01 September 2015

Menikmati nikmatNYA

Assalamu'alaikum sahabat wafiyyatunnisa's site

apa kabar?

Sudahkah kita bersyukur hari ini?

Apa? Nggak ada hal yang perlu and bisa untuk disyukuri??
Hhmm..., that's impossible!

Ok, saya mau berbagi sedikit cerita.  Tentang pengalaman yang sebenarnya sudah cukup lama, tapi ternyata baru bisa (sempat) saya tuliskan sekarang.

Semoga bisa sedikit memberikan inspirasi.

___________________
___________________

Sore itu, seperti sore-sore di setiap akhir pekan, saya melakukan perjalanan menuju cinunuk.  Yak, dulu sebelum pindah dan menetap di rumah sendiri, saya memang masih tinggal di sebuah kos-kosan di kawasan tamansari.  Pulang ke rumah hanya pada akhir pekan saja (judulnya sih mudik :D).

Sebelum pulang dan memasuki kawasan yang jauh dari kota (hihi), saya biasanya suka mampir ke beberapa tempat, entah itu ke pusat perbelanjaan, melihat pameran, atau sekadar bertandang ke toko buku.  Untuk jalan-jalan seperti ini, saya sudah terbiasa sendiri (kecuali pergi makan dan nonton, yang rasanya wajib dan kudu harus ada temennya).

Tetapi, agenda tandang bertandang saya sore itu menjadi sedikit terganggu karena bawaan yang lumayan merepotkan.  Layaknya orang mudik (meski hanya jarak bandung-cinunuk), saya membawa beberapa keperluan khususnya untuk dikenakan pada hari senin.

Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya rencana berkunjung ke beberapa tempat terpaksa saya batalkan.  Karena saat itu saya pergi menggunakan angkot, terbayang repotnya menyandang tas kiri kanan, lalu jalan-jalan sendirian.  Masalah kecil memang, tetapi cukup mengganggu.


Sepanjang perjalanan di dalam angkutan kota saya masih menyesalkan keadaan.  Andai saya pergi naik mobil, tidak akan saya dipusingkan oleh bawaan yang bejibun.  Tinggal simpan di bagasi, dan saya bisa melenggang santai mencari apapun yang saya butuhkan.
Belum lagi kondisi angkot yang penuh sesak dan kurang bersahabat, rasanya semakin merepotkan memangku bawaan.  Cuaca sore yang lumayan panas pun kian mendramatisir pengandai-andaian saya saat itu.

Melewati kawasan caheum (saya sudah menaiki angkot kedua), tiba-tiba angkot berhenti hendak menaikkan penumpang.  Saya terdiam melihat seorang wanita duduk di atas kursi roda, sedang berusaha menggapai sisi pintu angkot.  Tertatih ia naik.  Seorang lelaki segera tanggap menggapai kursi roda yang masih tertinggal di luar, membantu melipatnya, dan meletakkannya di hadapan wanita tadi, yang baru berhasil duduk.

Teguran.  Seketika saya beristighfar di dalam hati.  Bayangkan, jika hanya karena repot membawa 'sedikit' bawaan di dalam angkot saja saya sudah sempat mengeluh, lalu bagaimana wanita tadi tetap dapat tersenyum.  Bukankah ia lebih pantas untuk mengeluh?

Dengan segala keterbatasan fisik, ia harus repot membawa kursi roda yang tidak ringan, di dalam kendaraan umum.  Hari itu masih ada yang tanggap dan berbaik hati memberikan pertolongan.  Tetapi apakah setiap hari dunia akan bersahabat? Kondisi angkutan kota juga tidak selalu lapang dan nyaman.  Ah, sungguh, bawaan saya tiba-tiba terasa menjadi begitu kecil dan ringan jika harus disandingkan.

Wanita tadi, berpergian seorang diri.  Mungkin sebatas untuk sebuah kebutuhan 'wajib'.  Pastilah ia pergi bukan sekadar untuk jalan-jalan, apalagi hanya untuk pergi bertandang ke mall ataupun sebuah toko buku.  Tak terpikirkan mungkin.  Pernahkah ia mengeluh?  Sementara saya?

Melewati kawasan ujung berung, wanita tadi memberi kode berhenti.  Seorang bapak kembali membantu menurunkan kursi roda, sementara wanita itu turun dan berjalan dengan bantuan kedua tangannya, menyusuri bagian lantai angkot.  Tiba di sisi pintu, bapak tadi menuntun wanita itu menuju kursi roda.  Setelahnya, ia masih sempat menyunggingkan senyuman seraya mengucapkan terimakasih.

Angkot kembali melaju, membawa saya yang tiba-tiba merasa malu.  Pikiran saya penuh dengan penyesalan.  Mengapa harus mengeluh, sementara nikmat yang Ia berikan ternyata masih jauh lebih banyak.

Ya sahabat, terkadang kita merasa menderita, bukan karena tidak adanya karunia.  Kita seringkali tanpa sadar hanya fokus pada sedikit kekurangan, kondisi tidak nyaman, dengan mengabaikan limpahan nikmat yang kita anggap adalah hal biasa.

padahal bisa jadi, hal sepele yang seringkali kita abaikan, adalah impian sederhana dari sebagian manusia di sekitar kita.

Tak jarang kita lupa untuk bersyukur, karena hati dipenuhi oleh keluhan akan hal-hal yang memang tak selalu sesuai harapan.

Terkadang, ada begitu banyak nikmat yang belum bisa kita nikmati, hanya karena hati kita memang menolak untuk menikmatinya.



"maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah, yang kamu dustakan?" (Q.S. ar rahman:13)

____________________
____________________


Ok sahabat, ini ceritaku hari ini.

Kamu, apa ceritamu hari ini?



Regards,



Wafiyyatunnisa Asy Syu'lah









3 komentar:

Karena banyak yang mengalami kesulitan dalam mengisi komentar, berikut panduan singkatnya:
Untuk memberi komentar tanpa login, silahkan pilih 'Name/URL' pada kolom 'Beri komentar sebagai', lalu masukkan nama anda (URL silahkan dikosongkan). Kemudian masukkan komentar yang ingin disampaikan. Terimakasih

Ikhlas itu Perkara Hati

Sahabat, mari bicara tentang keikhlasan. Ikhlas adalah perkara hati, karenanya tidak ada yang berhak memberikan penilaian hanya berdasarka...