24 Juli 2012

Etika meng-copy

Selamat sore sahabat!  Hari keempat berpuasa di bulan Ramadhan.  Masih semangat??!

Ok deh, kali ini saya mau bahas tentang satu tema sederhana.  Sengaja sederhana, biar nggak bikin tambah laperrrrr
(Emang sejak kapan juga blog ini bermuatan tulisan berat?  Bukannya dari dulu selalu ringan dan renyah??)  He he.

Sahabat pernah nulis nggak?  Entah nulis apa kek.  Blog, puisi, cerpen, artikel, atau yahh minimal status fb or twitter gitu?  Pasti pernah donk yah?  Iya kan?  Ayo ngaku!  (lho).


Nah, gimana perasaan sahabat jikalau, andaikata, seandainya suatu hari, secara tiba-tiba ketika sahabat iseng search di mbah google, jrenggg!! tiba-tiba tulisan sahabat nongol tuh di blognya orang laen, tiada angin tiada hujan, alias tanpa tercantum di sono dari mana sumber aslinya.

Hhmm..., sekarang kita balik yah.  Sahabat pernah nggak, mencantum-ulang tulisan orla (orang laen) di blog pribadi sahabat, meng-copy paste secara mentah-mentah, TANPA menyebutkan sumber (nama penulis atau link) tulisan yang bersangkutan??!  Hehe, ngaku deh.  Inget lho, lagi shaum
Kalo pernah, gimana perasaannya?

Ok, kali ini kita bahas tentang etika meng-copy paste tulisan orang lain.
Mungkin sebagian orang ada yang senang ketika tulisannya dilirik, kemudian dishare kembali.  Apalagi jika memang tujuan awal menulis semata ingin berbagi.  Pasti sangat terbantu karena tulisannya dicantumkan di berbagai blog pribadi milik orang lain.

Yah, bisa jadi tak akan menjadi masalah, selama tulisan yang dicopy paste tidak digunakan untuk tujuan komersial.  Tulisan yang bagus memang akan semakin menyebar manfaatnya jika makin banyak dishare ulang.

Tapi tahukah sahabat, secara etika ini kurang baik lho.  Karena bagaimanapun, tulisan adalah hasil karya yang perlu dihargai dan melekat padanya hak si pemilik karya.  Sependek apapun tulisan, selama itu original karya si penulis, sebaiknya kita sebutkan sumber asli atau nama si pencetus tulisan, jika ternyata kita tertarik untuk mencantumkan tulisan tersebut ke dalam blog pribadi milik kita atau ke mana pun kita ingin menempelkan tulisan tersebut.

Ok deh, sebagai contoh kita lihat tiga link berikut yuk (klik masing-masing link-nya),

Ceng Zamzam

Ahmad Zamzam Zainal Muttaqiin

Ahmad Zamzam Zainal Muttaqiin

Isi tulisannya sama?  Yups!  Sama persis.  Satu tulisan dalam tiga blog berbeda, tiga admin blog.  Lalu siapa di antara tiga pemilik blog tersebut sebagai pencetus awal dari tulisan yang dibagikan??  Bingung yah...

Apa yang sahabat pikirkan tentang kejadian ini?  Yak, pasti dua dari tiga orang telah "meminta" untuk mencantum ulang tulisan di blog pribadinya.  Tapi berhubung pencatuman tulisan tidak disertai dengan penyebutan sumber asli (link atau nama penulis), sehingga menjadi tidak jelas dari mana sesungguhnya tulisan tersebut bermuasal.

Nah, sekarang klik link di bawah ini yuk.

Ahmad Zamzam Zainal Muttaqiin (Ceng Zamzam)

Ini blog yang berbeda dari tiga blog di atas.  Tapi lagi-lagi isi tulisannya kok sama yaaah??
Ternyata justru ini dia sumber asli tulisan dari beberapa blog di atas, pencetus awal sekaligus ide utama, yang kemudian di-copy paste oleh ketiga blog sebelumnya.

Yak, ini adalah contoh sederhana.  Tulisan yang di-share memang hanya tulisan ringan biasa, sederhana, dan kebetulan berasal dari tulisan saya sendiri.
Untuk kasus ini sebetulnya saya senang karena beberapa adik-adik dengan 'kerelaannya' telah mau membantu untuk berbagi tentang tulisan tersebut. 

Tetapi secara umum, tetap akan lebih ahsan dan lega, jika kita bersedia mencantum sumber asli atau nama penulis.

Kita gak perlu memberikan penghargaan berupa rupiah, karena bisa dengan mudah kita share secara gratis.
Bentuk penghargaan yang bisa kita berikan cukup berupa pencantuman sumber asli (baik berupa link sumber maupun nama si penulis) di bagian akhir (atau bisa juga di awal) tulisan yang kita copy paste.  Kalau memungkinkan, akan lebih bagus lagi jika sebelum men-share, kita minta izin kepada yang bersangkutan terlebih dahulu.  Tetapi jika pun tidak memungkinkan, yah cukup bagi kita untuk tidak melepas identitas penulis dari hasil goresannya.

Sahabat, selain untuk kenyamanan si penulis 'asli', pencantuman ini juga ternyata sangat bermanfaat lho untuk kita sebagai pihak yang membantu men-share tulisan tersebut.  Demi keamanan dan kelegaan kita juga kok.
Kenapa??  Bukan apa-apa.  Karena bukan tulisan kita, bukan bersumber dari kepala kita, tentu kita tidak ingin suatu saat dimintai pertanggungjawaban dari kata-kata yang tertera di dalamnya.  Jika suatu saat ada yang 'menggugat' karena merasa tidak setuju dengan opini tulisan yang kita bagi, kita dapat meminta pihak tersebut untuk langsung menghubungi si penulis 'asli', karena memang dia adalah pencetus utamanya.

Kalau kita tidak mencantumkan sumber asli tulisan, dan tiba-tiba kita di'serang' karena isi tulisan yang dianggap kurang baik, gimana tuh??  Rugi banget kan?  Toh yang nulis bukan kita?  Kenapa kita yang dimarah-marahin?
Nah, begitu kira-kira ilustrasi sederhananya.

Belum lagi jika suatu saat kita ketahuan meng-copy paste tulisan seseorang yang ternyata tidak bisa diajak kompromi.  Bisa jadi orang yang bersangkutan tidak terima dan akhirnya berbuntut panjang bin ribet.  Kita pasti nggak mau terlibat masalah seperti itu kan?

Nah, mulai sekarang yuk kita pelajari lagi tentang etika di dunia kepenulisan.  Semoga yang belum faham menjadi faham, dan yang sudah faham menjadi lebih faham lagi dalam pengamalannya.  Kita sama-sama belajar, demi kebaikan dan kenyamanan semua pihak.

Di akhir tulisan, mohon maap yah.  Link-link di atas hanyalah contoh agar bahasan kali ini dapat lebih mudah dipahami.  InsyaAllah tidak ada maksud dan tujuan lain, kecuali semata ingin berbagi dan belajar bersama
Dan sekali lagi, saya ucapkan terimakasih kepada yang telah bersedia membagi tulisan saya.  Berharap semoga makin luas dan makin panjang manfaat yang bisa disampaikan. 

2 komentar:

  1. mari kita dukung gerakan anti copy paste
    bersihkanbloggercopas.blogspot.com

    BalasHapus
  2. Bagi yang ingin copy paste tulisan orang lain, jangan lupa ya ijin dulu ke pemilik tulisan. Kalo tidak diijinkan harus kita terima dan menghargai karya orang lain.

    BalasHapus

Karena banyak yang mengalami kesulitan dalam mengisi komentar, berikut panduan singkatnya:
Untuk memberi komentar tanpa login, silahkan pilih 'Name/URL' pada kolom 'Beri komentar sebagai', lalu masukkan nama anda (URL silahkan dikosongkan). Kemudian masukkan komentar yang ingin disampaikan. Terimakasih

Ikhlas itu Perkara Hati

Sahabat, mari bicara tentang keikhlasan. Ikhlas adalah perkara hati, karenanya tidak ada yang berhak memberikan penilaian hanya berdasarka...