18 April 2011

Metamorfosis Di balik Musibah


Musibah tak selamanya berakhir duka. Ada saatnya ia justru mengundang syukur yang mendalam saat hikmah di balik musibah telah mampu dirasakan.
Hidayah tak selalu hadir dalam nuansa bahagia. Namun dalam bentuk apapun ia menyapa, pasti akan berbuah bahagia pada akhirnya.
Terkadang Allah justru menunjukkan hidayah di balik kelamnya musibah, bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Di bawah ini adalah salah-satu kisah tentang bagaimana cara Allah memberikan hidayahnya kepadaku, setelah perenungan panjang yang aku lakukan saat mengalami musibah.


Sahur
Bulan Ramadhan adalah bulan utama yang penuh berkah. Setiap orang pasti menyimpan kisahnya sendiri. Namun, sungguh tak pernah terbersit dalam pikiranku akan mengalami kejadian itu, tepat saat sebagian besar umat muslim sedang berbahagia merenda hari di bulan yang paling mulia ini.

Dini hari itu, seperti biasa mama membangunkanku untuk makan sahur. Sudah menjadi kebiasaan bagi keluarga kami untuk makan sahur secara berjamaah di ruang makan. Saat terbangun itulah aku terperanjat karena kedua kakiku sama sekali tak dapat kugerakkan.

“Maaa….,maaa… kakiku…!!” aku berteriak panik.
Mama, papa, dan kakak menghampiri aku yang masih terbaring di tempat tidur.

“Kenapa Sa, teriak subuh-subuh” seru mama begitu berada tepat di sampingku.

“Kakiku….kakiku nga biha digerakin” kataku dengan bentuk suara yang mendadak jadi cadel.

“Eh, manja banget sih. Suaranya dibikin cadel segala” Tegur kakak waktu itu.

“Bene an.., memang sua aa ini..” aku berjuang melafadzkan kalimat dengan ucapan sempurna.

“Coba digerakin, masa’ ga bisa?! Kenapa?? kok bisa?” kali ini suara mama berubah khawatir.

“Nga biha…,huhah”

“Astaghfirullah, cepet bawa ke rumah sakit”

Stroke Ringan
Saat itu juga aku langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat. Subuh ramadhan itu telah membawa suasana panik dalam keluargaku. Setelah dilakukan pemeriksaan, dokter mengatakan bahwa aku terserang stroke ringan.
Bayangkan, di usiaku yang masih terbilang muda, aku harus menderita penyakit yang mendengar namanya saja cukup membuat semua orang bergidik ngeri. Sebuah mimpi buruk yang harus aku jalani di dalam episode hidupku.

Terapi awal dilakukan dengan menggunakan alat kejut listrik. Syaraf-syarafku saat itu kurang merespon dengan baik karena anggota tubuhku sebelah kiri mengalami kelumpuhan.

Aku menangis kalut. Malu, takut, serta bayangan masa depan yang suram tak mampu aku tepis meski seluruh anggota keluarga berusaha memberikan suntikan semangat untukku.

Di rumah sakit, dengan berbekal ponsel aku mencoba berbicara dengan beberapa orang teman melalui ruang chating sebuah jejaring sosial.

“Dian, aku sekarang di Boromeus”

“O ya? sakit apa teh? sejak kapan?”

“Tadi subuh, Di. Kata Dokter stroke ringan. Pas sahur tau-tau kaki aku ga bisa digerakin. Terus aku langsung digotong ke sini”

“Innalillahi, sekarang gimana teh? dah baikkan?”

“Belum, masih kaku. Lum bisa digerakin. Tadi dah diterapi, disetrum.”

“Ya Allah, yang sabar ya teh…”

Aku chating dengan salah-satu rekan kantor, berusaha mengusir sepi dan kalut yang aku rasakan.

***
Keesokan harinya, beberapa teman kantor datang menjenguk. Berbagai ungkapan prihatin dan kalimat motivasi bergulir. Aku tau, semua orang berusaha menghibur agar aku tak larut dalam putus asa dan kesedihan.

“Aku ga mau pake’ tongkat. Aku pengen bisa jalan lagi…” dengan diselingi tangis aku mengungkapkan kekhawatiranku.

“Ersa pasti sembuh kok. Semuanya pasti akan balik kaya’ dulu lagi. Sekarang istirahat dulu aja, jangan mikirin yang berat-berat”

“Iya teh, pasti sembuh kok, yakin aja. InsyaAllah teteh bisa jalan lagi”

Masa Lalu
Jika harus mengingat masa lalu, jujur saja aku malu. Aku yang terkadang lalai, dengan ringannya meninggalkan shalat lima waktu tanpa merasa takut akan dosa. Aku juga begitu sering berlaku dan berkata kasar pada kedua orangtua. Jangankan amalan sunnah, kewajiban sebagai seorang muslimpun terkadang tak terlalu aku indahkan.
Ah…, aku tak tau persisnya pada nomor keberapa aku menempatkan Allah di dalam hati dan hidupku. Aku begitu menikmati hidup.


Hijrah
Betapa panjang rasanya proses penyembuhan yang aku lalui. Perasaan psimis, malu, takut selalu menjadi teman setiaku setiap hari. Aku tak berani membayangkan bagaimana dan akan jadi apa aku nantinya. Aku hanya bisa pasrah terbaring di tempat tidur. Sungguh, saat-saat seperti ini dukungan dari orang-orang terdekat terasa sangat berarti.

Setelah satu bulan dalam perawatan, aku mulai bisa kembali ke kantor meski hanya setengah hari. Aku masih harus menjalani rangkaian terapi serta bolak-balik ke dokter.

***
Setahun kemudian, kondisi kesehatanku berangsur membaik, meski belum sepenuhnya pulih. Hanya syukur yang mampu aku ucapkan, saat merasakan kakiku akhirnya bisa kembali kugerakan untuk berjalan. Sungguh sebuah nikmat yang luar biasa.

Peristiwa ini akhinya membawaku dalam sebuah perenungan. Betapa aku sangat bersyukur atas kesempatan yang masih Allah berikan. Aku baru menyadari bahwa Allah sangat menyayangiku, dengan kesembuhan yang perlahan Ia hadiahkan untukku.

“Dian, aku mau pake’ jilbab”

“Alhamdulillah.., kapan teh?”

“InsyaAllah Ramadhan ini. Aku malu sama Allah. Aku ngerasa harus merubah diri dan penampilan aku. Aku ga nyangka masih dikasih kesempatan untuk bisa jalan lagi kaya’ sekarang. Allah tuh bener-bener baik ya, Di. Aku juga pengen rajin ikut pengajian. Bantu aku ya. Aku ingin lebih deket lagi sama Allah” perkataanku demikian mantap, mewakili kesungguhan hati untuk menjadi hamba Allah yang tak lagi lupa akan keberadaaNya. Inilah hidayah itu. Mutiara yang sangat berharga dan akan selalu kujaga. Kan ku genggam hidayah ini erat-erat selamanya. “Ya Rabbi, istiqomahkan aku untuk teguh berjalan di atas kebenaranMu”.


*Seperti dituturkan oleh Teh Ersa (bukan nama sebenarnya)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Karena banyak yang mengalami kesulitan dalam mengisi komentar, berikut panduan singkatnya:
Untuk memberi komentar tanpa login, silahkan pilih 'Name/URL' pada kolom 'Beri komentar sebagai', lalu masukkan nama anda (URL silahkan dikosongkan). Kemudian masukkan komentar yang ingin disampaikan. Terimakasih

Ikhlas itu Perkara Hati

Sahabat, mari bicara tentang keikhlasan. Ikhlas adalah perkara hati, karenanya tidak ada yang berhak memberikan penilaian hanya berdasarka...