06 Mei 2011

Satu nama Tiga kepala

Sering kita mendengar dalam satu keluarga ada penamaan khusus. Yah.... semacam nama keluarga besar gitu deh.
Umumnya yang sama adalah nama belakang, bisa jadi nama bapak, atau memang satu nama khusus yang diberikan untuk melengkapi nama belakang seluruh anak dalam keluarga tertentu.

Tapi, gimana klo yang disamakan adalah nama depan sang anak?? Pernah denger ga?

Saya pernah...saya pernah...!!
di mana??

di keluarga saya sendiri

Yups..., saya punya empat orang kakak dan dua di antaranya adalah wanita. Uniknya, seluruh anak perempuan di dalam keluarga saya memiliki nama depan yang sama, yaitu "DIAN". Dan di antara 3 Dian, rasanya nama belakang saya yang paling 'unik'

Baik, akan saya perkenalkan satu persatu nama di dalam keluarga besar H.A.Aziz M.Isa

Kakak tertua, laki2 dengan nama "Maulvi Sayid Muhammad". Selanjutnya kakak nomor dua yang juga laki2, diberi nama "Nurul Hayatullah". Dua nama yang berbeda tapi memiliki satu kesamaan, sama2 berbau Islami... Betul kan???!!

Selanjutnya, kakak yang nomor tiga adalah wanita dan dari sinilah nama Dian bermula. Nama panjangnya adalah "Dian Kusuma Ningrum". Dilanjutkan oleh kakak keempat saya yang bernama "Dian Satia Darmawati". Apakah kalian melihat satu tema juga pada dua nama Dian ini?? Yups, rada2 jawa gitu deh.. (iya ga sih??)

And next, lanjut ke saya sendiri sebagai anak kelima dari lima bersaudara. Nama panjang saya adalah "Dian Electhresia Nusantari". Tema apa yang diusung dari nama ini??
No...no.., jangan tanyakan hal ini, karena saya juga belum pernah bertanya secara langsung... hehe. Yang saya tau, dulu ayah saya memang bersekolah di STM juruan elektro

Whatever, nama tetaplah nama yang akan selalu melekat dan menjadi identitas paling utama. Sekarang, tiga Dian dalam satu rumah...apa ga repot??
Berkaitan dengan ini, saya punya cerita menarik. Bagaimana akhirnya kesalahpahaman kecil tak dapat terelakkan

First Story
Ceritanya waktu saya duduk di bangku SMU. Pekan itu, KBM (kegiatan Belajar Mengajar) ditiadakan karena ujian semester baru saja usai. Seperti biasa, sekolah mengadakan berbagai perlombaan antar kelas, mulai dari lomba cerdas cermat, basket, volly, sepak bola, sampai dengan festival band.
Suatu pagi, saya menanti jemputan seorang teman (sebut saja namanya Farah) yang sore sebelumnya memang bermaksud untuk berangkat ke sekolah bersama. Sekitar pukul delapan kurang saya mendenger suara nenek saya sedang bercakap-cakap dengan seseorang, lalu kemudian terdengar deru sepeda motor menjauh, dan kemudian sunyi. Penasaran, saya bergegas menuju teras.

"Tadi ada yang nyari Dian!" teriak nenek begitu melihatku berada di depan pintu.
"Terus sekarang di mana?" saya bertanya.
"Ya udah pergi. Tadi dikasih tau Diannya udah lama kuliah di Bandung"
"Oalah...., itu temen saya. Dian yang dimaksud ya saya ini lho, nek"
"Ya ampun...., tak kirain Dian yang itu. Kalo kamu kan saya tau namanya Tari" (nenek dulu memang memanggil saya dengan nama ini).

Yaaah..., gagal deh nebeng ama temen. Terpaksa jalan kaki lagi

Setibanya di sekolah, saya segera mencari Farah.

"Farah, maapin yah, tadi nenek saya ga ngeh kalo cucunya yang satu ini juga namanya Dian"
"Duh.., ada-ada aja. Makanya saya heran. Perasaan kemaren janjian kok tiba-tiba katanya udah di Bandung. Mana kuliah di sana lagi"
"hehe.., maap atuh.. miss communication. Maklum, saya kalo di rumah memang terkesan ga 'berhak' pake' nama Dian"

The second
Kalo yang ini ceritanya waktu ama temen-temen kampus. Salah seorang sahabat saya (Erni) hendak menggenapkan setengah diennya. Untuk memudahkan keberangkatan, seorang akhwat (Dewi) mabit di kostan saya.
Pada hari yang bersamaan, bertepatan dengan tetehnya calon suami teteh (nah lho...lieur... ) juga akan menikah. Saya dan Dewi berniat untuk menghadiri pernikahan Erni terlebih dahulu.
jadilah pagi itu pagi yang sibuk. Teteh, saya dan Dewi masing-masing berbenah untuk memberikan penampilan yang terbaik

Berhubung teteh jadi panitia, jadi berangkatnya lebih pagi, dengan dijemput oleh calon suami. Sedangkan saya dan dewi akan berangkat bersama beberapa akhwat lain, karena mereka belum mengenal lokasi rumah erni.

Sedang sibuk-sibuknya berbenah, saya mendengar ribut-ribut di bawah (kamar saya berada di lantai 2). Tampaknya si mbo' (yang bantu beres2 di kostan)sedang berbincang dengan beberapa orang. Samar saya mendengar nama saya di sebut-sebut.

"Wi, denger ga suara orang lagi ngobrol"
"Iya sih, tapi ga jelas"
"Jangan-jangan temen kita"
"cepet banget mereka udah dateng"
"tar teteh cek dulu atuh yah ke bawah"

Di bawah, saya melihat mbo' sedang membersihkan lantai, seorang diri.

"Neng, tadi ada yang cari neng Dian. Saya bilang udah pergi"
"Waduh, jangan-jangan salah mbo'"
"Emang bener kan neng Diannya udah berangkat tadi sama calon suaminya"
"Tapi kaya'nya Dian yang dimaksud itu saya"
"Lho, emang Neng namanya Dian juga toh?" Bingung si mbo'

Bergegas saya berlari menemui Dewi

"Wi, kaya'nya mereka udah pada dateng, tapi jadi pergi lagi karena dikirainnya teteh udah berangkat"
"Waduh, kasian teh. Mereka kan ga tau rumahnya"
"Ya udah susul aja ke depan yuks. Kali aja masih ada"

Begitu tiba di depan gang, saya melihat 3 orang akhwat manis sedang kebingungan sambil membaca denah yang tertera di kartu undangan
Mungkin yang ada dalam pikiran mereka adalah "Teh Dian kok tega banget sih ninggalin kita. Khan dah janjian mo bareng"

Alhamdulillah, mereka belum sempat melaksanakan aksi nekat untuk naik angkot, hehe.
"Eh...,geuning teh Diannya ada" seru seorang akhwat begitu melihat saya dan Dewi tiba di sana.
"hehe..., afwan....afwan...,tadi salah paham"
"abis tadi katanya udah pergi duluan, sama pacaranya" (oo..oww..)
"Iya, pas lagi... Bilangnya pergi ke nikahan. Gimana ini teh?"
akhwat-akhwat itu protes.

"Iya..., saya jelaskan di kamar. Kita belum beres. Sekalian masuk lagi aja dulu yah"

Setibanya di kostan, si mbo' tampak bengong melihat saya menggandeng mereka untuk masuk kembali.
"Lho, temennya si neng tho ternyata. Tak kirain temennya neng Dian. Lha wong tadi nanyanya Dian kok" Sambil geleng2 kepala

third
"Halo om, Diannya ada?" salah seorang teman teteh menelpon
"Dian yang mana y? Dian satu, Dian dua, atau Dian tiga?" papa memberikan jawaban
"Hah.., emang Diannya ada berapa ya om??!"
haha....


So, sahabat... berminat memberikan nama depan yang sama untuk anak-anak anda?

5 komentar:

  1. makanya, usulkan bikin namanya yg unik-unik kyk nama saya.. B-) :P

    BalasHapus
  2. ckckck.. :D iya deh, gmna lagi aatuh.. masa harus bikin bubur merah bubur putih buat syukuran ganti nama??heuheu..
    *tradisi sunda*

    BalasHapus
  3. ga kok...justru bersyukur and berterimakasih sama ayah saya yg kreatif... jarang2 yg punya pikiran sekreatif beliau kan??
    berkat semua itu, saya jadi punya cerita menarik yang bisa ditulis... heuheu :P

    BalasHapus
  4. haha.. sakarepmu.. :P
    *yah, memang harus disyukuri.. semua pasti ada hikmahnya.. :D

    BalasHapus

Karena banyak yang mengalami kesulitan dalam mengisi komentar, berikut panduan singkatnya:
Untuk memberi komentar tanpa login, silahkan pilih 'Name/URL' pada kolom 'Beri komentar sebagai', lalu masukkan nama anda (URL silahkan dikosongkan). Kemudian masukkan komentar yang ingin disampaikan. Terimakasih

Ikhlas itu Perkara Hati

Sahabat, mari bicara tentang keikhlasan. Ikhlas adalah perkara hati, karenanya tidak ada yang berhak memberikan penilaian hanya berdasarka...