28 April 2017

Ikhlas itu Perkara Hati

Sahabat, mari bicara tentang keikhlasan.

Ikhlas adalah perkara hati, karenanya tidak ada yang berhak memberikan penilaian hanya berdasarkan apa yang terlihat secara dzahiriah.

Kita tidak bisa menilai seseorang adalah ahli ikhlas, semata karena ia menutupi amalan ibadahnya, pun sebaliknya, seseorang yang menampakkan amalan tidak selalu berarti dia adalah seorang yang tidak ikhlas atau bahkan ahli riya'.

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW pernah bersabda,

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص : اِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ اِلىَ اَجْسَامِكُمْ وَلاَ اِلىَ صُوَرِكُمْ وَ لٰكِنْ يَنْظُرُ اِلىَ قُلُوْبِكُمْ. مسلم
 “Sesungguhnya Allah tidak melihat (menilai) bentuk tubuhmu dan tidak pula menilai kebagusan wajahmu, tetapi Allah melihat (menilai) keikhlasan hatimu”. [HR. Muslim]

Namun, sungguh bukan perkara yang baik juga jika kita lantas mengurungkan niat untuk beribadah atau beramal, hanya karena terlanjur dilihat oleh banyak orang.

Karena yang dimaksud dengan riya' sendiri adalah ketika kita meninggalkan sesuatu karena manusia.  Sedangkan jika kita melakukan sesuatu karena manusia, maka perkara ini masuk ke dalam kategori syirik.

Lantas bagaimana sebaiknya?  Berlomba menutupi amalan? atau mengumbar ibadah demi dapat dicontoh oleh banyak orang?

07 April 2017

Sibuklah Pada Aib Diri Sendiri

Assalamu'alaikum sahabat wafiyyatunnisa's site, mari bersama kita renungkan kalimat berikut ini:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
يبصر أحدكم القذاة في أعين أخيه، وينسى الجذل- أو الجذع – في عين نفسه
Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.” [Semut di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak
Sumber : https://rumaysho.com/1201-sibuk-memikirkan-aib-sendiri.html


Tampak klise dan memang sering sekali kita dengar, atau bahkan kita sendiri yang mengucapkan.

Tapi sungguhkah sesering itu kita mengaplikasikan di dalam kehidupan?

Pada kenyataannya, kita lebih senang memikirkan kekurangan orang lain, sibuk hingga menghabiskan waktu dan pikiran untuk memperhatikan bahkan membicarakan keburukan-keburukan saudara kita, daripada melakukan perenungan ke dalam diri.

05 April 2017

Bukan Karena Amal

Bukan karena amal kita ke syurga, melainkan karena rahmat Allah semata.

Maka mari lakukan apa-apa yang menjadikanNya ridho dan tinggalkan apa-apa yang tidak Ia ridhoi

Jika pun berkubang dosa dan maksiat, maka taubat sungguh-sungguh adalah sangat diridhoi olehNya.


Sahabat wafiyyatunnisa's site, untaian kalimat di atas saya ambil dari hadits berikut:

Dari Abi Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW telah bersabda: “Amal shalih seseorang diantara kamu sekali-kali tidak dapat memasukkannya ke dalam surga.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Hai Rasulullah, tidak pula engkau?” Rasulullah menjawab, “Tidak pula aku kecuali bila Allah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya kepadaku.” (Riwayat Muslim; kitab Shahih Muslim, Juz II, halaman 528)


Seseorang pernah memberikan nasihat;

jangan pernah GeEr dengan amalan dan ibadah yang kita lakukan.  Sungguh, Rasulullah SAW saja dijamin syurga bukan karena amalnya.  Beliau SAW dijanjikan syurga karena limpahan rahmat dari Allah SWT.

Lalu untuk apa kita beramal?

Memeluk Kenangan

Saat aku mencoba melupakan namun gagal, Saat itulah aku memutuskan untuk berhenti melupakan. Berdamai. Merangkai kisah dalam ...