27 Maret 2009

Mengapa waktu selalu terasa ‘kurang’ & begitu singkat ??!

Selasa malam, sepulang menyelesaikan salah satu tugas kuliah, saya tiba sekitar pukul 21.45 WIB. Satu hal yang mengusik benak saya sepanjang perjalanan pulang adalah runtutan tugas kantor yang masih harus saya selesaikan, karena memang telah beberapa hari ini ‘dituntut’ oleh KAP untuk segera diserahkan.

Mungkin memang tak begitu banyak, karena pekerjaan dan laporan yang harusnya di audit telah lama diselesaikan. Yang perlu saya lakukan hanyalah sedikit merapihkan agar data-data yang saya buat lebih mudah dibaca oleh pihak KAP, karena tentunya tak ingin mengundang pertanyaan yang tak perlu. Yach.., beberapa waktu belakangan saya memang harus menahan diri untuk beristirahat sepulang kuliah. Bergadang hingga larut malam bukan lagi hal yang aneh karena saking seringnya. Belum lagi jika pada saat bersamaan ternyata ada tugas dan makalah kuliah yang belum saya selesaikan.


Pertanyaan yang akhirnya menjelma dalam pikiran saya adalah “kenapa tak berusaha untuk ‘menyicil’ pekerjaan dan tak membiarkannya menumpuk hingga akhirnya kelabakan?!”. Jika saya memutar kembali memory, sekadar untuk melakukan evaluasi, rasanya terlalu sering saya dibuat kewalahan karena pekerjaan atau tugas yang selalu belum diselesaikan hingga mendekati deadline. Sistem Kebut Semalam, kebut sehari, atau bahkan kebut sejam sepertinya telah menjadi kebiasaan yang terpola dalam agenda saya. Rasanya sering sekali saya mengucapkan kalimat-kalimat seperti : ‘waduh..., makalah Teori Akuntansi belum beres eung...”, “Tugas Akuntansi Syariah belum dikerjain sama sekali nich...”, “hari ni presentasi yach...? duch..., bahan presentasi belum disentuh sedikit pun..”, “ujian euy, belum belajar apapun...” dst....dst....

Yach..., mungkin waktu yang saya miliki untuk menyelesaikan tugas-tugas saya memang tak lagi luas dan bebas seperti dulu yang pernah saya rasakan. Pagi hari hingga sore jelas saya habiskan untuk menunaikan amanah di kantor, dilanjutkan mengikuti perkuliahan hingga malam hari. Tapi setidaknya, jika saya sedikit lebih pandai lagi dalam membagi waktu, prioritas dan konsentrasi, tentu tak akan terlalu banyak agenda yang terabaikan. Mungkin tak berlebihan juga jika saya mengatakan bahwa banyak waktu saya yang terbuang sia-sia untuk hal-hal yang kurang bermanfaat (setidaknya jika disandingkan dengan antrian pekerjaan yang harusnya saya selesaikan), meski saya sendiri mungkin kurang menyadari. Satu menit, dua menit, satu jam, dua jam, hingga mungkin berjam-jam habis terbuang entah untuk aktivitas apa.

Ini hanya berbicara aktivitas di hari kerja. Belum lagi ketika hari sabtu dan ahad yang harusnya saya habiskan untuk agenda dakwah dan tarbiyah, peningkatan kualitas dan kuantitas amalan yaumiah dsb, hasil evaluasi saya pribadi tentu menunjukkan grafik yang sangat rendah. Masih banyak waktu terbuang percuma, sangat disayangkan.

Sangat tidak masuk akal jika saya berfikir bahwa waktu yang saya miliki terlalu sedikit atau bahkan aktivitas yang overload. Tentu semua juga tahu bahwa masing-masing orang telah dibekali waktu yang sama setiap hari, 24 jam. Masalah aktivitas, duch…malu juga jika harus dibandingkan dengan mereka yang super sibuk, para ustadz dan ustadzah yang setiap jam bahkan mungkin detik dalam nafasnya selalu disibukkan dengan luapan agenda (bukan hanya agenda pribadi dan keluarga, tapi juga agenda umat dan negara), tetapi masih tetap mampu mendisiplinkan diri untuk menunaikan setiap amanah, tanpa mengurangi sedikitpun kualitas ibadah, ruhiyah, dan kedekatanya pada Allah SWT. Rasanya setiap waktu yang mereka miliki demikian bernilai, tanpa ada sedikitpun kesia-siaan. Seakan jika setiap orang boleh meminta jatah waktu tambahan, pasti akan dihabiskan pula oleh mereka untuk ribuan agenda-agenda penting lainnya. Tak ada waktu untuk berhenti, tak ada waktu untuk beristirahat. Atau bahkan mereka pasti demikian miris melihat begitu banyak orang (mungkin termasuk saya salah satunya) yang begitu sering membuang waktu untuk hal-hal yang tidak jelas tujuannya. Subhanallah… Ingin sekali rasanya mendapatkan tips, masukan atau bahkan teguran dari mereka yang demikian rapih dalam memanage dan memanfaatkan waktu-waktunya.

Saya jadi teringat, di saat-saat seperti ini, saat pemilu sedang menghitung mundur hari-harinya, saat seluruh ikhwah sibuk dengan aktivitas DSnya, saya justru seakan semakin melalaikan amanah dakwah. Terlalu sibukkah..?? waktu yang terlalu singkatkah..??!

Mungkin hal pertama yang perlu saya lakukan adalah merapihkan kembali susunan agenda kegiatan, untuk kemudian melakukan sedikit ‘pemaksaan’ dan mendisiplinkan diri dalam mengaplikasikan agenda yang telah saya susun. Klasik dan sederhana memang kedengarannya. Tapi sepertinya memang akan membawa perubahan yang cukup signifikan.

Iya g sich..??! ada saran lain…??!


wafiyyatunnisa asy syu’lah

3 komentar:

  1. Assalamualaikum wr wb
    hehehe kayaknya kenal ni sama penulis blognya
    udah bisa merubah character untuk nulis password belum??
    databasenya jangan di Acces ya

    BalasHapus
  2. wa'alaikummussalam wr wb
    hhm..., sepertinya tau jg 'gang' yg ngasih koment ini....
    tp perasaan yg nanyain utk merubah character nulis password bkn saya dech... (g pa2...meski mgkin salah org..tp msh dlm 'gang' yg sama kok...) hehe

    BalasHapus
  3. Hmm, berarti deadliner ya? Sama. Dan aku juga sedang berusaha mengubahnya.

    Tidak ada orang yang tahu kapan waktu hidupnya habis kan?

    Apakah mau jika batas waktu hidup itu sampai, kita sedang disibukkan dengan hal-hal tidak berguna?

    BalasHapus

Karena banyak yang mengalami kesulitan dalam mengisi komentar, berikut panduan singkatnya:
Untuk memberi komentar tanpa login, silahkan pilih 'Name/URL' pada kolom 'Beri komentar sebagai', lalu masukkan nama anda (URL silahkan dikosongkan). Kemudian masukkan komentar yang ingin disampaikan. Terimakasih

Ikhlas itu Perkara Hati

Sahabat, mari bicara tentang keikhlasan. Ikhlas adalah perkara hati, karenanya tidak ada yang berhak memberikan penilaian hanya berdasarka...