23 Februari 2009

Mencontek....,dapatkah budaya ini dimusnahkan..??!

Pekan kedua dalam UTS semester II di Unpas. Saya jadi teringat situasi UTS dan UAS pada semester I kemaren, sangat memprihatinkan. Kerjasama, membuka catatan ‘terlarang’, menulis catatan pada kursi ujian, hingga teknik melihat jawaban via hp begitu populer dan dilakukan oleh mayoritas peserta ujian saat itu. Saya tak mengatakan semua peserta, karena memang masih ada beberapa mahasiswa yang menjaga komitmen untuk tetap berusaha dengan hasil pikirannya sendiri. Tapi tetap saja, kelompok pertama adalah yang menjadi dominan.

Hampir di setiap ujian, saya melihat peserta yang duduk di depan saya, di samping kiri kanan saya, hingga di beberapa posisi yang mampu saya jangkau dengan penglihatan saya, melakukan tradisi ‘kebanggaan’ mereka ini. Saya yakin, sangat yakin, pengawas ujian saat itu bukan tak melihat perilaku ini. Akan tetapi, sangat disayangkan kenapa mereka seakan kurang peduli dengan situasi yang terjadi. Entah karena kurang begitu penting bagi mereka, karena tidak ingin di cap terlalu kaku, atau karena alasan-alasan lainnya.

Bersyukur juga masih ada satu dosen yang peduli dengan aturan-aturan semacam ini. Begitu disiplin, mulai dari absensi kuliah, hingga pengumpulan tas dan segala yang tidak berhubungan dengan ujian di depan kelas. Saya bisa merasakan, ujian saat itu begitu tenang. Hanya beberapa yang masih tetap melakukan kerjasama antar sesama peserta. Tapi dosen seperti ini hanya ada satu saat semester I kemaren. Sehingga selebihnya…..

Saya jadi berfikir, mungkin alasan kenapa mayoritas peserta melakukan tradisi ini adalah karena terlalu lelah, bekerja dari pagi hingga sore, dan tak ada lagi waktu untuk belajar. Tapi bukankah memang mayoritas mahasiswa di sana adalah pekerja, termasuk saya, beberapa akhwat lainnya, juga segelintir mahasiswa yang saya katakan tadi masih tetap memegang teguh komitmennya...? Semuanya sama-sama bekerja, dan memang hampir tak ada waktu untuk belajar. Boleh dikatakan, waktu belajar saya selama UAS kemaren hanyalah waktu yang tersisa di malam hari sepulang kuliah (klo ga ketiduran karena terlalu lelah :P), saat jam makan siang di kantor (jika saya sedang shaum), dan ketika pulang kerja, beberapa saat sebelum ujian di mulai. Saya justru heran, harusnya karena terlalu sibuk dan ‘kekurangan’ waktu, tak ada juga waktu untuk menulis catatan-catatan kecil yang akan digunakan sebagai senjata pada saat ujian. Tapi kok untuk hal yang satu itu, mereka seakan dapat meluangkan waktu khusus yach..???!!

Memang hal ini telah menjadi tradisi, karena justru kita yang tak mengikuti budaya ini seolah tampak aneh dan terlalu ‘polos’. Seakan memang hal ini telah disahkan dan sangat boleh untuk di lakukan (meski saya sendiri tidak mengerti, entah dari mana datangnya pengesahan itu).

Curhatan beberapa akhwat juga senada dengan apa yang ada dalam hati dan pikiran saya. “Kenapa sich, pengawasnya kok diem aja, padahal udah tau banyak yg nyontek…”, “…heran, baru juga ujian dimulai, udh langsung buka-buka catatan…”, ”…ini g adil, saya g suka…”, atau penyataan-pernyataan kekesalan lainnya. Mungkin tidak terlalu menjadi kekesalan saat nilai orang-orang yang jujur dalam ujian dengan mereka yang tidak jujur adalah sama atau bahkan lebih tinggi. Tetapi ketika nilai mahasiswa yang berusaha dengan kerja otaknya sendiri ternyata lebih rendah, tentu ada sedikit perasaan kesal dan kecewa.

Saat UTS hari pertama kemaren, saya datang terlalu di awal waktu. Di dalam kelas saya melihat banyak mahasiswa yang sudah menempati posisi kursi sesuai dengan nomor yang telah ditetapkan. “rajin juga mereka…” pikir saya. Tetapi begitu saya perhatikan lebih teliti, sebagian mereka sibuk menuliskan catatan-catatan pada kursi ujian, ataupun pada kertas-kertas kecil. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala, “Ooo… jadi ini toh yang membuat mereka ‘rajin’ dan merasa harus tiba di ruang ujian jauh sebelum ujian dimulai…?! :O”.

Satu senjata yang cukup menenangkan saya dan teman-teman lainnya adalah, keinginan untuk mendapatkan ridho Allah dalam segala urusan, termasuk kuliah dan ujian, serta keyakinan akan adanya pertolongan Allah, di atas segala ikhtiar yang telah dilakukan. Dari awal tentu kita telah meniatkan, bahwa kuliah adalah bagian dari ibadah pada Allah, yang tentu ingin mendapatkan pahala ibadah pula. Saya tidak yakin bahwa Allah ridho dengan apa yang diusahakan oleh mereka yang menempuh jalur ‘kiri’ dalam ujian, meski mereka mengatakan bahwa itu pun adalah bagian dari ikhtiar mereka.

Memang nilai adalah hal yang penting, karena memang inilah standar yang akan dicantumkan dalam ijazah nantinya. Tapi, apakah mereka tak ingin cantuman nilai itu menjadi memori indahnya usaha dan kerja keras, buah pikirannya, hasil kerja otaknya, dan bukannya malah memberi kenangan tentang “keberhasilan” mereka dalam menyusun strategi mukhtahir dan terbaik dalam mencontek..?! apakah ada kepuasan terhadap rentetan nilai-nilai A,B (syukur-syukur ga dapet C or D, kasian banget klo pun iya) jika ikhtiarnya adalah dengan cara seperti ini…?!

Teruntuk akhwat fillah, serta beberapa teman yang masih terus berjuang menjaga komitmen kejujurannya, tetaplah istiqomah. Kenapa kita masih bertahan..??! karena kita masih punya rasa malu, terutama malu kepada Allah SWT. Apakah mereka yang hobi mencontek sudah berkurang rasa malunya..?? entahlah…. Hanya mereka sendiri yang berhak memberikan jawaban.

Satu hal lagi. Situasi ini setidaknya menjadi gambaran bagaimana mayoritas mahasiswa Indonesia pada umumnya. Ini adalah masalah kejujuran. Jika untuk hal seperti ini saja tak ada lagi kepedulian pada nilai-nilai kejujuran, bagaimana dengan suasana kerjanya, aktivitas-aktivitas lainnya di luar sana..?! Sangat disayangkan memang, tapi inilah faktanya.

Ternyata, memang ada banyak hal yang harus disentuh dalam dakwah ini. Jika belum mampu mengingatkan secara langsung, minimal kita harus menjadi contoh, menjadi kelompok minoritas (niatnya sich ingin membuat mereka malu, tapi yach itu tadi…kok ga malu-malu juga yach..??? ;P), yang harus memberikan bukti, bahwa tanpa mencontek pun kita mampu menyaingi nilai mereka. Karena perilaku dan tindakan kita, ucapan kita, serta segala keberhasilan kita, pastinya akan tetap bersandar pada misi dakwah. Tetaplah usahakan yang terbaik, dan biarlah mereka memberikan penilaian.

So.., chayyooo akhwat…., semangat…!!! Biarkan anjing menggonggong, dan kafilah dakwah tetap beraksi…. ^_^

Hidup nomor DELAPAN (8)… :D
Hehe…

Wallahu’alam….



Wafiyyatunnisa Asy syu'lah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Karena banyak yang mengalami kesulitan dalam mengisi komentar, berikut panduan singkatnya:
Untuk memberi komentar tanpa login, silahkan pilih 'Name/URL' pada kolom 'Beri komentar sebagai', lalu masukkan nama anda (URL silahkan dikosongkan). Kemudian masukkan komentar yang ingin disampaikan. Terimakasih

Ikhlas itu Perkara Hati

Sahabat, mari bicara tentang keikhlasan. Ikhlas adalah perkara hati, karenanya tidak ada yang berhak memberikan penilaian hanya berdasarka...