18 Februari 2011

Ikrar Cinta Ditelan Gelombang


Sebuah Komitmen
            Sekilas, tak ada yang istimewa dari sosoknya di mata Dini.  Lelaki biasa, bahkan terlalu biasa.  Seorang mahasiswa yang untuk memenuhi biaya kuliahnya saja ia harus rela berjualan, mencari dana secara mandiri.  Namun kedekatan terjadi seiring dengan kebersamaan mereka dalam salah-satu organisasi bergengsi di kampus, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).  Saat sama-sama bekerja sebagai pengurus itulah, Dini akhirnya mampu membuka mata untuk melihat sisi lain dari kepribadian Victor.
            “Jujur, dulu aku termasuk orang yang sering memandang sebelah mata.  Tapi pada dirinya, aku melihat ada sesuatu yang berbeda.  Dia Istimewa.” tutur Bintang, sapaan akrab untuk Dini.
            “Dia juga sosok yang sangat berkharisma.  Saat pencalonan ketua BEM pada angkatannya, mayoritas anggota menghendaki dia yang maju.  Entah mengapa, semua merasa nyaman saat berkoordinasi dengannya, termasuk aku”.
            Begitulah, sosok lelaki biasa itu akhirnya menjelma menjadi istimewa bahkan teramat istimewa di mata Dini.
***
Tali penghubung antara Dini dan Victor akhirnya menyimpul, membentuk sebuah komitmen.  Hubungan mereka mengarah pada satu tujuan yang tidak samar-samar.
            “Andai saja punya cukup dana, mungkin saat itu juga kami menikah.  Tapi yaah.., namanya juga masih kuliah”
             Dini tau Victor tidak main-main.  Victor bahkan telah memiliki gambaran tentang sebuah rumah tangga.
            Cukup lama menjalin hubungan, Dini kemudian diperkenalkan kepada keluarga Victor.  Satu alasan mengapa Victor tak segera membawa Dini ke rumah adalah, karena malu.  Saat itu Victor bersama keluarga masih tinggal di rumah neneknya, bersama dengan dua keluarga lainnya.  Suasana rumah kurang kondusif.  Satu atap berisikan tiga kepala keluarga, ditambah lagi pemahaman agama yang kurang memadai.
            Namun sosok Victor lengkap dengan segala permasalahannya semakin memberikan kesan ketegaran dalam pandangan Dini.  Dari Victorlah Dini dapat memahami tentang makna kesabaran dan kesederhanaan.

Dilema
            Memasuki tahun 2006, masing-masing mulai melangkahkan kaki, meninggalkan kampus dengan segala idealismenya.  Persaingan memperebutkan posisi dalam perusahaan menjadi pelengkap kehidupan para wisudawan, setelah melepas pakaian kebesarannya.
            Tidak sama memang nasib setiap orang.  Victor dan Dini harus berjuang keras.  Sayang, niat suci untuk segera mengikat hubungan dalam tali yang lebih serius harus kembali tertunda oleh permasalahan ini, belum mendapatkan pekerjaan.
            Namun tak ada kata cukup untuk ikhtiar, selalu dan selalu mencoba.  Karena manusia tak pernah tau pada hitungan usaha yang keberapa Allah akan menunjukkan pertolonganNya.
            Usaha dan kesungguhan Victor akhirnya menunjukkan hasil pada awal tahun 2008, saat ia diterima di sebuah instansi, perusahaan pemasok peralatan untuk perusahaan tambang batubara.
            “Alhamdulillah, mulai ada titik terang”
            Long Distance Relationship, sebuah konsekuensi yang harus mereka terima.  Setelah diterima bekerja, Victor harus tinggal di Ibu kota.  Tak mengapa, cita-cita memang membutuhkan kesabaran dan pengorbanan.
***
            Enam bulan menjalani hubungan jarak jauh, niat menuju gerbang pernikahan seolah semakin menunjukkan jalannya.  Dari penghasilan yang lumayan Victor bahkan telah membuka tabungan bersama, untuk dana pernikahan mereka.
            “Bintang, simpen ini yah, untuk biaya kita nanti.  Nanti tiap tahun akan ada bonus akhir tahun.  Yaah.., katanya sich bisalah lima kali gaji bulanan.  Tapi ga pa-pa khan, klo bonus itu ditabung buat beliin ortu rumah.  Mas dari dulu pengeeen banget bisa beliin rumah buat mereka”
            “Iya mas, ga pa-pa kok”.
Dini terbiasa memanggil dengan sebutan Mas Andri, untuk Victor Andrian.
            Namun rencana mereka ternyata masih harus melewati ujian saat akhirnya dihadapkan pada sebuah dilema.  Pada bulan Agustus 2008, Victor mendapat tugas untuk dimutasi ke Kalimantan.
            “Mas kok ragu yah?  Apa mending ga usah aja…”
            “Semangat mas.  Ini juga demi cita-cita kita.  Kita masih harus banyak bersabar.”
            Keraguan Victor perlahan memupus.

17 September, 17 Ramadhan
            Saat berada di Kalimantan, keseriusan semakin tampak dari niat untuk mengkhitbah pada bulan November 2008.  Saat itu adalah bulan September yang bertepatan dengan bulan Ramadhan.
            “Udah buka belom?”
            “Udah barusan, Mas gimana?”
            “Di sini udah jam tujuh.  Mas lagi di atas tongkang.  Di sekitaran Sungai Barito, Muara Teweh”
            “Ya udah, Mas ati-ati yah.  Bintang mo taraweh, mo siap-siap dulu,”
            Saat sahur keesokan hari, hari Rabu, Dini merasakan ada sesuatu yang ganjil pada perasaannya.  Kebiasaan Victor menelpon setiap waktu sahur dan berbuka semakin memberikan isyarat bahwa sesuatu telah terjadi.  Subuh itu handphonenya tidak berbunyi.
            “Kenapa, Din?” kegelisahan yang tersimpan akhirnya mampu ditangkap oleh Ibunya.
            “Mah, kenapa yah semalem Dini mimpi.  Mama bawa mayat, terus ga tau kenapa mayat itu mama kasih ke Dini”
            Firasat bisa jadi salah, namun perasaan ganjil yang Dini rasakan hari itu akhirnya terjawab saat seseorang dari kantor Victor menghubunginya.
            “Maaf, dengan Ibu Dini?”
            “Iya betul, ada apa?”
            “Ibu yang sabar yah.  Kami ingin mengabarkan bahwa Pak Victor mengalami kecelakaan dan terdampar”
            Orang tua Victor tidak memiliki handphone sehingga Victor menuliskan nomor Dini sebagai nomor darurat pada identitas dirinya.
            “Awalnya kita semua pake’ pelampung.  Tapi karena panas Pak Victor melepas pelampungnya.  Saat itu, dia mengeluarkan HP dan menelpon Bu Dini.  Nah, ga lama selepas nelpon tongkangnya terbalik.  Kita semua kecebur, tapi sayang Pak Victor belum sempet pake’ pelampung lagi.  Dia ga bisa renang, suasana gelap.  Kita ga bisa liat saat Pak Victor tenggelam”
            Jenazah Victor belum diketemukan.  Dini seolah merasa kehilangan pegangan.  Selama ini, Victorlah satu-satunya support atas dirinya yang nyaris putus asa dalam mendapatkan pekerjaan.  Kini, kegamangan dan kekosongan mengisi harinya.  Menanti kepastian kabar akan keberadaan Victor.
            Meski berat namun rasanya kepastian memang lebih baik.  Pasrah menerima kemungkinan terburuk.
            Dua hari kemudian, hari Jum’at, Dini kembali dihubungi oleh pihak kantor yang mengabarkan bahwa jenazah Victor telah ditemukan.  Harapan terputus, yang ada kini hanya kenyataan, bukan lagi kemungkinan.
            Malam minggu jenazah tiba di Bandung.  Malam itu  Dini tak hendak beranjak, seolah tak ingin jauh dari Victor yang kini tinggal jasad semata.  Lama Dini menatap dan menemani, sementara sebagian besar kerabat telah lelap dalam mimpi.  Namun jangan tanya berapa banyak air matanya saat itu, karena tak setetespun.
            Keesokan hari, saat pemakaman barulah Dini tersadar.  Ia baru merasakan bahwa Mas Andrinya kini sudah pergi untuk selamanya.  Ia tak mungkin kembali, dan ini bukan mimpi.  Barulah saat itu air matanya tumpah tak tertahankan.
           
Kalung Annisa
“Akang percaya Victor baik-baik aja di sana.  Selama ini akang kenal deket ama Victor.  Tapi yang akang khawatirkan, Bintang ga bisa bangkit lagi dari suasana ini”
            Lama Dini larut dalam kehampaan.  Berbagai dukungan diberikan, namun kesedihan tetap tak mungkin terelakkan.  Satu memori yang memberinya semangat adalah sebuah tulisan yang dikirimkan oleh Victor, sebelum ia berangkat menuju Kalimantan.
            “Seorang anak kecil bernama annisa dibelikan kaos kaki oleh ibunya.  Namun Annisa merengek, meminta sebuah kalung imitasi yang sangat indah.  Orang tua annisa mengabulkan, asalkan ia mau mengembalikan kaos kaki itu. Annisapun setuju.
            Setelah sekian lama, orang tua annisa meminta kalung itu.  Annisa menolak.  Ia terlanjur jatuh hati dan tak ingin kehilangan.  Ia menangis dan meronta, hingga orang tuanya tak lagi memaksa.
            Di dalam kamar, annisa merenung.  Mengapa dia sedemikian marah pada orang tuanya? Annisa menyesal dan memutuskan untuk menyerahkan kalung itu.
            Keesokan harinya, annisa menyampaikan keputusan itu kepada orang tuanya.  Orang tuanya sangat bahagia dan menerima kalung imitasi itu, kemudian menggantikannya dengan kalung yang asli, lebih indah dari yang sebelumnya.”
            Satu pesan tersirat di sana.  Victor seolah ingin menguatkan, bahwa seandainyapun mereka berpisah, percaya bahwa Allah akan menggantikan dengan sesuatu yang jauh lebih baik.  Pasti berat pada awalnya, karena rencana Allah memang tak selalu mampu untuk diterka.  Namun keyakinan bahwa Allah lebih luas pandangannya dan lebih memahami apa yang terbaik untuk hambaNya, setidaknya akan menguatkan.  Dan ini yang selalu berusaha Dini tanamkan dalam hatinya, agar tak terlalu jauh larut dalam keterpurukan.

*based on true story *
(seperti dituturkan oleh Dini) 
thanks for the inspiration

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Karena banyak yang mengalami kesulitan dalam mengisi komentar, berikut panduan singkatnya:
Untuk memberi komentar tanpa login, silahkan pilih 'Name/URL' pada kolom 'Beri komentar sebagai', lalu masukkan nama anda (URL silahkan dikosongkan). Kemudian masukkan komentar yang ingin disampaikan. Terimakasih

Ikhlas itu Perkara Hati

Sahabat, mari bicara tentang keikhlasan. Ikhlas adalah perkara hati, karenanya tidak ada yang berhak memberikan penilaian hanya berdasarka...