31 Mei 2009

Semangat itu,harusnya selalu dapat diperbaharui

Sempat beberapa pekan saya tak menghadiri forum ‘pertemuan’ pekanan. Jujur, ada perasaan ‘aneh’ ketika tiba-tiba harus hadir lagi di sana. Khawatir ditanya macem-macem (ge-er pisan nya’..., siapa jg yg peduli..hehehe).

Beberapa alasan yang saya ingat waktu itu antara lain : sakit ‘bulanan’, ngawas USM, rihlah bareng dpc taman sari, lembur di kantor, ujan gedhe + geledek, hingga jadi panitia walimahan temen. Wach...banyak alasan or cari-cari alasan nich?!

Apapun alasannya, saya dapat merasakan bahwa ‘absen’nya saya dari sana sangat mempengaruhi kondisi ruhiyah saya, meskipun saya sadar bahwa kemandirian ruhiyah dalam tarbiyah dzatiyah harusnya tetap mampu menjaga kestabilan amalan. Yach.., namanya juga manusia, harus ada yang mengingatkan. Kalo manusianya sendiri sedikit ‘menjauh’ dari lingkungan yang mampu mengingatkan..., maka the result is.....

Satu pekan setelah kehadiran ‘kembali’ di forum ini, tepatnya sabtu pagi, murabbiyah saya sms. “ukhti, bisa gantiin ana pegang binaan hari ini? Jam 9 pagi……” walah...dadakan, saya tau binaan yang mau dititipkan ini adalah umahat. Dengan kondisi ruhiyah yang masih ‘labil’ saya merasa tak pantas untuk memberikan materi kepada siapapun, apalagi pada para umahat. “Hhm.., g pa2 lah..., saya coba aja. Kali aja setelah ini jadi motivasi untuk kembali menata kondisi ruhiyah saya” pikir saya saat itu (disamping memang tak ada alasan untuk menolak :P).

Singkat cerita, akhirnya saya bertemu dengan para umahat yang ternyata memiliki semangat luar biasa. Saya jadi berfikir, mungkin saya diminta untuk mengganti murabbiyah supaya saya bisa melihat bahwa sesibuk apapun aktivitas mereka, tetap ada kemauan dan semangat untuk menghadiri liqoat (deeuu....,jadi tersindir dech ceritanya....{whatever, mengambil hikmah yang bermanfaat khan g ada salahnya, betul..??}). Iya..., di sela-sela aktivitas menyusun tesis, mengurus anak, suami dan segala pernak-pernik rumah tangga lainnya, toh tetap bisa membagi waktu untuk hal yang satu ini. Ini hikmah pertama, management waktu, keep on spirit, dan terus tingkatkan ruhiyah. Harus selalu siap setiap saat, kali-kali aja diminta ‘ngegantiin lagi :)

Hikmah kedua, harus selalu menambah wawasan dan pemahaman (meski belum pengalaman…heu..heu.). Mengisi binaan untuk umahat tentu beda dengan membina adik-adik angkatan yang biasa kita lakukan. Kita mempersiapkan materi, mereka mendengar dengan manis, kemudian diikuti pertanyaan seputar materi. Masih mudah untuk dikondisikan. Tapi untuk umahat, di sela-sela materi mereka terkadang memotong dengan cerita (terutama tentang pengalaman sehari-hari yang pastinya lebih banyak berkisar pada kehidupan rumah tangga), jadi obrolan panjang, kemudian mengajukan pertanyaan yang juga seputaran anak dan keluarga, nah lhoo....!! Yach...,secara pengalaman tentu saya kalah. Tapi ga ada salahnya juga, pengalaman orang-orang yang saya baca, saya dengar, atau mungkin saya lihat secara langsung, menjadi bahan diskusi untuk menambah wawasan bersama dalam forum ini. Jujur sich, untuk urusan yang satu ini justru saya yang banyak mengambil pelajaran dan ilmu dari mereka. Atau saya harus ‘maju’ yach, agar mempunyai pengalaman sendiri..?? hehe...

Ga pa2.., inti dari ini semua adalah..., terus semangat, belajar dan belajar. Meningkatkan lagi amalan, untuk kestabilan ruhiyah. Chayoo...saatnya bangkit..., bangun dari tidur yang begitu panjang.....

DIMULAI DARI..... SEKARANG...!!!

JANJI....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Karena banyak yang mengalami kesulitan dalam mengisi komentar, berikut panduan singkatnya:
Untuk memberi komentar tanpa login, silahkan pilih 'Name/URL' pada kolom 'Beri komentar sebagai', lalu masukkan nama anda (URL silahkan dikosongkan). Kemudian masukkan komentar yang ingin disampaikan. Terimakasih

Ikhlas itu Perkara Hati

Sahabat, mari bicara tentang keikhlasan. Ikhlas adalah perkara hati, karenanya tidak ada yang berhak memberikan penilaian hanya berdasarka...