kehilangan inspirasi.  Tak ada tulisan baru yang saya produksi, entah itu cerpen, artikel, puisi, atau sekadar curhatan di blog ini.
Yah, meski bersyukur juga karena masih ada rangkaian kata yang saya share dalam bentuk status fb, bbm, atau kicauan di twitter.  Haha.  Lumayan kan tuh, daripada sepi sama sekali.

Hhm... hhm...hhm.... saya memang terserang penyakit 'writer's block' parah!  Tapi kali ini saya memaksakan diri untuk menggores kalimat demi kalimat, meski mungkin akan semakin garing.  Tapi lumayanlah buat obat kangen pembaca setia blog sekalian!  Bener nggak?? Seneng kan, akhirnya di blog ini muncul tulisan baru.  Ayo ngaku aja!

Ok, ok.  Segaring-garingnya saya, sahabat tenang aja.  Karena kali ini pun bakalan tetep ada yang saya ceritain kok.

Sobat semua pada punya warna favorit?  Boleh tau warna apa?  Terus pernah baca karakter berdasarkan warna favorit nggak?  Kalo' udah pernah baca, kira-kira warna favorit sobat matching nggak tuh ama kepribadian sobat sendiri?

Oh ho ho...  maap yah, malah banyak nanya.  Tapi ini serius.  Apa benar warna favorit berkaitan dengan karakter pribadi??

01 November 2013

November Has Come

Lagi...
Terpangkas jatah
Tersurut peluang
Berbungkus balutan angka yang bertumbuh
satu... satu...

Kala November berulang,
Mamanjang sudah langkah
Mengurai penuh jejak
Cepat
Merapat

Dan pengembaraannya menantang masa
Mungkin hendak pulang
Pasti pulang
Tapi entah,
Ke sisi mana ia pantas untuk pulang?



Setitik Muhasabah
Wafiyyatunnisa Asy Syu'lah

Jum'at, 1 November 2013
00:00

25 Oktober 2013

MR. MATA-MATA

            "Telat lagi?? Makanya, baca komik jangan sampe’ malem.  Kesiangan deh tuh!”

Glekk.  Baso yang belum terkunyah sempurna nyaris melesat masuk ke kerongkongan.  Dari nomornya aku tak kenal.  Siapa yang mengirim sms iseng begini?

            “Paling temen kelas kita.”  Tiara berkomentar.

            “Kalo nggak, fans rahasia.”  Marsya tak mau kalah.

Entah siapa, awalnya tak begitu aku pedulikan.  Tapi pada akhirnya kami sibuk menerka sembari bercanda, lalu diikuti tawaan cuek.  Seolah kini kami punya mainan baru.

Tebakan pertama jatuh pada Arifin.  Cowok culun, berkacamata minus, dan selalu membawa bekal dari rumah.  Rumornya, siswa kutu buku ini memang diam-diam sering mencari informasi apa saja terkait dengan kepribadianku.  Tapi jika melihat pembawaannya yang polos, juga jemarinya yang selalu bergetar saat akan berbincang langsung denganku, rasanya mustahil dia berani mengirimkan sms tadi.  Kuteliti lagi gaya bahasa sms yang cenderung berani.  Pastilah bukan dari orang bertipe seperti Arifin.

           

Memeluk Kenangan

Saat aku mencoba melupakan namun gagal, Saat itulah aku memutuskan untuk berhenti melupakan. Berdamai. Merangkai kisah dalam ...