02 Juni 2011

Marketing Da’wah

Saya teringat perkataan salah seorang Murabbi terdahulu…:"qta, para aktivis dakwah ibarat sales. Produk qta adalah Islam…,sehingga segala gerak-gerik dan perkataan qta hendaknya bermuatan "promosi"…." (mungkin kurang lebih seperti itu pesan yang hendak ia sampaikan).


Hal ini pasti memang akan dirasakan oleh setiap da’i, khususnya wanita muslimah dengan balutan hijab yang konsisten menutupi seluruh auratnya. 
Betapa tidak, seorang wanita berjilbab pasti mengundang perhatian dan tuntutan "kesempurnaan" dalam segala kata dan prilaku.

Karena itu, selayaknya setiap da’i sangat berhati-hati dalam bertindak, terutama ketika berinteraksi dengan masyarakat luas.  Karena satu hal yang harusnya qta sadari ketika qta berbuat kesalahan, sejatinya qta telah menyebar aib jama’ah

Itu juga yang selalu menjadi cerminan bagi saya pribadi setelah jilbab menjadi pilihan hidup saya, terutama ketika pemahaman tentang da’wah sedikitnya saya fahami.


Masa-masa awal mendapatkan hidayah selalu menjadi hentakan ghirah yang terkadang jika tidak dikendalikan, akan menjadi semangat yang berlebihan (ekstrim), karena pada masa ini pemahaman baru di dapatkan, semangat untuk beralih dari satu "dunia" ke "dunia" lainnya begitu hebat dan tak hendak di tunda-tunda…

Mungkin ini yang dulu terjadi pada diri saya, ketika Allah berkenan menitipkan hidayah ini. "Larangan" orang tua (khususnya ibu) waktu itu untuk saya menggunakan jilbab tidak menyurutkan keinginan.  Walaupun saya tau, mungkin larangan itu lahir karena rasa khawatir orang tua akan maraknya aliran sesat yang beredar pada saat itu.

Sampai akhirnya ibu mengizinkan saya berjilbab (bermula dari rasa berat dengan berbagai pertanyaan), dan sayapun menetap di kota Bandung, untuk melanjutkan studi di sini.

Jauh dari orang tua membuat saya berfikir dan lebih arif untuk mengakui kesalahan.  Ada yang salah dengan sikap saya. Keindahan hidayah yang saya rasakan saat itu, hendaknya tidak menimbulkan rasa "curiga" terutama pada orang tua.

Harusnya saya berfikir, ketika hidayah terasa begitu indah…bagaimana caranya orang2 yang saya cintai dapat pula merasakan indahnya.  Tentu ini harus bermula dari pandangan positif mereka pada pribadi saya, baik dari segi sikap, kata-kata, prestasi kuliah, hingga segala yang saya raih.

Saat ini, Alhamdulillah….., semakin lama penerimaan mereka pada jama’ah yang saya ikuti semakin terasa.


Sikap profesional dalam segala hal pastinya sangat dibutuhkan bagi masyarakat dalam melakukan penilaian. Saya selalu berusaha membuktikan bahwa aktivitas dan organisasi yang saya ikuti tidak akan pernah menjadi benturan bagi aktivitas utama saya di mata orang tua. Prestasi kuliah yang waktu itu saya dapatkan pastinya cukup membahagiakan hati mereka.

Tidak hanya dalam lingkungan keluarga, karena tentunya qta ingin meraih simpati dan memperkenalkan keindahan Islam kepada seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari kalangan intekletual, melalui dakwah kampus dan dakwah sekolah, lingkungan kerja dalam dakwah profesi, hingga lingkungan masyarakat sekitar tempat qta tinggal.

Mereka pasti memiliki penilaian, dan simpati hanya akan hadir ketika qta mampu menjadi pribadi yang "aman", menyenangkan dan peduli.

Hingga saat ini saya masih selalu belajar bagaimana caranya menjadi "sales" yang sukses meraih hati pelanggan.  Saya sadari bahwa satu kesalahan yang saya lakukan, selalu akan menorehkan keburukan bagi citra jilbab, partai yang saya usung, atau bahkan nama baik Islam itu sendiri…

Semoga Allah selalu memberikan kemampuan bagi qta untuk menjadi pribadi pengusung dan pengangkat izzatul islam di manapun dan dalam peranan apapun saat ini qta bermain…. Selalu menjadi tim marketing yang gencar melakukan promosi, tanpa mengharapkan imbalan duniawi..,karena keyakinan akan janji balasan yang datangnya hanya dari Allah, InysaAllah………,aamiin


Sabtu, 10 Mei 2008 - Renungan akan konsekuensi hidayah dan pemahaman (tulisan jadul)

1 komentar:

  1. senang sekali bisa berkunjung ke blog anda
    sangat menarik dan bermanfaat sekali
    terimakasih banyak gan

    BalasHapus

Karena banyak yang mengalami kesulitan dalam mengisi komentar, berikut panduan singkatnya:
Untuk memberi komentar tanpa login, silahkan pilih 'Name/URL' pada kolom 'Beri komentar sebagai', lalu masukkan nama anda (URL silahkan dikosongkan). Kemudian masukkan komentar yang ingin disampaikan. Terimakasih

Ikhlas itu Perkara Hati

Sahabat, mari bicara tentang keikhlasan. Ikhlas adalah perkara hati, karenanya tidak ada yang berhak memberikan penilaian hanya berdasarka...