21 Juni 2009

Orang Gila itu...!!


Hampir setahun kebelakang, di depan gang tempat saya tinggal selalu ada seseorang yang bisa dikatakan ‘terganggu’ ingatannya. Awalnya jujur saya merasa sangat terganggu dan begitu ketakutan. “orang gila khan tidak memiliki kesadaran yang utuh, dan mereka bisa nekad berbuat apa saja yang mereka mau”. Begitu pikir saya saat itu.

Pernah suatu malam saya tiba di depan gang dan mendapati orang gila itu sedang berdiri. Gang yang akan saya lewati tak begitu besar, bahkan terhitung kecil. Dengan posisinya yang hampir di tengah, tentu hampir tak ada ruang bagi saya untuk masuk melewati gang itu. “duch..,kok ya ada-ada aja sich... kenapa coba dia harus berdiri di sana...”. akhirnya dengan mengambil jarak yang lumayan jauh saya menghubungi Papa (kebetulan saat itu sedang berada di Bandung) untuk menjemput saya hingga ke depan. Begitu kami masuk melalui gang tersebut, ternyata dia tak memberikan reaksi apapun. Jangankan mengganggu, melihatpun tidak. Dia seolah sibuk dengan dunia dan pikirannya sendiri. “udah tenang aja, g ganggu kok...” demikian papa menenangkan. “tapi khan tetep aja nakutin...”. “iya tuch..,harus ati-ati...” mama ikut menimpali sebagai tanda kekhawatiran. “lah..terus tar klo kita udh ga disini, yg jemput siapa??” perkataan papa ini ada benarnya juga. Iya, sepertinya orang gila itu akan sering berada di sana. Benar-benar meresahkan.

Malam-malam berikutnya (maklum,memang hampir setiap hari saya selalu pulang malam :D) ketika saya melihat dia berada di depan gang, saya memberanikan diri untuk melewatinya sendirian. InsyaAllah ga ganggu, tenang...,tenang.... Benar saja, dia memang selalu berbicara sendiri, tak pernah menghiraukan orang yang lalu-lalang di sekitarnya. Lama kelamaan saya akhirnya terbiasa, meskipun masih ada perasaan cemas dan rasa takut. Setiap melewati orang itu dan mulai memasuki gang, saya selalu berjalan dengan setengah berlari, berharap tiba di ujung gang secepat mungkin.

Akhir-akhir ini orang gila itu sering berada di samping rumah hunian para pegawai hotel (tidak jauh dari tempat tinggal saya). Setiap hari saya pasti melewati rumah itu. Terkadang saya melihat dia sedang makan (mungkin ada yang kasihan dan berbaik hati membagikan makanan kepadanya). Malam saya pulang, saya sering melihatnya sedang duduk, makan atau bahkan tidur di samping rumah itu. Keesokan paginya, saat saya hendak berangkat kerja, saya melihatnya masih berada di sana, tertidur dengan pulas (sepertinya sich). Terkadang hujan, dan tempat itu pula yang jadi tempat berteduhnya.

Ya Allah, fenomena ini membuat saya merasa bahwa begitu banyak hal yang harusnya saya syukuri. Lihatlah, dalam kondisi panas terik, dingin, hujan, basah, tanpa kenal siang atau malam, pernahkah terbayangkan ketika kita harus mengalami nasib seperti itu? Jangankan tidur di luar (yang tentu saja dingin, kotor, basah, dan pastinya tak nyaman karena begitu terbuka), untuk tidur di dalam kamar bersih, terang, tertutup, tapi tanpa kasur rasanya mungkin kita akan mengeluh, merasa tidak beruntung dan merana. Pernahkan terlintas dalam pikiran kita, betapa beruntungnya kita setiap hari bisa berganti pakaian, selalu bersih, harum, bahkan modis. Apa yang akan kita rasakan ketika kita hanya memiliki satu pakaian yang dipakai berhari-hari, tanpa pernah dibersihkan, apalagi memikirkan masalah gaya dan trendi. Selama ini mungkin tak terpikirkan betapa berharganya setiap suapan yang masuk ke dalam perut kita. Karena yang selalu kita pikirkan adalah masalah selera, jenis makanan, rumah makan mewah, atau bahkan gengsi.

Dan tentu saja lebih dari semua kelebihan materi yang kita miliki itu, betapa beruntungnya kita atas akal sehat yang masih Allah berikan. Jujur hati kecil saya selalu terusik, bertanya-tanya. Sesekali, ketika melewati orang itu saya menatap wajahnya. Ia berbicara sendiri, tatapannya kosong, entah apa yang ada dalam pikiran dan hatinya. Saya jadi penasaran, apakah orang seperti itu masih dihitung pahala dan dosanya?? Apakah atas dosa-dosanya yang lalu ia tak memiliki kesempatan untuk bertaubat lagi, atau justru dengan kondisi yang seperti itu ia tak lagi memiliki peluang untuk berbuat dosa? Wallahu’alam, hanya Allah yang tahu. Saya yakin Allah sebaik-baik pembuat keputusan, maha bijaksana dan maha adil. Tak mungkin berbuat tanpa perhitungan.

Di lain waktu, saya juga sering melihat orang-orang yang juga tidak sempurna akalnya berjalan-jalan bebas di pinggir jalanan umum. Bahkan ada di antara mereka yang tanpa busana. Miris, kasihan, karena mereka sama sekali tak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan adalah tidak wajar di kalangan masyarakat. Sekali lagi, apa yach yang ada di dalam pikiran mereka? Masih tersimpankah memori tentang masa kecilnya, tentang keluarga dan orang-orang disekitarnya? di mana kira-kira keluarga yang seharusnya bisa memberikan mereka tempat tinggal dan perlindungan? Sepertinya, jangankan untuk memikirkan kehidupan masa depan, untuk kehidupannya saat ini pun mereka seolah sudah tak mampu lagi memahami maknanya.

Heu..heu.., mungkin ada yang bertanya. Ngapain dian pusing-pusing mikirin orang gila?? Apa ga takut ketularan tuch..? :D . Mungkin memang bukan hal yang penting bagi kebanyakan orang. Toh ini tak ada hubungannya dengan kehidupan kita. Biarkan dia dengan dunianya, dan kita dengan kehidupan kita sendiri. Tapi saya yakin setiap hal yang kita alami, kita lihat, kita dengar, dan kita rasakan, tak mungkin terjadi begitu saja tanpa ada hikmah dan maknanya. Mungkin memang belum sempurna bagi saya hikmah dari hal di atas, kenapa Allah mempertemukan saya dengan orang gila itu. Tapi setidaknya, untuk saat ini saya mencoba menterjemahkan beberapa hikmah.
Rasa syukur. Betapa kesehatan akal, kecukupan materi, kekuatan jasmani dan ruhani adalah jutaan nikmat yang setiap harinya harus selalu saya syukuri.
Rasa empati. Tak layak rasanya saya menyalahkan, mengucilkan atau meremehkan mereka. Meski saya mungkin belum mampu memberikan bantuan dan belas kasihan, minimal di dalam hati ada rasa iba, bukan benci.
Rasa terimakasih. Karena setidaknya, mereka telah menjadi inspirasi bagi tulisan saya kali ini. (heu...,hikmah yang terakhir mah hanya becanda kok :P).

Hhm.., saya berharap akan lebih banyak lagi hikmah yang saya dapatkan dari semua kejadian ini, InsyaAllah.....

Wallahu’alam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Karena banyak yang mengalami kesulitan dalam mengisi komentar, berikut panduan singkatnya:
Untuk memberi komentar tanpa login, silahkan pilih 'Name/URL' pada kolom 'Beri komentar sebagai', lalu masukkan nama anda (URL silahkan dikosongkan). Kemudian masukkan komentar yang ingin disampaikan. Terimakasih

Ikhlas itu Perkara Hati

Sahabat, mari bicara tentang keikhlasan. Ikhlas adalah perkara hati, karenanya tidak ada yang berhak memberikan penilaian hanya berdasarka...