25 April 2011

Nanti ketemu di sana yah....!


Satu kalimat yang begitu aku suka. Entahlah, tapi bagiku kalimat itu begitu damai, mampu menentramkan hati yang sedang berduka saat menghadapi kata perpisahan.

Tidak percaya??

Coba bayangkan ketika kita HARUS menghadapi suasana perpisahan, mungkin dengan orang tua, saudara, anak, pasangan, atau siapa saja yang kita sayangi. Tak dapat dipungkiri bahwa rasa pilu selalu diam-diam menelusup dengan pandainya ke dalam ruang hati kita, sekuat apapun kita berusaha untuk menutupi.

Sering kita mendengar kalimat seperti ini : "setiap pertemuan pasti ada perpisahan",
"Di dunia ini memang tak ada yang abadi",
"Segala sesuatu yang ada di dunia ini pasti akan berubah", dsb.
Sekedar kalimat penghibur?? tidak juga. Karena apa yang disebutkan dalam kalimat itu memang benar adanya. Tapi apakah secara otomatis akan memusnahkan duka yang bermain di dalam perasaan kita?

Sekarang kembali lagi pada suasana yang tadi kita bayangkan.
Ketika hati sedang berjuang melawan kesedihan, lalu keluar kalimat seperti ini "Udah jangan sedih,nanti kan kita ketemu lagi di sana bulan depan"

Tiba-tiba saja hati memberikan respon yang luar biasa, untuk satu kalimat sederhana yang ditangkap oleh telinga. Ada bayangan akan sebuah pertemuan kembali. Pikiran mengatakan bahwa perpisahan kali ini hanya bersifat sementara.

Yah...mungkin bisa jadi hanya permainan pikiran atau yang sering kita kenal dengan istilah positif thinking. Berusaha berpikiran positif, memikirkan sesuatu yang indah di depan nanti, di balik duka yang saat ini sedang dihadapi. Tapi tetap saja, bagiku kalimat itu begitu AMPUH

Aku memang termasuk orang yang cengeng , begitu gampang mengeluarkan air mata saat suasana haru menyelimuti (tapi tidak saat sedang nonton film india lho...)

Sejak kecil perpisahan memang sudah begitu sering aku alami. Mulai dari kepergian abang yang mulai merantau ke kota Bandung sejak duduk di bangku SMU (waktu itu aku baru naik ke kelas 3 SD), lalu ibu tiap 3 hari dalam satu pekan pergi ke kota nenek untuk berdagang (ayah yang memang kerja di lain kota hanya pulang tiap akhir pekan), dua tahun kemudian abang yang nomor dua ikut merantau melanjutkan pendidikan ke STM.
Hampir 4 tahun mayoritas hari2 dilalui bersama 3 gadis manis (aku dan dua orang kakak perempuanku). Masa yang paling kami rindukan saat itu adalah akhir pekan, karena ada bayangan akan sebuah pertemuan bersama kedua orang tua.

Menjelang menginjakkan kaki ke bangku SMU, kakak perempuanku ikut merantau untuk melanjutkan kuliah di Bandung, diikuti oleh kakak terakhir yang pindah SMU ke kota nenek. Sedangkan aku yang saat itu sudah terlanjur didaftarkan di SMU setempat, harus menunggu hingga habis caturwulan pertama. Yups, selama satu catur wulan aku tinggal sendirian di rumah, kecuali pada akhir pekan.
Kemudian pada tahun 2002 tiba giliranku untuk merantau. Di Bandung aku hidup bersama kakak perempuan dan abang yang pertama, tapi jauh dari orangtua.

Lalu, tahap perpisahan selanjutnya yang aku rasakan adalah saat kepergian kakak perempuanku yang harus tinggal bersama suaminya di Indramayu. Rasanya semakin sepi saja. Hanya saat-saat tertentu kami bisa berkumpul sebagai keluarga utuh, itupun tak memakan waktu lama.

Belum lagi suasana perpisahan dengan teman sekolah, sahabat seperjuangan di kampus, atau teman bermain sewaktu kecil.

Seolah tak pernah ada kata siap untuk sebuah perpisahan, karena sejak kecil mengalami suasana ini tapi toh tidak lantas membuatku menjadi 'biasa'. Tetap saja ada duka yang bersembunyi.

Terkadang sempat terbersit tanya, kapan perpisahan demi perpisahan akan berakhir?? Tidak bisakah bertemu untuk tak lagi berpisah? ternyata jawabannya adalah TIDAK.

Ok..., bukan saatnya untuk berduka, karena kita punya satu mantera..!! Betul, kalimat di atas adalah penyemangat, harapan, sekaligus doa, untuk sebuah pertemuan.
Tapi bagaimana untuk sebuah perpisahan yang abadi?? masih mungkinkah mengharapkan pertemuan?
Kita bisa merubah orientasi pertemuan dalam kalimat itu menjadi lebih luas maknanya. Sebuah pertemuan di kampung abadi.
Kalimat penyemangat untuk menebar sebanyak-banyaknya amalan, berharap Allah ridho dan memberikan rahmatNya. Karena ini adalah kunci utama bagi kita untuk dapat berkumpul dengan orang2 yang kita sayangi di sana. Ya, di syurga.
Kalimat harapan sekaligus doa, berdoa kebaikan untuk mereka yang kita harapkan pertemuan dengannya.
Bayangkan bahwa pertemuan di sana adalah abadi, dan tak akan pernah lagi menemui kata perpisahan.

So, mari berjuang, berlomba dan saling mendoakan, agar kita termasuk ke dalam golongan insan yang diridhoi...
Dan katakan pada orang-orang yang kita cintai...."Nanti ketemu di 'sana' yah....!"

6 komentar:

  1. karena lahir, dan mati pun akan sendirian.. sendirian juga akan melahirkan kedewasaan dan kemandirian yang lbih dini dibanding yg masih tinggal dengan ortu.. sikap fighting orang yg merantau lbh tinggi drpada orang yg tinggal dekat dgn keluarganya.. allahu a'lam....
    ~berat pissaan kata2na... hahaha.. :D

    BalasHapus
  2. iya euy...tumben...geuning bisa ngomong yg berat2 juga... *kidding
    so..., berani jadi anak rantau jg kah??! :D

    BalasHapus
  3. hahaha, beda dgn org sumatra ato jawa yg suka merantau, org sunda sebaliknya.. orang tua mereka tidak ingin melepas anak2nya jauh2.. karena mrka khawatir tidak bisa meminta bantuan jika ada kesulitan.. beski begitu tak sedikit juga org sunda yg merantau k luar jabar ato ke luar pulau.. makanya, saya juga pengen nyoba merantau (ke cianjur), hahha...:D

    BalasHapus
  4. Assalamu 'alaikum .. salam kenal ..
    Mmmm... ada baiknya juga sering mengalami perpisahan ... supaya jika tiba saatnya perpisahan yang disebut kematian ... kita bisa lebih bersiap2 karena pasti kan datang ...

    Nice theme .. keep writing
    Wassalam,
    Mugniar Marakarma
    mugniarm.blogspot.com

    BalasHapus
  5. @kemal: eehmm.... cianjur..oh cianjur.... tau deh tuh...,kota kenangan sekaligus kota harapan.... :P

    @mba' mugniar: salam kenal juga yah... :)
    yups..keep writing!!

    BalasHapus

Karena banyak yang mengalami kesulitan dalam mengisi komentar, berikut panduan singkatnya:
Untuk memberi komentar tanpa login, silahkan pilih 'Name/URL' pada kolom 'Beri komentar sebagai', lalu masukkan nama anda (URL silahkan dikosongkan). Kemudian masukkan komentar yang ingin disampaikan. Terimakasih

Ikhlas itu Perkara Hati

Sahabat, mari bicara tentang keikhlasan. Ikhlas adalah perkara hati, karenanya tidak ada yang berhak memberikan penilaian hanya berdasarka...