18 Januari 2012

RINGTONE

            "Sya'tisy syajaaru nadqal hajaru, syuqqal qamaru bi isyaratihi...”

Lantunan merdu Zamzam yang menjadi nada dering hp GW 300 ku memecah keterdiaman.  Biasanya suara remaja 14 tahun yang juga qari internasional itu syahdu memanjakan gendang telinga, tapi tidak kali ini.  Pasalnya, sepasang mata yang terarah dari seberang tempatku duduk menjelma belati yang menikam nyali.  Dering tadi pastilah mencuri perhatiannya.

Mobil jurusan caheum cileunyi meluncur lancar, karena jam macet memang telah berlalu.  Kuperkirakan saat ini telah melampaui pukul sepuluh.  Di segala sisi hanya sesekali kendaraan menderu dalam kecepatan tinggi.  Parahnya, jok belakang kendaraan berplat kuning ini hanya menyisakan dua penumpang, aku dan seorang lelaki muda yang kini menatap penuh selidik.  Ah, menyesal terlalu menunda kepulangan, padahal pertandingan volly persahabatan telah bubar sejak pukul lima sore tadi

            Sebelumnya, arakan awan yang mengiringi benaman matahari tak berhasil mengangkat alam sadarku untuk bergegas.  Usai menuntaskan kewajiban dalam sujud senja di mushala sekolah, Astri berniat mentraktrir baso bakar. Traktiran mana coba yang sanggup kutolak?  Saat detak jam melesat dari angka sembilan barulah jiwa tersentak.  Arah Dago ke Cinunuk berkendaraan angkutan umum pasti sangat melelahkan, dengan raga yang menyisakan sedikit saja energi.

“Sya'tisy syajaru nadqal hajaru, syuqqal qamaru bi isyaratihi..."

Lamunanku terpotong.  Kembali ringtone hp berteriak, menuntut jawaban.  Tangan dan mataku otomatis kompak berbagi tugas.  Merogoh hp, sambil jeli mengawasi.

"Masih di Ujungberung."  Setelah obrolan singkat diakhiri, cepat aku menyimpan hp hingga bagian paling dalam.

 

***

            “Hayu atuh Din temenin belanja, tar dianterin deh pulangnya.”  Disya yang meski sama-sama masih menjadi penghuni kelas XI telah dipercaya mengendarai mobil sendiri.  Maklumlah, orang tuanya memang tajir.

            “Ga ah Ca, bentar lagi aku pulang.  Belanja sama kamu mah sok lama.”  Sebuah penolakan yang kini kusesali, karena nyatanya justru aku yang hingga tengah malam masih menumpang dalam angkot, berbalut seragam putih abu-abu yang tak jua berganti.

            Pikiranku berontak saat diajak berhenti dari perandaian.  Seandainya tadi ikut Disya, seandainya tidak terlalu larut dalam obrolan di warung baso bakar, seandainya tadi menyempatkan untuk menyembunyikan dering hp sebelum naik angkot.  Tiba-tiba petuah mama mengiang, mengejek perlawananku selama ini.

            “Nadin, kamu teh perempuan.  Pamali anak gadis malem-malem keluyuran di luar.  Abis dari sekolah teh langsung pulang atuh, jangan ke mana-mana dulu.”

            Kini aku harus menanggung akibat dari kepala batu, duduk dalam posisi serba tak nyaman karena didera beragam prasangka.

            Aku mencuri pandang ke sosok di depanku.  Tampangnya lumayan dan berpendidikan.  Tapi penampilan tak selalu bergaransi.  Bisa saja dia maling, rampok, atau … pemerkosa!    Mendadak mataku berkunang, menatap peristiwa dalam dunia khayal yang kuciptakan sendiri.  Kelam yang sempurna mengantarkan angin justru kian deras mengucurkan keringat, berdesakan dari sela-sela kerudung yang kukenakan.

 

***

            “Ehhm….”  Dehemannya membuatku mengeratkan cengkaraman pada tali tas yang kubawa.  Pelan aku menuju kursi dekat pintu.  Tapi ia turut bergeser, mengambil tempat hingga tepat di seberangku, di belakang supir.

            “Dari sekolah mana, Dek?”  Untuk pertama kalinya sapaan itu keluar.

            “SMUNSA Bandung, Kak.”  Kulirik pak supir masih tenang mengemudi.  Tapi, jangan-jangan mereka bersekongkol.

            “Kok baru pulang? Ada acara ya di sekolahnya?”

            “Iya, tanding persahabatan antar kelas.”

            “O, rame atuh ya?  Dek Nadin ikutan tanding apa?”  Duh, pasti ia membaca label nama pada seragamku, yang jelas memajang tulisan “Nadin Karimah”.

            “Saya ga ikutan, Kak.  Tadi nonton aja.  Tanding putri baru lusa.”  Nadin, Nadin, kenapa juga pake’ ngobrol sok akrab.  Ga takut apa dihipnotis.  Gerutuku dalam hati.

            “O gitu?  Sekarang pulangnya ke mana?”  Posisinya menyeberang, merapat tepat di sampingku.  Sementara itu mulutnya tak henti dari basa-basi.

            Merasa tak nyaman, cepat aku meminta pak supir menepi, menghentikan laju kendaraan di tengah perjalanan yang memuat beberapa pertokoan.  Bukannya berhenti, supir itu kian menginjak gas.  Aku tersentak saat lelaki di sampingku menyeringai sambil berusaha meraih tas yang sekuat tenaga masih kupertahankan.

            “Tancap terus Pak, ngebut!  Jangan kasih kesempatan kabur!”  Tas milikku akhirnya beralih posisi, meninggalkan pertahananku yang tak lagi mampu menjaganya.  Mataku menerobos sisi luar pintu.  Kecepatan mobil makin gila, tak memberikan peluang bagiku untuk melompat.  Ngeri membayangkan jika aku memaksakan diri terpental ke jalanan.

            “Dek Nadin manis sekali ya.  Kelas berapa sih kalo boleh tau?”  Setelah menjarah benda berharga dari dalam tas, tangannya kini membelai pipiku.  Posisiku kian terjepit.  Bergeser sedikit saja dapat dipastikan akan membuatku terjungkal ke luar.

“Ditanya kok diem aja? Mau Kakak anterin sampe’ rumah?”  Wajahnya mendekat, menyisakan sekian senti saja dari wajahku.  Kurasakan mataku kini berkabut.

“Kebanyakan dari kejahatan berlaku di malam hari.  Sangat rawan, terutama bagi wanita.”  Kata-kata Teh Endah, kakak mentorku di sekolah mengiang.

Itulah mengapa sebaiknya wanita jangan keluyuran malem-malem.  Kalo’pun harus keluar, jangan sendirian.  Lebih bagus kalo’ ditemenin sama muhrimnya.”

Ya Allah, aku mengaku salah.  Tapi sudilah kiranya Engkau membebaskan aku dari cengkraman manusia laknat ini.  Aku kalut, sementara tangan terus berjuang menepis sentuhan kian liar yang membuatku muak.

“Langsung aja bro!  Ga perlu ditanya!”  Pak supir memajukan kendaraan dalam laju yang tak normal.  Mobil itu sebentar oleng ke kiri lalu ke kanan, sesuka hatinya.

Aku mengupayakan sisa tenaga.  Berhasil, ia terjatuh hingga sudut belakang.  Tapi celaka, sebentuk senyum kini lenyap dari parasnya, melempar ekspresi bengis dan mengerikan.  Kulirik kembali arah jalan yang kian mengecilkan keberanian.  Tak ada pilihan, aku harus melompat meski pulang tinggal jasad.  Mati demi mempertahankan kehormatan jauh lebih mulia daripada harga diri harus tercabik.

“Allahu akbar!!”  Teriakanku menyentuh wilayah kaget dua lelaki itu.  Mobil berhenti tak beraturan.  Cepat supir itu turun, mendapati tubuhku yang bersimbah darah.

 

***

            “Neng!”  Satu suara membawaku pulang ke dunia nyata.  Tersentak aku menyadari jasadku masih menempel pada jok belakang.

            “Eh, iya Pak!”  Setengah berteriak aku menjawab sapaan supir.

            “Si Eneng, ditanya malah diem aja.  Mau turun di mana Neng?”

            “Hmmh, di cinunuk Pak.”  Kutatap lelaki di hadapanku mengulum senyum.

            MasyaAllah, hanya lamunan.  Aku bersyukur, meski kelegaan tak seutuhnya menjadi milikku.  Belakangan berita memang marak menayangkan kasus pemerkosaan di dalam angkot.  Dan aku kini pada posisi yang sangat tidak menguntungkan.

            Perlahan aku mendekati pintu.  Meski sekuat tenaga kukerahkan pikiran ke arah positif, tetap saja praduga tak ingin beranjak.  Kuperhatikan posisi kini telah melewati bundaran cibiru.  “Syukurlah, sebentar lagi.”  Batinku.  Namun tiba-tiba lelaki itu bergeser, hingga tepat duduk pada kursi di belakang supir.

“Kiri Pak.”  Sebelum terlambat, pikiranku memaksa untuk bertindak.

            “Lho, katanya di cinunuk Neng.  Ini masih cibiru.”  Mobil tak juga berhenti.

            “Iya Pak, di sini aja.”  Kian ciut nyali rasanya, membayangkan praduga yang semakin berarak sempurna.  Untunglah kemudian mobil menepi dan berhenti.  Secepat kilat aku melesat keluar.

Tapi rasanya bagai tersengat listrik.  Lelaki itu, lelaki yang kuhindari hingga rela turun jauh dari tempat seharusnya, ternyata turun di tempat yang sama.  Meski samar masih dapat kuyakinkan bahwa tatapannya mengarah padaku.  Astaghfirullah.

 

***

            Gerbang Perumahan Permai Hijau masih sekitar 75 meter ke depan.  Setelah menyeberang, aku memacu langkah sembari mengeluarkan hp untuk minta dijemput.  Malangnya, pulsaku minim untuk membuat panggilan.  Sambil melangkah aku memainkan jemari, mengetikkan kata-kata paling singkat.

Telingaku menangkap suara langkah yang juga tergesa dari arah belakang.  Setengah berlari aku menyusuri jalanan sepi itu, sambil mulut tak henti berkomat-kamit.  Layar hp menayangkan waktu pada angka 22.54.  Langkah di belakangku kian merapat, hingga hembusan angin dari gerakannya bahkan sanggup kurasakan.

            “Assalamu’alaikum, Dek.”  Tunggu, ia mengucapkan salam?  Tidak, kini preman sekalipun seringkali mengucapkan salam saat menggoda gadis berkerudung.

            “Punten Dek.  Boleh nanya ga?”  Lelaki itu kian mendekat hingga hampir mensejajari posisiku.  Jelas sekali ia kepayahan menyeimbangi langkahku.

            “Iya?”  Kujawab sapanya, meski mata dan kaki tetap konsisten dalam tugasnya.

            “Tadi itu, suara hpnya.  Ehmh, maksudnya itu tadi lagu, eh salah, shalawatannya Zamzam ya?”  Belepotan bahasanya.  Entah bingung, atau karena terlalu lelah.

            Reflek kakiku terdiam, mengacuhkan perintah akal yang meminta terus berlari.  Kini penasaran berhasil membelokkan tatapanku.  Aku memandang wajahnya yang berbalur keringat.  Nafasnya tersengal, namun sebentuk senyum berusaha ia edarkan.

            “Punten, tadi saya denger ringtonenya.  Saya tau, maksudnya saya pernah denger lagu, eh shalawat itu.  Suaranya juga hafal.  Ehmh maksudnya, suaranya bagus, mirip suara Zamzam.  Bener tadi itu suara Zamzam?”  Ia mengulang dengan kalimat lebih panjang, meski masih saja belepotan.

            “Ehmh, kalo boleh tau, dapet darimana ringtonenya?  Nyari-nyari di internet kok ga nemu ya? Lagu, eh, CDnya aja kan ga dijual bebas.  Kok kamu dapet, maksudnya, bisa punya ringtonenya?  Saya suka banget sama suara, eh, shalawat versi Zamzam.”

            Entah berapa ulangan kalimat yang meluncur.  Namun suaraku terkecal, tak menggubris satupun kalimat berantakan dari bibirnya.  Aku bahkan lupa sedang berdiri tengah malam di sisi jalanan sepi, bersama lelaki asing.  Aku juga tak terlalu perduli terhadap ekspresi wajahku sendiri yang menganga, menyaksikan lelaki yang sedari tadi kutakuti kini ternyata begitu gugup saat berhadapan denganku.  Dan ia, lelaki yang nyaris mencabut dan menghentikan tugas jantungku kini memelas, demi memohon transferan ringtone via bluetooth, tak lebih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Karena banyak yang mengalami kesulitan dalam mengisi komentar, berikut panduan singkatnya:
Untuk memberi komentar tanpa login, silahkan pilih 'Name/URL' pada kolom 'Beri komentar sebagai', lalu masukkan nama anda (URL silahkan dikosongkan). Kemudian masukkan komentar yang ingin disampaikan. Terimakasih

Memeluk Kenangan

Saat aku mencoba melupakan namun gagal, Saat itulah aku memutuskan untuk berhenti melupakan. Berdamai. Merangkai kisah dalam ...