07 Juli 2011

Seribu Anakku


“Pergilah nak, kini kau telah dewasa, telah pantas bagimu merangkul senjata ini”.  Seorang ibu dengan tatapan ketegaran berbicara tanpa ragu dihadapan putra bungsunya.  

 “Ibu ingin kau pergi berperang.  Tunjukkan keberanianmu di hadapan zionis-zionis itu.  Wujudkan impianmu, ikuti jejak fathi kakakmu, jemputlah kemuliaan syahid.  Yakinlah bahwa Yahudi laknatullah tak ada apa-apanya dihadapan Allah, karena hanya Dialah yang Maha Besar.”  Lanjutnya seraya mamantapkan pita jihad di kepala sang anak tercinta.   

Lembut Abbas mengecup tangan ibunya.  Dengan nada yang tegar pula ia berkata,
“Ibu, sebelum aku pergi, aku ingin mengucapkan terima kasih atas segala kedisiplinan yang Ibu ajarkan.  Karena didikan tangan Ibu aku tumbuh berani dan kini siap merangkul senjata.  Karena ketegaran hati Ibu pulalah saat ini aku memiliki kesempatan terindah untuk turut serta dalam perjuangan suci ini.  Terima kasih Ibu, sungguh aku tak pernah mengkhawatirkan kesendirian Ibu sepeninggalanku nanti, karena aku yakin Ibu masih memiliki pelindung yang menguasai sumber segala kekuatan.  Doakan Ibu, agar Allah meridhoi apa yang kita usahakan.  Semoga Allah kembali mempertemukan kita dalam suatu keindahan hidup di JannahNya.”   
Abbas kemudian perlahan melepas tangan sang ibu, lalu melangkah dengan kemantapan ‘azzam untuk memasrahkan hidupnya demi perjuangan fisabilillah.

Dengan penuh keyakinan Abbas melakukan aksinya.  Terbayang di benaknya kematian ratusan rakyat Palestina akibat kebiadaban Israel beberapa waktu lalu.  Kemenangan Palestina adalah impiannya.  Sungguh dunia telah menjadi hina baginya.  Bagi Abbas, kenikmatan dunia hanyalah tipuan, dan akhiratlah tempat kehidupan yang sesungguhnya.  

 “Allah, tiada yang aku harapkan dari amalku ini selain rahmatMu.  Teguhkan keyakinan hamba, buanglah segala keraguan, serta peliharalah kesungguhan niat di dalam hati ini agar tak berpaling dari keikhlasan semata-mata hanya untukMu.”   

Tak berapa lama setelah itu, Abbas menemui ajal bersama terwujudnya cita-cita tertinggi dalam hidupnya.  Ia tersungkur dalam mulianya syahid.

Syahidnya Abbas kini sampai kepada telinga sang ibu.  
 “Alhamdulillah, Ya Allah terimalah amal Abbas putraku.  Izinkan perjuangannya agar dapat membawa pencerahan bagi bangsa ini.”  Tanpa penyesalan dan tetap dengan penuh ketegaran ia meraih foto Abbas.   

“Dengarlah nak, sungguh kau telah membuat Ibu bangga.  Kau bener untuk tidak mengkhawatirkan kesendirian Ibu.  Sesungguhnya, seandainya Ibu mampu melahirkan seribu adik-adikmu, tak akan Ibu biarkan mereka tumbuh kecuali dalam keberanian semata-mata untuk Ilahi.  Dan ketika mereka dewasa, akan Ibu biarkan mereka mengikuti jejakmu, menjadi pejuang dan melawan penjajah Israel demi terwujudnya kemerdekaan bagi bangsa kita, Palestina.”

-Kampus, 2005-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Karena banyak yang mengalami kesulitan dalam mengisi komentar, berikut panduan singkatnya:
Untuk memberi komentar tanpa login, silahkan pilih 'Name/URL' pada kolom 'Beri komentar sebagai', lalu masukkan nama anda (URL silahkan dikosongkan). Kemudian masukkan komentar yang ingin disampaikan. Terimakasih

Ikhlas itu Perkara Hati

Sahabat, mari bicara tentang keikhlasan. Ikhlas adalah perkara hati, karenanya tidak ada yang berhak memberikan penilaian hanya berdasarka...