07 Februari 2012

Pesan Untuk Pak Slamet Widodo

Sobat, kali ini aku kembali ingin berkisah.  Bukan kisah pribadi, melainkan pengalaman yang aku comot dari seorang kakak, yang ia sampaikan penuh antusias saat malam telah melewati batas tengahnya.  Saat mata mulai meredup, dan mulut tak terhitung entah berapa kali menguap lebar.

Ini kisah nyata kakakku lho.  Selamat menikmati.

Aku dan liza adalah sepasang sahabat, dekat, akrab.  Sejak SMP hingga mengenakan seragam putih abu-abu, kian lekat hubungan pertemanan kami.  Di sekolah kami, SMUNSA Jebus Bangka, kami duduk satu meja.


Aku ingat saat itu di kelas kami ada tes mata pelajaran oleh Pak Slamet Widodo.  Aku dan Liza memang lumayan bersaing dalam hal pelajaran.  Untuk satu urusan itu saja.  Selebihnya, kami tetap akrab dan harmonis, he he.


Untuk tes kali ini aku memang telah belajar penuh keseriusan.  Hafalan demi hafalan dapat kulahap dengan baik, sehingga aku yakin tes dapat terlewati dengan memuaskan.

Satu persatu kertas soal diedarkan.  Aku yang duduk di pojok paling depan (di depan meja guru) pun telah memegang kertas yang berisi deretan pertanyaan.  Setelah meneliti setiap rangkaian soal, ada buncahan bahagia.  Yes!  Semuanya ada dalam kepalaku.  Alhamdulillah.  Ga sia-sia belajar semalam.

Lancar saja tanganku menari di atas kertas jawaban.  Saat semua soal sempurna kuselesaikan, aku mendata kembali jawaban dari atas.  Semata bentuk ketelitian, khawatir ada jawaban yang terlewat.  Setelah yakin untuk kali kesekian, akupun bersuara pelan.

"Za, dah beres?"

"Udah."

"Kita ngapalin bwt pelajaran agama yuk."

Liza menggangguk.  Pada jam berikutnya memang akan ada tes Agama.  Aku yang merasa telah menuntaskan tes hari itu, merasa sayang jika waktu terbuang dalam bengong berkepanjangan.

Perlahan aku dan Liza mengambil catatan buku agama dari dalam laci, kemudian membuka tiap lembar buku tersebut.  Posisi buku kami simpan di depan laci (masih di bawah meja), tak ingin mengusik ketenangan ujian.  Aku melihat Pak Slamet mengawasi jalannya ujian dari sudut luar ruangan.

Selang beberapa waktu, tes pun berakhir.  Saat semua jawaban terkumpul di hadapannya, Pak Slamet tiba-tiba berdiri. 

"Dian dan Liza, jangan dikira saya tidak tau!  Kalian tadi mencontek kan?!"  Tuduhnya begitu menyakitkan.

Mataku membelalak, tersinggung dengan ucapan sosok yang harusnya aku hormati itu.  Liza menatap heran, sama halnya seperti aku.  Lalu serempak kami melakukan pembelaan.

"Tidak, Pak!  Kita kerja jujur.  Murni hasil hafalan, bukan nyontek."

"Alah, emang tadi saya ga liat."

"Enak aja, ga pak.  Saya berani bersumpah."  Aku kembali menegaskan.  Tak terima rasanya dituduh secara tidak bermartabat.  Terbayang usaha semalam menghafal teori demi teori, penuh perjuangan.  Dan kini, perjuanganku dihinakan begitu saja.

"Saya ga mau tau!!  Kalian berdua harus mengulang sepuluh kali.  Tulis jawaban ujian tadi, besok kumpulkan ke saya!"

Emosi berbalas emosi.  Aku semakin tak terima.  Spontan aku melempar kertas ujian yang telah dikembalikan.

"Saya bilang ga nyontek, kok Bapak malah ga percaya.  Pokoknya saya ga akan mengulang!  Enak aja."

Kian panas situasi, hingga akhirnya Pak Slamet mengeluarkan kalimat pamungkas.

"Saya tidak akan mau lagi mengajar di kelas ini, selama Dian dan Liza ga mau minta maaf!"   Bentakannya membuat suasana bisu.  Seisi kelas diam, bingung, dan resah.

Setelah membereskan tas kerjanya, Pak Slamet berlalu meninggalkan ruangan dengan penuh amarah.

"Sstt,, Dian, minta maaf sana ke Bapak.  Gawat nih, kita semua jadi kena batunya."  Sang ketua kelas bersuara, mewakili perasaan teman satu kelas.

"Iya Dian, sana.  Cepetan minta maaf."

"Enak aja.  Beneran kok aku sama Liza ga nyontek.  Kalian ikut-ikutan ga percaya sih."  Aku masih saja dongkol.

"Udahlah, Yan.  Kita minta maaf aja."  Liza mulai melunak tampaknya.

"Tapi kita kan ga salah.  Ga mau ah."  Heran juga mengapa Liza begitu mudah terpengaruh.  Apa dia tidak tersinggung dengan tuduhan tadi?  Fitnah bagaimanapun memang lebih kejam dari memfitnah.  Upss

"Iya, kita memang ga salah.  Tapi udahlah, daripada panjang urusannya.  Yuk, kita minta maaf aja."

Aku diam, sementara hati terus berontak.  Ingin teriak rasanya mengatakan pada dunia, bahwa aku tidak bersalah.

"Yuk."  Liza menarik tanganku.  Tak ada pilihan.  Meski masih ngedumel akhirnya kuturuti juga saran Liza.

Di ruang guru aku dan Liza menyatakan permintaan maaf (yang masih ganjil menurutku).  Dan konsekuensinya, aku dan Liza harus menulis ulang jawaban ujian kami sebanyak sepuluh kali.

***

Hitungan tahun terlewati.  Saat lepas dari bangku kuliah, tiba-tiba saja memori otakku berputar, lalu berhenti pada satu kisah.  Ya, kisah tuduhan yang hingga kini sangat mengganjal di hati.  Mengapalah tuduhan demikian kejam bisa diarahkan secara sembarangan, tanpa bukti, tanpa penjelasan.

Satu persatu kejadian coba kucermati. Dan..., AH!!! Aku tau.  Otakku seolah menekan tombol pause, dan berhenti pada satu kejadian.  Saat aku menghafal pelajaran agama, membuka tiap lembar tulisan, pastilah Pak Slamet mengira aku sedang mencontek.  Membuka catatan saat ujian berlangsung.  Di barisan depan, seakan menantang sang guru.  Oh tidak!  Seharusnya beliau berfikir bahwa tak mungkin pula hal bodoh itu kulakukan.  Mengapa tidak saat itu juga beliau menegur?

Sampai saat ini, ingin rasanya bertemu dengan Pak Slamet atau Kamaliza.  Menjelaskan runtutan peristiwa, hingga semua menjadi clear.  Hingga tak ada kesan hitam di mata beliau.  Tak ada cerita (yang mungkin akan beliau kisahkan ke setiap murid-muridnya), tentang seorang siswa yang berani demikian lancang membuka catatan, tepat di depan meja guru.  Dan siswa tersebut dengan keras kepala pula telah melemparkan kertas ujian, karena tak jua mau mengakui kesalahan.  Hhm....

Pak Slamet.  Di manakah kini?  Satu menit saja kumohon pertemukan ya Allah, sekadar meluruskan pemahaman.  Semata ingin membersihkan nama baik.  Karena aku, siswa yang Bapak tuduh, bukanlah anak yang suka mencontek.



*Heheheee, sabar ya Kak!

2 komentar:

  1. Ternyata bener ya, batu lawan batu gak akan selesai masalahnya. Hoho,,, semoga jadi pelajaran berharga buat kita semua, sejatinya, penyelesaian yang dibarengi dengan emosi selalu berakhir tidak menyenangkan. :-)

    BalasHapus
  2. betul,,, penyelesaian dgn kepala dingin pasti akan lebih bijak hasilnya,,, :)

    BalasHapus

Karena banyak yang mengalami kesulitan dalam mengisi komentar, berikut panduan singkatnya:
Untuk memberi komentar tanpa login, silahkan pilih 'Name/URL' pada kolom 'Beri komentar sebagai', lalu masukkan nama anda (URL silahkan dikosongkan). Kemudian masukkan komentar yang ingin disampaikan. Terimakasih

Ikhlas itu Perkara Hati

Sahabat, mari bicara tentang keikhlasan. Ikhlas adalah perkara hati, karenanya tidak ada yang berhak memberikan penilaian hanya berdasarka...