15 Agustus 2009

Rahasia Puasa dan Syarat Batinnya


(fasal ketiga ‘Tazkiyatun Nafs’ -Sa’id Hawwa-)

Ketahuilah bahwa puasa itu ada tiga tingkatan :
1.Puasa orang awam
Ialah menahan perut dan kemaluan dari memperturutkan syahwat.

2.Puasa orang khusus
Ialah menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki dan semua anggota badan dari berbagai dosa.


3.Puasa orang super khusus
Ialah puasa hati dari berbagai keinginan yang rendah dan pikiran-pikiran yang tidak berharga, juga menahan hati dari selain Allah secara total, dan puasa ini menjadi ’batal’ karena fikiran tentang selain Allah dan hari akhir, karena fikiran tentang dunia kecuali dunia yang dimaksudkan untuk agama (karena dunia yang dimaksudkan untuk agama tersebut sudah termasuk bekal akhirat dan tidak lagi dikatakan sebagai dunia). Ini merupakan tingkatan para Nabi, Rasul, Shiddiqin dan Muqarrabin.

Puasa orang khusus ialah puasa orang-orang shaleh yang menahan anggota badan dari berbagai dosa. Sedangkan kesempurnaannya ialah dengan enam perkara :

Pertama : Menundukkan pandangan dan menahannya dari berkeliaran memandang ke setiap hal yang dicela dan dibenci, ke setiap hal yang bisa menyibukkan hati dan melalaikan dari mengingat Allah ’azza wajalla. Nabi saw bersabda :
”Pandangan adalah salah satu anak panah beracun di antara anak panah iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada Allah maka ia telah diberi Allah keimanan yang mendapatkan kelezatannya di dalam hatinya.” (Diriwayatkan oleh al-Hakim dan ia men-shahih-kan sanad-nya)

Kedua : Menjaga lisan dari bualan, dusta, ghibah, gunjingan, kekejian, perkataan kasar, pertengkaran, dan perdebatan. Mengendalikannya dengan diam, menyibukkannya dengan dzikrullah dan tilawah Al-Quran. Itulah puasa lisan.
Syufyan berkata : Ghibah dapat merusak puasa. Basyar bin al-Harits meriwatkannya darinya. Laits meriwayatkan dari mujahid : Dua hal dapat merusak puasa : Ghibah dan dusta. Nabi saw bersabda :
”sesungguhnya puasa itu tidak lain adalah perisai : apabila salah seorang di antara kamu sedang berpuasa maka janganlah berkata kotor dan jangan pula bertindak bodoh; dan jika ada seseorang yang menyerangnya atau mecacinya maka hendaklah ia mengatakan sesungguhnya aku berpuasa, sesungguhnya aku berpuasa.” (Diriwayatkan oelh Bukhari dan Muslim).

Ketiga : Menahan pendengaran dari mendengarkan setiap hal yang dibenci (makruh) karena setiap yang diharamkan perkataannya diharamkan pula mendengarkannya. Oleh sebab itu Allah menyamakan antara orang yang mendengarkan dan orang yang memakan barang yang haram, firman-Nya :
”Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram.” (Al-Ma’idah : 42).

Keempat : Menahan berbagai anggota badan lainnya dari berbagai dosa, seperti menahan tangan dan kaki dari hal-hal yang dibenci, menahan perut dari berbagai syubhat pada waktu tidak puasa. Tidak ada artinya berpuasa, yaitu menahan makanan yang halal, kemudian berbuka puasa dengan barang yang haram. Orang yang berpuasa seperti ini laksana orang yang membangun istana tetapi ia menghancurkan negeri, karena makanan yang halal itu hanya berbahaya lantaran dikonsumsi terlalu banyak bukan lantaran jenisnya, sementara puasa hanya untuk menguranginya. Orang yang berhenti mengkonsumsi obat karena takut bahayanya, bila ia beralih meminum racun maka ia adalah orang bodoh. Barang yang haram adalah racun yang menghancurkan agama, sedangan barang yang halal adalah obat yang bermanfaat bila dikonsumsi sedikit tetapi berbahaya bila terlalu banyak. Tujuan puasa ialah mengurangi makanan yang halal tersebut. Nabi saw bersabda :
”Berapa banyak orang yang berpuasa tetapi ia tidak mendapatkan dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga” (Diriwayatkan oleh Nasa’i dan Ibnu Majah).
Dikatakan : Ia adalah orang yang berbuka puasa dengan makanan yang haram. Dikatakan juga : Ia adalah orang yang menahan diri dari makanan yang halal tetapi berbuka dengan ’memakan daging manusia’ yakni dengan ghibah yang notabene haram. Dikatakan : Ia adalah orang yang tidak menjaga anggota badannya dari berbagai dosa.

Kelima : Tidak memperbanyak makanan yang halal pada saat berbuka puasa sampai penuh perutnya. Karena tidak ada wadah yang paling dibenci oleh Allah selain perut yang penuh dengan makanan halal. Bagaimana puasanya bisa bermanfaat untuk menundukkan musuh Allah dan mengalahkan syahwat jika orang yang berpuasa itu pada saat berbuka melahap berbagai macam makanan untuk mengganti berbagai makanan yang tidak boleh dimakannya di siang hari? Bahkan telah menjadi tradisi, berbagai makanan disimpan dan dikumpulkan untuk dimakan pada bulan Ramadhan padahal makanan itu cukup untuk dimakan beberapa bulan di luar Ramadhan.
Seperti diketahui bahwa tujuan puasa ialah pengosongan dan menundukkan hawa nafsu untuk memperkuat jiwa mencapai taqwa. Bila perut didorong dari pagi hingga sore sampai syahwatnya bangkit dan seleranya menjadi kuat kemudian (di saat berbuka) dipenuhi dengan berbagai makanan yang lezat hingga kenyang maka bertambahlah kelezatan dan kekuatannya hingga bangkitlah syahwatnya yang seharusnya teredam seandainya dibiarkan apa adanya. Esensi dan rahasia puasa ialah melemahkan berbagai kekuatan yang menjadi sarana syetan untuk kembali kepada keburukan. Tetapi hal itu tidak akan tercapai kecuali dengan pengurangan makanan yakni memakan makanannya yang biasa dimakan setiap malam waktu tidak puasa, bahkan di antara adabnya ialah tidak memperbanyak tidur siang agar merasakan lapar dan dahaga dan merasakan lemahnya kekuatan sehingga hatinya menjadi jernih, kemudian berusaha agar setiap malam bisa melakukan tahajjud dan membaca wiridnya, karena bisa jadi syetan tidak mengitari hatinya sehingga bisa melihat berbagai kegaiban langit. Lailatul qadar adalah malam tersingkapnya sesuatu dari alam ghaib yang dimaksudkan oleh firman Allah :
”sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam kemuliaan” (Al-Qadr:1).
Barangsiapa yang meletakkan keranjang makanan di antara hati dan dadanya maka ia akan terhalangi dari malam kemuliaan tersebut. Dan barangsiapa mengosongkan perutnya sama sekali maka hal itu tidak akan cukup untuk mengangkat hijah selagi keinginannya tidak terbebas dari selain Allah. Itulah inti segala permasalahannya. Sedangkan prinsip semua itu adalah mempersedikit makanan.

Keenam : Hendaknya setelah ifthar (berbuka puasa) hatinya ’tergantung’ dan ’terguncang’ antara cemas dan harap, sebab ia tidak tahu apakah puasanya diterima sehingga termasuk golongan Muqarrabin atau ditolak sehingga termasuk orang-orang yang dimurkai? Hendaklah hatinya dalam keadaan demikian di akhir setiap ibadah yang baru saja dilaksanakan. Diriwayatkan dari Al-hasan bin abul hasan al-bashri bahwa ia melewati suatu kaum yang tengah tertawa, lalu ia berkata : Sesungguhnya Allah menjadikan bulan Ramadhan sebagai arena perlombaan melakukan ketaatan bagi makhluk-Nya, kemudian ada orang-orang yang berlomba hingga menang dan ada pula orang-orang yang tertinggal dan kecewa. Tetapi yang sangat mengherankan ialah pemain yang tertawa-tawa di saat orang-orang berpacu meraih kemenangan.
Abu Darda’ berkata : Duhai indah tidurnya orang-orang cerdas dan tidak puasanya mereka, bagaimana mereka tidak mencela puasa orang-orang bodoh dan begadangnya mereka ! Sungguh satu butir dari kebaikan dari orang yang yakin dan bertaqwa lebih utama dan lebih kuat ketimbang segunung ibadah dari orang-orang yang tertipu. Oleh sebab itu, sebagian ulama berkata : Berapa banyak orang yang berpuasa sesungguhnya dia tidak berpuasa dan berapa banyak orang yang tidak berpuasa tetapi sesungguhnya ia berpuasa. Nabi saw bersabda :
”Puasa adalah amanah,maka hendaklah salah seorang di antara kamu menjaga amanahnya.” (Diriwayatkan oleh al-khara’ithi dan sanadnya hasan).

(Diambil dari buku Tazkiatun nafs-Sa’id Hawwa- fasal ketiga, hal.65-69).

Sahabat, saat ini bulan sya’ban mulai berkemas menuju penghujungnya. Itu artinya, bulan Ramadhan akan segera hadir ditengah-tengah kita. Bulan yang ’seharusnya’ menjadi bulan yang paling qta nantikan karena berbagai keutamaan yang ada padanya. Entahlah, apakah kebahagiaan yang qta ucapkan sama seperti bahagia yang ada di dalam hati qta, atau justru hati qta merasa terbebani dengan bayangan rentetan kewajiban yang harus qta laksanakan. (Jawabannya hanya ada pada hati qta masing2).

Sahabat, terlepas dari apa dan bagaimana perasaan hati qta, tentu qta tak ingin rasa lapar, haus , dan kantuk yang telah qta relakan, ternyata kosong, sama sekali tak bernilai dihadapan Allah SWT. Tentu bukan sekadar predikat mampu mengkahatamkan shaum sebulan penuh dihadapan manusia yang ingin qta dapatkan. Qta tak sekadar ingin berada dalam tingkatan puasa orang awam, yang hanya menahan haus dan lapar semata.

Setidaknya masih ada sedikit waktu untuk berbenah. Mari bersama qta tekadkan, bahwa Ramadhan kali ini adalah Ramadhan terbaik sepanjang sejarah kehidupan qta. Mencapai puasa pada tingkatan puasa khusus. Mengapa harus ramadhan tahun ini?? Karena memang tak ada jaminan bahwa Allah masih akan menyampaikan usia qta hingga Ramadhan tahun depan. Mungkin saja Ramadhan saat ini (itupun jika Allah masih berkenan menyampaikan qta padanya) adalah Ramadhan terakhir dalam hidup qta. Jangan sia2kan kesempatan ’terakhir’ ini. Bersiaplah..!!

Atas nama pribadi (Dian/Wafiyyatunnisa), saya memohon maaf lahir bathin atas segala khilaf dan Alpa.
Semoga Allah selalu membimbing dan memudahkan langkah qta, aamiin....

Wallahu’alam bishawab

Salam,

Wafiyyatunnisa Asy Syu'lah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Karena banyak yang mengalami kesulitan dalam mengisi komentar, berikut panduan singkatnya:
Untuk memberi komentar tanpa login, silahkan pilih 'Name/URL' pada kolom 'Beri komentar sebagai', lalu masukkan nama anda (URL silahkan dikosongkan). Kemudian masukkan komentar yang ingin disampaikan. Terimakasih

Ikhlas itu Perkara Hati

Sahabat, mari bicara tentang keikhlasan. Ikhlas adalah perkara hati, karenanya tidak ada yang berhak memberikan penilaian hanya berdasarka...