22 Januari 2010

Nyawa Manusia VS Materi

Pulang kerja pada sore hari, seperti biasa saya memang selalu menggunakan kendaraan umum. Tapi entah kenapa, dua hari kemarin rasanya pembicaraan sopir angkot kok lumayan ekstrim yah??? Mmm….. ini nich kurang lebih dialognya :
Sore itu pak sopir duduk bersebelahan dengan seorang wanita, yang saya duga sebagai teman dekat atau istrinya, karena mereka memang kelihatan begitu akrab. Ketika memasuki jalan Supratman, tiba-tiba mobil nyaris menabrak seorang pengendara sepeda motor.



Teman : Husss…., bang ati2 lah. Macam mana klo orang tadi itu kau tabrak

Sopir : alahh…dia yang salah. Klopun tadi dia kutabrak, mending sekalian aku lindas saja tu orang

Teman : Enak banget abang bilang. Panjang urusannya nanti

Sopir : Lho iya lah. Dari pada aku biarkan dia hidup, aku harus bawa dia ke rumah sakit. Mahal biayanya. 10 juta itu paling sedikit. Biaya operasi, biaya perawatan, biaya ini, biaya itu. Mending aku lindas. Paling dibawa ke kantor polisi bayar 5 juta juga dah bebas.

Teman : Iya klo bebas…..

Sopir : Pasti bebas lah. Yaa….,paling juga di penjara satu bulan. Terus keluarga mereka dijamin pasti datang. Orang yang ditangisin juga sudah ga ada, pasti mereka mending dapat uang 5 juta.

Teman : Ga segampang itu lah bang urusannya. Ada undang2 yang berlaku. Bisa-bisa abang ditahan seumur hidup

Sopir : Kata siapa. Mana ada aturan macam itu. Namanya juga kecelakaan lalu lintas. Kalo nanti ditanya oleh polisi, aku bilang saja kecelakaan, ga sengaja.

Teman : Iya kalo keluarganya ga nuntut macam2. Klo mereka mau abang dihukum mati macam mana?

Sopir : Mana ada orang yang ga butuh uang. Aku bayar 5 juta, dari asuransi juga mereka dapat 5 juta. Mereka tetap dapat 10 juta.
Jadi begitu prinsipnya klo di jalan. Kau tanya saja sama sopir2 yang laen. Makanya, sering2lah gaul sama sopir, pasti prinsipnya semua sama.

Teman : Tapi teman aku dulu pernah gitu. Dia ditahan paling cepat juga 2 taun.

Sopir : Aku juga dulu pernah ditahan, nabrak orang, aku lindas tu orang. Masuk penjara cuman 1 bulan 2 minggu. Ga lama keluarganya datang. Aku bilang saja aku ga sengaja. Kecelakaan yang aku juga ga mau sampe itu terjadi. Terus aku bayar 5 juta, bebas, sampe’ sekarang aku bisa narik lagi.
Teman : masa’ bang?

Sopir : Iya betul. Pulang2 dari penjara putih aku. Klo di sana kan di dalem terus, ga kebakar matahari. Apalagi jaman susah kaya’ gini, orang kadang sengaja mau masuk penjara. Enak dikasih makan, dikasih tempat tinggal. Dari pada luntang lantung di jalan, kelaparan.

Tepat keesokan harinya, saya menaiki angkutan dengan jurusan yang sama, tapi tentu berbeda sopir. Tak jauh dari gasibu, jalanan macet dan tampak tak beraturan. Seorang pengendara sepeda motor memotong jalan. Lalu kembali terjadi dialog antara
sopir dengan penumpang di sebelahnya :

Sopir : Wah…, kurang ajar juga tu orang, ngambil jalan seenaknya.

Penumpang : iya ya pak, gimana klo tadi ketabrak…

Sopir : Klo tadi ketabrak sekalian aja saya pukul kepalanya pake’ ini (sambil mengeluarkan sejenis besi yang tampak sangat tajam). Biar sekalian mati. Saya pukul kepalanya sampe’ keluar otaknya.

Penumpang : hehe….

Sopir : Iya serius. Untung aja dia tadi berhadapan dengan orang yang tenang (cckkk….cckk….segitu dia mengaku tenang yah…)
Penumpang : Betul pak, gimana klo tadi dia menghadapi orang yang sedang emosi.

Sopir : Iya, bisa2 mati dia. Klo saya sich gampang. Klo dia ketabrak, saya turun dan pukul kepalanya. Begitu sudah tak berdaya saya kabur. Mau cari saya kemana, pasti ga akan ketemu. Yang penting saya selamat, ga berurusan dengan rumah sakit atau polisi.

MasyaAllah…… jujur saat itu saya hanya bisa beristighfar dalam hati. Segitu murahkah harga nyawa manusia??? Jadi serem juga yach, membayangkan korbannya. Mungkin kalo mereka, atau keluarga mereka tau bahwa mereka akan ‘dihabisi’ hanya gara2 masalah rupiah, pasti mereka akan bilang “Ya sudah pak, saya ga akan minta ganti rugi sepeser pun. Yang penting biarkan kami ‘selamat’ (setelah ditabrak)”. Tapi tentu saja sopir2 itu tak memberikan kesempatan bagi para korbannya untuk memilih. Yang ada dalam pikiran mereka hanyalah bagaimana mereka bisa terhindar dari biaya ganti rugi yang begitu mahal. Bagi mereka menghilangkan satu nyawa adalah pilihan yang jauh lebih baik.
Memang sich, sekarang zaman susah. Saya juga memang tak pernah merasakan kerasnya perjuangan mereka dalam mengumpulkan materi. Tapi setidaknya, jika masih teguh iman di hati, pasti tak akan begitu mudahnya bagi mereka untuk mengambil nyawa seseorang. Bukankah ini tidak hanya sekadar perkara dunia. Ini sudah menyangkut masalah akhirat dengan segala pertanggungjawaban dan keabadiaannya.
Huuff…., entahlah siapa yang salah. Kemiskinan merekakah?? Dunia yang begitu materialistis?? Atau mungkin, peranan qta para da’i yang masih kurang menyentuh wilayah kehidupan mereka???! Banyak PeEr memang. Setidaknya ini kembali menyadarkan, bahwa begitu luas ruang da’wah. Dan mereka membutuhkan konstribusi real, bukan teori yang pasti hanya akan semakin memuakkan mereka. Astaghfirullahal’adziim..
Buat sahabat-sahabat yang mengendarai sepeda motor, berhati2lah. Karena qta tak pernah tau seperti apa kondisi dan karakter orang yang qta hadapi di jalanan. Bisa jadi kesalahan kecil yang qta lakukan memancing emosi mereka, dan mengundang mereka untuk bertindak yang mungkin bisa menghabisi nyawa qta, Na’udzubillahi mindzalik…..

Wallahu’alam bishawaab……

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Karena banyak yang mengalami kesulitan dalam mengisi komentar, berikut panduan singkatnya:
Untuk memberi komentar tanpa login, silahkan pilih 'Name/URL' pada kolom 'Beri komentar sebagai', lalu masukkan nama anda (URL silahkan dikosongkan). Kemudian masukkan komentar yang ingin disampaikan. Terimakasih

Ikhlas itu Perkara Hati

Sahabat, mari bicara tentang keikhlasan. Ikhlas adalah perkara hati, karenanya tidak ada yang berhak memberikan penilaian hanya berdasarka...