13 September 2012

Menghafal Alqur'an, mimpikah?

...
"Oy, klo boleh tau wirda dh hafal brp juz?"
"Insya Allah 20."
"subhanallah! Lbh dr separuh.... Dulu ngapalinnya dr umur brp?"
"Kls 1."
...
(Rabu, 29 Agustus 2012)

Sobat, yang di atas itu adalah potongan obrolanku dengan Wirda (Putri pertama dari Ust. Yusuf Mansur).  Wirda saat ini masih duduk di kelas 1 SMP, dan telah hafal 20 juz Alqur'an.  MasyaAllah!!

Ah, selalu ada saja anak yang membuat hati ini 'iri', karena kekonsistenan mereka, rasa cinta mereka, kedekatan interaksi mereka, dengan alqur'an.  Dan mereka telah mengambil start jauh lebih awal, hingga di usia masih sangat belia telah mampu menyimpan berjuz-juz kalamullah di dalam dadanya.

Beberapa nama lain seperti Syakir Daulay dan Zamzam juga adalah generasi Indonesia yang membuat saya 'jatuh cinta' pada kefasihan dan kedekatannya dengan Alqur'an.  Belum lagi jika kita berselancar pada informasi seputar anak-anak 'ajaib' yang berasal dari berbagai negara.  Banyak dari mereka yang mampu menghafal Alqur'an utuh 30 juz, disertai pemahaman maknanya, pada usia balita!  Subhanallah.


Bulan lalu saya membeli buku yang berjudul Balita pun Hafal Alqur'an karya Salafuddin Abu Sayyid.  Sengaja saya membeli buku ini sebagai suntikan motivasi, pada jiwa yang saat itu masih menyimpan keraguan tentang mungkinkah bagi saya untuk menghafalkan Alqur'an??

Beberapa orang mungkin akan berpendapat bahwa ingatan seorang balita memang masih sangat kuat, sehingga mudah bagi mereka untuk merekam sebanyak apapun memori.  Yah, memang tidak salah.  Tapi pada bagian kedua buku tersebut juga ternyata menceritakan mereka yang telah berusia lanjut, sangat renta, tapi mampu menghafal Alqur'an.  Ada yang baru memulai pada usia 70 bahkan 80-an tahun.  Mereka mengambil start pada usia itu, dan mereka berhasil merekam 30 juz Alqur'an dalam ingatannya!  Luar biasa bukan?!

Yah, memang semua bermula kepada niat dan kesungguhan.  Menghafal Alqur'an memang harus diniatkan.  Memohon restu dari Allah SWT, agar dimudahkan dan dijauhkan dari segala rasa malas.

Entahlah.  Mungkin sebagian orang masih bertanya, untuk apa menghafal Alqur'an.  Haruskah dihafal?  Tidak cukupkah dengan rutin membaca dan mentadabburi semata?  Mengapa harus bersusah payah menghafal??

Sobat, Rasulullah SAW bersabda:
”Allah subhanahu wata’ala memiliki ahli-ahli dari golongan manusia, yaitu ahlul Qur’an (orang yang hafal & mengamalkannya), mereka adalah ahli Allah (wali Allah), dan memiliki kedudukan khusus."

Tidakkah kita ingin menjadi manusia yang memiliki kedudukan khusus di sisi Allah SWT?

Satu ayat yang kemudian menyadarkan saya, bahwa Alquran itu memang dapat dan sangat mungkin untuk dihafal adalah: 
"Walaqad yassarnal qur`ana lidzdzikri fahal min muddakir…."
(Sungguh Kami telah mudahkan Al-Quran untuk diingat (dihafal). Adakah orang yang mengambil pelajaran…?) (QS al-Qamar, 54:17)

Itulah janji Allah.  Ia mudahkan Alqur'an untuk diingat.  Lalu maukah kita mengambil pelajaran??


Sobat, itu mimpi saya.  Mimpi untuk dapat menghafalkan Alqur'an.  Mimpi membentuk keluarga, anak-anak, yang hafidz dan juga hafidzah.  Mimpi yang saya tuangkan dalam do'a kepadaNya.

Sebuah upaya mungkin belumlah maksimal, meski belakangan saya mulai sibuk mencari sebanyaknya informasi, mulai dari metode menghafal Alqur'an, hingga beberapa lembaga tahfidz yang mungkin bisa saya kunjungi.

Urat mimpi saya sempat kembali mengendur, saat sebagian besar para penghafal Alqur'an di Indonesia adalah mereka yang tinggal di dalam lingkungan pesantren, dengan metode hafalan setiap hari bersama seorang guru.  Sedangkan saya??  Saat itu saya berfikir bahwa mungkin memang sulit bagi seorang pekerja (yang harinya lebih banyak dihabiskan di tempat kerja) seperti saya untuk menjadi penghafal Alqur'an, terutama dalam masalah konsistensi.

Tapi sobat, bukankah tidak ada yang salah dari sebuah mimpi?  Semangat kembali menggiring saya untuk mencari alternatif lain, hingga pada akhirnya saya menjejakkan ikhtiar pada sebuah metode yang digagas oleh Ustadz Yusuf Mansur.  Sejak tanggal 11 September 2012 lalu, saya resmi belajar di santri tahfidz online yang beliau dirikan.

Mungkin sederhana dan tidak muluk-muluk.  One Day One Ayat (ODOA). Meski hanya satu atau beberapa ayat dalam sehari, tapi bukankah itu jauh lebih baik daripada tidak sama sekali?  Perlahan tapi pasti, ayat demi ayat akan masuk, menelusup, lalu menetap di dalam hati.  Dan semoga usia masih menyampaikan saya untuk menggenapkan bilangannya menjadi 30 juz.  Allahumma aamiin (mohon aamiin kan juga dari pembaca yah).

Yuk sobat, jadikan salah satu dari sekian banyak mimpi kita seperti mimpi mereka.  Mereka yang memimpikan menjadi ahli qur'an, ahli Allah, orang-orang khusus yang Allah muliakan di sisiNya.

=============
Kalau bukan karena cinta,
Pastilah malas berlama-lama duduk bersama,
Kalau bukan karena cinta,
Tak akan betah berakrab dalam sapa nan mesra,
Kalau bukan karena cinta,
Berat pastinya menyimpan segala memory tentangnya di dalam jiwa
Namun akan berbeda rasanya, jika cinta sudah bersinggah....
 

Sobat, cintakah kita kepadanya??
=============
Allahummarhamnii bilqur'an...

5 komentar:

Karena banyak yang mengalami kesulitan dalam mengisi komentar, berikut panduan singkatnya:
Untuk memberi komentar tanpa login, silahkan pilih 'Name/URL' pada kolom 'Beri komentar sebagai', lalu masukkan nama anda (URL silahkan dikosongkan). Kemudian masukkan komentar yang ingin disampaikan. Terimakasih

Ikhlas itu Perkara Hati

Sahabat, mari bicara tentang keikhlasan. Ikhlas adalah perkara hati, karenanya tidak ada yang berhak memberikan penilaian hanya berdasarka...