26 April 2009

Fenomena Caleg yang tak terpilih

Beberapa pekan lalu, tepatnya setelah pemilu legislatif, banyak berita yang beredar tentang caleg yang mengalami gangguan kejiwaan karena gagal dalam pemilihan. Mulai dari gangguan jiwa ringan hingga stress tingkat tinggi dan frustasi, bahkan bunuh diri. Cckk… cckk…, kok bisa yach..?



Hhm…, mungkin memang rada terlambat juga jika saya baru mengungkit masalah ini, karena toh sudah tak lagi menjadi berita hangat atau mungkin mulai dilupakan. Tapi maklum, beberapa pekan ini konsentrasi saya penuh pada uas dan audit. Audit di kantor yang mengharuskan lembur (termasuk hari ahad) serta setumpuk PR kantor yang harus diselesaikan bahkan membuat saya nyaris tak sempat mempersiapkan diri untuk UAS semester kemarin. Hanya berharap pertolongan Allah, atas segala ikhtiar maksimal (termasuk kejujuran dalam ujian) yang telah saya lakukan. Semoga tak mengurangi kualitas penilaian, baik secara harfiah maupun secara makna di hadapan Allah (amiin).

Kembali lagi pada tema awal. Hanya sekadar ingin ikut memberikan komentar, sebagai seseorang yang awam dan tak memiliki wawasan apalagi kedudukan politik. Satu hal yang akhirnya jadi pertanyaan saya melihat fenomena di atas adalah, ‘apa sebenarnya tujuan utama mereka mendaftarkan diri jadi caleg?!’

Jika kita ungkit kembali fakta yang terjadi, beberapa diantaranya ada caleg yang menarik kembali sumbangan baik berupa uang maupun barang kepada lembaga masyarakat, pengajian, mushala, dan sebagainya, bahkan ada yang tega melakukan penggusuran tehadap warga setempat dari lahan miliknya, hanya karena mereka kalah dalam kompetisi. Setelah kejadian ini, tentu masyarakat tingkat manapun (yang masih memiliki akal sehat) akan mampu menilai apa sebenarnya yang mendasari para caleg tersebut tiba-tiba menjadi begitu ‘baik’ dan ‘dermawan’ saat menjelang pemilihan. Tentunya karena ingin mendapatkan dukungan dan suara. Hanya karena itukah..?? Serendah itukah orientasi dibalik kedermawanan mereka..??! Duniawi..., sangat duniawi.

Dalam kasus selanjutnya, ternyata ada juga beberapa caleg yang akhirnya lebih memilih untuk mengakhiri hidup mereka dengan cara bunuh diri. Mungkin ini memang menjadi tekanan bagi mereka, entah karena masalah harga diri, masalah harta, merasa kehilangan sesuatu yang terlanjur sangat diharapkan, atau tekanan-tekanan lainnya.

Di sisi lain, tidak sedikit juga caleg yang menderita gangguan kejiwaan, depresi, bahkan menjadi gila. Bahkan untuk menangani hal ini, telah disiapkan tempat khusus penyembuhan bagi caleg yang mengalami gangguan kejiwaan.

Ngeri juga membayangkan jika orang-orang seperti itu yang akhirnya menjadi wakil rakyat dan memimpin negara ini. Bayangkan, karena kalah dan harus kehilangan harta yang memang tak bisa dikatakan sedikit, mereka mengalami trauma yang sangat besar. Ini menunjukkan betapa besar pikiran dan kecintaan mereka pada harta yang dikeluarkan tersebut. Bisa ditebak, jika mereka akhirnya menang, tak mungkin juga mereka tak memikirkan limpahan rupiah yang telah dikeluarkan itu. Pasti mereka akan memikirkan bagaimana caranya agar bisa secepat mungkin ‘balik modal’, entah dengan cara apa. Apa itu tujuan utamanya yach..?! hhm....

Memang tidak semua caleg memiliki orientasi ‘rendahan’ seperti itu. Saya yakin, masih jauh lebih banyak calon pemimpin dari beberapa partai yang benar-benar serius ingin melakukan perbaikan, memikirkan kesejahteraan rakyat, kemakmuran bersama, serta mewujudkan cita-cita luhur lainnya. Tujuan utamanya adalah kesejahteraan seluruh rakyat, bukan hanya segolongan kecil manusia Indonesia.

Saya jadi teringat ustadz dan ustadzah (dari partai no 8) yang duduk di kursi pemerintahan sana. Keputusan duduknya mereka di sana adalah keputusan syuro yang jika boleh memilih mereka pasti lebih memilih untuk mundur, karena memang besarnya godaan dan beratnya medan dakwah di sana. Tapi saya yakin, dengan keikhlasan dan kualitas ruhiyah yang tinggi, InsyaAllah mereka mampu untuk tetap menjaga orientasi, berharap ridho Allah atas segala sumbangsih pikiran, tenaga, dan harta yang mereka keluarkan untuk kemajuan dan kebaikan bangsa dan negara ini. Bagi mereka segala aktivitasnya adalah ibadah dan dakwah. Kapan, dimana, serta dalam kondisi apapun.

Fenomena kekalahan caleg yang secara tidak langsung menjadi filter penilaian masyarakat memang sangat disayangkan. Betapa kedudukan menjadi wakil rakyat seolah diharapkan dapat menjadi suatu ‘profesi’ baru, menjadi lahan coba-coba untuk meraih keuntungan materi. Meskipun memang ini hanyalah sebagian kecil, sangat kecil dari seluruh caleg yang ada. Namun nyatanya, caleg yang menjadi ‘korban’ toh bukan hanya satu dua orang atau di satu dua tempat saja bukan?!

Yach..., memang hanya mereka yang ikhlas yang kita harapkan mampu membawa perubahan. Ikhlas berjuang untuk rakyat, bukan sekadar cari muka. Karena orientasi utama mereka adalah Allah yang memiliki segalanya dan pasti mampu memberikan balasan yang terbaik. Sehingga setiap aktivitasnya, termasuk kerjanya untuk bangsa ini adalah ibadah baginya, tidak lagi mengharapkan balasan selain hanya dari Allah. Sekali lagi, masih banyak wakil rakyat dari beberapa partai (mungkin tak hanya dari partai ini saja) yang ikhlas ‘berjuang’ untuk bangsa ini. Tapi mungkin memang dibutuhkan kejelian, kehati-hatian, dan kepedulian agar dapat tepat dalam menjatuhkan pilihan.

Karena itu tetaplah tersenyum. Bangkitlah bangsaku, harapan itu akan selalu ada.

Wallahu’alam

Wafiyyatunnisa Asy syu’lah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Karena banyak yang mengalami kesulitan dalam mengisi komentar, berikut panduan singkatnya:
Untuk memberi komentar tanpa login, silahkan pilih 'Name/URL' pada kolom 'Beri komentar sebagai', lalu masukkan nama anda (URL silahkan dikosongkan). Kemudian masukkan komentar yang ingin disampaikan. Terimakasih

Ikhlas itu Perkara Hati

Sahabat, mari bicara tentang keikhlasan. Ikhlas adalah perkara hati, karenanya tidak ada yang berhak memberikan penilaian hanya berdasarka...