07 Juni 2012

Merayakan 10 tahun, Hijab Pilihan Hati

7 Juni 2002 - 7 Juni 2012
10 tahun sudah....

Terkenang masa sepuluh tahun silam, saat niat kuat untuk menutup aurat ternyata tak serta merta dapat direalisasikan.  Perjuangan saya memang tak seberat muslimah di era 1980-an atau 1990-an yang harus berhadapan dengan pihak petinggi sekolah, ayah yang seorang aparat negara, dan lain sebagainya.  Sebagian ada yang harus mati-matian mempertahankan keteguhan prinsip, karena terlalu dicurigai.  Tidak, zaman saya perjuangan tidak lagi seperti itu, karena Alhamdulillah jilbab telah dapat diterima oleh masyarakat luas.

Tapi kendala tetap ada.  Bulan Mei 2001 hidayah menghampiri, namun saya baru resmi menggunakan jilbab pada Tanggal 7 Juni 2002.
Saat itu saya berfikir mungkin Allah hendak menguji kesungguhan hati.  Karena dengan demikian saya dapat lebih menyelami ketulusan niat.  Karena apakah saya berhijab?
Saya mempunyai masa satu tahun untuk jujur pada diri sendiri, sekaligus memantapkan kembali apa yang telah menjadi pilihan jiwa saat itu.
Lebih dari itu, dengan sedikit perjuangan pastilah akan menjadi kenangan demikian indah, sehingga hidayah akan dihargai, begitu mahal dan tak ternilai.  Ibarat suatu benda yang didapatkan dengan susah payah, pasti akan dijaga hingga tetes keringat penghabisan (he he).
Yah, tak akan mudah dan tak akan rela kita melepas sesuatu yang telah kita raih dengan berpayah-payah.  Setuju?

Bermula dari perkenalan dengan kumpulan remaja masjid dalam sebuah organisasi Islam di masjid Alfalah Pangkalpinang Bangka, yang menamai dirinya KASPI (Kesatuan Aksi Solidaritas Pemuda Islam) pada pertengahan Mei 2002 lalu.  Hidayah dari Allah datang saat saya sedang mengikuti acara Mabit yang mereka adakan.  Beberapa pengurus KASPI yang masih saya ingat di antaranya adalah: Endra Gunawan (Bang Een), Hendi Kurniah (Bang Hendi), Kemas Mahmud (Kak Amut), dan beberapa teman Rohis satu sekolah seperti: Imam Mualimin, Andri Kurniawan, Ridho Alzulami, Indrayani, Herlina, serta beberapa nama lainnya.

Mungkin tak perlu saya jelaskan perjalanan acara hingga mengapa akhirnya hidayah dapat saya raih.  Pun apa yang melatarbelakangi saya sehingga 'terpaksa' berkecimpung dalam kegiatan tersebut.  Bukan, bukan karena lupa.  Sungguh kronologis kegiatan hari itu masih lekat merekat dalam ingatan saya.  Hari yang begitu spesial dan mampu melecut suatu perubahan yang cukup serius.  Tidak akan saya lupa pada moment bersejarah semacam itu.  Tapi rasanya terlalu panjang jika harus dituliskan di sini.  (He he, jadi maaf ya.  Takut yang baca juga bosen).

Intinya, usai mengikuti acara saya merasakan sesuatu telah menyentuh jiwa saya.  Keinginan untuk menutup aurat demikian mantap dan tak hendak ditunda-tunda.  Namun kendala utama saat itu adalah belum adanya restu dari ibu.  Ah, sedih nian rasanya saat keinginan hati ternyata tak kunjung mendapat dukungan.
Entahlah karena alasan apa.  Ibu hanya mengatakan tak ingin saya mendapatkan kesulitan saat nanti memasuki dunia perkuliahan, lebih jauh lagi dunia kerja.  Alasan yang pasti terlahir dari kekhawatiran dan ketulusan hati seorang ibu terhadap langkah anaknya.  Selain itu, maraknya aliran sesat yang berdengung pada masa itu tentu mengundang keresahan yang kian mendalam.  Mungkin ibu tak ingin saya salah arah.

Apapun alasannya, yang perlu saya lakukan hanyalah pembuktian.  Yah, saya harus buktikan pada ibu dan seluruh anggota keluarga bahwa saya serius dan bukan sekedar ikut-ikutan (toh masa itu jilbab memang belum terlalu menjadi trend).  Saya rajin mendengarkan ceramah dan kaset nasyid serta membaca buku-buku Islam.  Tak jarang saat keinginan demikian memuncak, saya akan coba bicara lagi, mencoba menegosiasi tentang kapan waktunya saya boleh menutup aurat.

Satu tahun bukan masa yang pendek untuk sebuah penantian.  Sering saya menangis dalam munajat dan dua rakaat shalat dhuha.  Satu hal yang paling saya khawatirkan saat itu adalah, ditariknya kembali hidayah dari hati saya.  Sangat mungkin lelah dan putus asa akhirnya membuat saya kembali mengubur harapan, melupakan impian untuk selama-lamanya.  Karena itu pula saya kian akrab dan tak hendak jauh dari mereka anak-anak rohis.  Lingkungan kondusif serta motivasi positif sangat saya butuhkan, agar niat yang pernah tertanam tak lagi layu atau mati.

Dalam masa itu, beberapa teman tanpa diduga mendahului saya yang telah lama menyatakan keinginan dalam menutup aurat.  Campur aduk rasanya.  Bahagia atas hidayah yang menyapa mereka, namun juga sedih karena lagi-lagi saya 'kalah'.  Sering saya bertanya, apakah saya memang tak pantas mendapatkan hidayah itu.  Kian risau rasanya membayangkan aurat yang masih tak tertutup sempurna, sementara diri telah menyadari akan konsekuensi dan hukumnya.  Entah berapa kali saya coba merayu saat itu, berharap izin akan segera turun.  Keinginan untuk menggunakan jilbab tepat pada kenaikan kelas sudah saya kubur, karena sesuai perjanjian, izin baru saya kantongi saat telah menempuh pendidikan di bangku kuliah.

Ah, panjang memang kisahnya.  Tapi pada akhirnya, dengan sedikit 'memaksa' saya pun mengenakan jilbab tepat pada hari Jum'at, tanggal 7 Juni 2002.  Saat itu kelulusan telah diumumkan.  Ibu yang semula masih berat dan tetap berharap saya baru berjilbab saat telah menikmati bangku kuliah di Bandung, akhirnya membolehkan.  Terlalu khawatir hati ini jika tak menyegerakan niat, menunda hingga tiba di Bandung.  Jauh dari teman, bertemu lingkungan baru, tak menjamin saya akan tetap teguh menjaga kesungguhan.  Kekhawatiran ini yang membuat saya bersikeras untuk memakai jilbab sebelum berangkat ke Bandung.
Masih ingat saat itu, berbekal rok hibahan dari Herlina saya menyelesaikan pengurusan ijazah (karena memang tidak memiliki rok seragam panjang).

Alhamdulillah.  Saya sangat bersyukur.  Dan begitu terasa, bahwa begitu mahal dan berharganya hidayah ini.  Miris rasanya hati saat sempat melihat teman-teman yang mulanya telah lebih dulu berkomitmen, sedikit demi sedikit mulai tak lagi memperhatikan sisi syar'i dari hijabnya.  Padahal dari merekalah saya banyak belajar serta mendapatkan lecutan semangat.

Tidak hanya mereka.  Beberapa muslimah pun saya temukan mulai berani mengurangi nilai-nilai syar'i dari sebuah hijab.  Sayang,  sangat disayangkan.
Entahlah, mungkin memang masih sebatas itu yang mereka pahami.  Jilbab baru sebatas mode dan ikut-ikutan.

Untuk para muslimah dan jilbaber, semoga Allah selalu memelihara ketulusan hati dan kesungguhan niat.  Berharap agar istiqomah hingga meraih husnul khotimah.  Memohon agar dapat teguh memegang prinsip, hingga akhir usia.  Dan saya meminta agar sebaik-baik usia, ada pada akhirnya.
Aamiin.

SELAMAT 10 Tahun, For my Hijab ^__^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Karena banyak yang mengalami kesulitan dalam mengisi komentar, berikut panduan singkatnya:
Untuk memberi komentar tanpa login, silahkan pilih 'Name/URL' pada kolom 'Beri komentar sebagai', lalu masukkan nama anda (URL silahkan dikosongkan). Kemudian masukkan komentar yang ingin disampaikan. Terimakasih

Ikhlas itu Perkara Hati

Sahabat, mari bicara tentang keikhlasan. Ikhlas adalah perkara hati, karenanya tidak ada yang berhak memberikan penilaian hanya berdasarka...