04 Oktober 2012

IMPIAN CAHAYA

                    Gemetar tanganku membuka lipatan kertas kumal itu.  Kertas impian Cahaya yang beberapa hari lalu sempat kuabaikan, namun begitu mengusik penasaran kini.  Rangkaian kalimat singkat beradu dengan kabut yang mengaburkan pandangan.  Sesak.

***

            “Mak, sudah lihat kalender?”  Aku menghentikan gerakan tangan dari mencuci sayuran, menoleh sejenak ke sumber suara.  Di depan pintu dapur tampak Cahaya tengah mengulas senyum.

            “Emang kita punya kalender?”  Kulanjutkan kembali aktivitas yang tertunda, menyiapkan bahan untuk dagangan pecel pagi ini.  Meski urung namun kujawab jua pertanyaan Aya, panggilan untuk Cahaya.

            “Ada, Mak.  Tuh, di depan.”  Ah ya, aku ingat.  Satu karton bekas yang ditulisi dengan rangkaian angka dan hari beserta keterangan singkat kini terpajang di ruang depan.  Kalender hasil kreasi tangan Aya.  Mungkin bentuk protes atas sikapku yang enggan membeli kalender dikarenakan sayang akan rupiah.

            “Sebentar lagi tanggal sembilan Desember.”  Kini Aya telah berdiri di sampingku.

           

            “Terus?”  Aku pura-pura tak faham, membuat semangat di wajah Aya seketika pudar.  Padahal mana mungkin aku lupa tanggal lahir putri semata wayang yang kini harus seorang diri pula kubesarkan.  Tapi apa pentingnya sebuah hari lahir?  Ulang tahun Aya ke berapa yang pernah kurayakan?  Kulirik Aya memendam kecewa.

            “Hhm..., Aya boleh minta sesuatu, Mak?”

            “Tahun lalu sepatu baru.  Tahun sebelumnya boneka Barbie.  Kau tau kan bagaimana perjuangan Emak waktu itu?  Sekarang dagangan Emak nggak selaris dulu.  Sudahlah, jangan minta macam-macam.  Mending bantu Emak ulek bumbu pecel.”

            “Tapi, Mak…”

            “Kacangnya ada di bakul.  Mumpung libur kita buat pecel lebih banyak.”  Tanpa memperdulikan lagi permintaan Aya aku berlalu, menyalakan kompor minyak tanah untuk merebus sayuran.

***

            Kulirik jam untuk kali kesekian.  Matahari telah lama tenggelam, tapi sosok itu belum lagi menampakkan diri.  Berapa kali sudah kuingatkan untuk tak berlama-lama di luaran.  Sejak mengikuti kelas mengaji Bang Ambia yang memang gratis, Aya sering pulang terlambat.  Tak faham apa yang dia pelajari di sana.  Yang kutahu, Aya mulai sering mengulang bacaan Qur’an dengan suara kencang setiap malam.  Suatu ilmu yang pasti tak akan didapatkannya dariku.

            Pada hari sekolah, Aya tak sempat membantu menyiapkan bumbu pecel di pagi hari.  Karena itulah aku selalu memintanya untuk mengulek bumbu malam hari.  Tapi sekarang, ke mana anak itu?  Ingin rasanya kususul ke surau tempat biasa Bang Ambia mengajar anak-anak mengaji. Demi mengusir kesal kulangkahkan kaki ke dapur, kembali menata perlengkapan berjualan.

            “Assalamu’alaikum, Mak.”  Suara itu akhirnya datang juga.

            “Ke mana saja?  Mak sudah bilang jangan malam-malam.  Apa saja kerja kau di surau sana?”  Kutatap Aya yang masih berbalut atasan mukena lusuhnya.

            “Mengaji, Mak.  Mak mau ikut mengaji?  Nanti subuh kita ngaji bareng ya.”  Polos wajahnya membuat hatiku tak tega untuk menyemprotkan amarah.

            “Mak tak sempat, banyak kerjaan.  Jangankan ngaji, sebelum subuh pun Mak sudah harus ke pasar beli sayur.  Sudahlah, cepat ulek bumbu sana.”  Aya bergegas melepas mukena dan menyimpannya di atas kursi makan.

            Hari-hariku memang selalu sibuk, mencari nafkah untuk makan dan kebutuhan kami berdua.  Jangankan baju baru, biaya sekolah Aya saja sudah cukup rasanya menyesakkan ritme nafasku.  Tak sempat memikirkan masalah lain.  Bagiku yang penting aku dan Aya bisa bertahan, tanpa mengemis simpati dari tetangga sekitar.

            “Hmm, mengenai impian Aya nanti di hari ulang tahun….”  Pecah kesunyian oleh suara seraknya.  Dari akhir kalimat yang menggantung aku dapat menerka bahwa ia ragu.  Kubiarkan saja kalimat itu mengambang, tanpa balasan.

            “Aya sudah menuliskan satu impian di atas kertas.  Kalau bisa, ingin sekali rasanya impian Aya kali ini bisa terwujud.”  Merasa tak ada reaksi, ia meneruskan sendiri kalimatnya.

            “Bu Husna bilang, kita boleh memiliki impian setinggi langit.  Bang Ambia juga mengatakan bahwa impian adalah sesuatu yang harus dimiliki.  Karena dengan impian kita memiliki harapan, dan dengan harapan kita bersemangat untuk melakukan usaha.”  Sudah pintar rupanya gadis kecilku ini.  Bilangan ke tujuh dalam usianya cukup membuat Aya bijak menyerap rangkaian petuah dari gurunya di sekolah.  Tapi tentu ia belum cukup usia untuk memahami realitas hidup, bahwa impian tak selamanya harus terpenuhi.  Ada keterbatasan yang memagari keinginan, hingga terkadang impian terpaksa harus dikubur dalam-dalam, lalu dilupakan untuk selamanya.  Apalah lagi impian di hari ulang tahun.  Sebuah impian yang hanya pantas dimiliki oleh anak berpunya.

            “Nanti Mak baca ya.  Tepat tanggal sembilan Desember.  Tanpa peduli Ia terus saja berkicau.

            “Mak tak janji.”  Singkat saja jawabanku.  Aya tampak memutar kepalanya, seakan mencari sesuatu.  

“Ah.  Mak lihat mukena yang tadi Aya kenakan?  Mukena itu…”  Ragu lagi kalimatnya.  Terputus sampai di sana.  Mungkin Aya malu karena mukenanya sudah lusuh.  Mukena yang didapatkannya atas sumbangan anak tetangga.  Pastilah Aya mengimpikan sebuah mukena baru, berenda strawberry seperti milik Larai teman sepermainannya.  Atau mukena motif bunga warna-warni semacam punya Afika.

“Bagaimana nanti sajalah.  Minggu depan Mak harus bayar sewa rumah.  Sisa uang paling cukup untuk bayar sekolah dan makan.” 

“Mak tak punya mukena?”

“Mak punya pun sudah lusuh.  Tak terlalu penting punya yang baru.”  Sedikit kupelototkan mata ke arahnya.  Aku memang tak terlalu suka saat Aya mulai banyak bertanya.  Kulihat Aya kembali menunduk, menyembunyikan niat untuk mengutarakan satu keinginan.

***

            “Ya ampun!  Dari mana saja, hah!  Jam segini baru pulang.  Kumal pula baju kau tu.  Abis ngapain?!”  Geram aku menarik tangan Aya yang jelang maghrib baru menampakkan diri.  Sepulang sekolah entah kemana rupanya anak ini.

            “Aya abis cari uang, Mak.”  Sedikit meringis suaranya, mungkin menahan sakit akibat tarikan tanganku tadi.

            “Cari uang?!  Cari di mana?  Bukannya bantu Mak dagang, malah keluyuran.  Buat apa cari uang segala?”  Emosiku belum jua mereda.

            “Untuk impian Aya di hari ulang tahun nanti.  Aya tadi ikut temen ngamen di Perapatan Pahlawan sana.”  Takut-takut suaranya.

            “Ngamen?  Memang berapa kau dapat uang?”

            “Lumayan, hari ini dapat tiga ribu tiga ratus.”  Aya mengeluarkan keresek hitam berisi recehan logam.  Sambil berjongkok dihamparkannya recehan itu di atas lantai.”

            “Lihat, Mak.  Banyak kan?”  Kini tampak rasa bangga pada nada suaranya.

            “Sama siapa saja tadi?”

            “Doni, Iyan, Eman, Yosi.”  Keempat teman yang juga anak kampung sini itu memang sudah biasa mengamen.  Aku melunak.  Entah apa yang diimpikan Aya hingga ia rela berpayah mencari tambahan uang.  Ada baiknya kubiarkan sajalah, daripada lelah mendengar rengekannya atas permintaan yang belum tentu juga sanggup kupenuhi.

            “Ya sudah, mandi sana.  Jangan lupa nanti bantu Mak.”  Kutinggalkan Aya yang sibuk merapikan recehan hasil kerja kerasnya hari ini.

            “Mak tak marah?”  Masih sempat kudengar suaranya.

            “Asal jangan ngamen jam sekolah.  Mak tak mau kau jadi bolos gara-gara cari uang.”

***

            Seminggu lebih Aya sibuk dengan pekerjaan barunya.  Selalu setiap sore ia pulang dengan tubuh lelah bermandi keringat.  Tapi rona ceria di wajahnya menyiratkan bahwa ia tak akan menyerah, hingga impiannya dapat diraih.  Sempat kulihat keresek tempat recehan itu tampak semakin berat.  Perlahan mulai menyelinap rasa penasaran akan impian Aya tahun ini.  Kira-kira apalagi yang demikian diharapkannnya?  Besok tepat hari ulang tahun Aya, dan semua teka-teki itu akan segera terpecahkan.

            “Assalamu’alaikum, Mak.”  Hari ini tumben Aya sudah berada di rumah saat hari masih terang.

            “Wa’alaikumsalam.  Kau tak ngamen lagi?”  Kulihat Aya menjinjing keresek hitam lumayan besar yang dengan cepat disembunyikannya di belakang punggung.

            “Uang Aya sudah mencukupi.  Aya baru saja membeli sesuatu, untuk mewujudkan impian Aya tahun ini.”  Senyum di wajahnya mengandung misteri.

            “Apa isi keresek itu?”  Rasa penasaranku kian menjadi.  Namun Aya berjalan cepat menuju kamar.

            “Besok saja Mak Aya kasih tau.  Aya mau ke tempat Bang Ambia.  Sudah lama Aya bolos gara-gara sibuk ngamen kemaren.”  Teriaknya dari dalam sana.

            Aku menghela nafas.  Impian anak kecil terkadang memang sulit dipahami.  Satu hal yang menurut orang dewasa tak terlalu penting, bagi mereka justru membuat demam saat tak kunjung terpenuhi.  Meski aku dulu juga pernah mengalami masa kanak-kanak, tapi rasanya tak pernah punya mau ini itu.  Kubiarkan Aya sibuk dengan urusannya.  Pasti kini berbunga hatinya karena mampu mencapai apa yang sangat ingin ia wujudkan.  Diam-diam terselip bangga juga di dalam hatiku.

***

            “Leha, cepatlah kau ke rumah sakit Santosa.  Ada yang bilang Aya tertabrak sepulang sekolah.”  Suara dari luar langsung dapat kukenali.  Tapi isi perkataannya tadi?  Bergegas kutinggalkan rebusan sayur yang baru setengah matang.

            “Apa kau bilang?  Jangan becandalah.”  Sekedar untuk meyakinkan kugoyang bahu Sarah, tetangga yang datang membawa berita.

            “Aku serius.  Buat apa becanda.”  Dari mimik wajahnya aku sadar Sarah tidak sedang mengajak bergurau.  Dalam panik aku hanya mampu bolak-balik, keluar masuk rumah.  Bingung harus berbuat apa.

            “Tenanglah.  Mudah-mudahan Aya tak kenapa-napa.  Sekarang Kau pergilah sama Bang Deri, dia sudah menyiapkan mobil.”  Seperti paham akan kebingungan yang berserakan dalam kepalaku, Sarah segera memberikan solusi.

            “Tolong kau jaga rumah.  Tadi aku tak sempat matikan kompor di dapur.”  Setengah berlari masih kusempatkan meninggalkan pesan pada Sarah.  Aku bahkan lupa untuk berganti pakaian.  Sepanjang perjalanan seketika berkelebat bayangan tentang Aya.  Bagaimana tadi pagi ia masih menyungkingkan senyum bahagia.  Bahagia atas hari lahirnya.  Bahagia akan impiannya yang terwujud meski harus ia usahakan dengan tangannya sendiri.

            Terbayang betapa kerasnya kehidupan kadang memaksaku berlaku keras juga dalam mendidiknya.  Berulang ia menampakkan keinginannya tentang satu impian, tapi tak pernah kugubris.  Aku semata tak ingin Aya menjadi manja.  Tak semua kemauan dapat selalu terpenuhi.  Hanya itu yang coba kutanamkan dalam prinsip hidupnya.  Ah, bodohnya, aku bahkan tak sempat mengucapkan selamat ulang tahun untuk Aya.  Aku menangis, seakan baru menyadari bahwa Aya hanyalah anak kecil yang belum layak diperlakukan sama dengan orang dewasa.  Ia belum seharusnya merasakan kerasnya kehidupan.

“Nanti pulang sekolah, Mak boleh tau impian Aya.  Aya tulis di kertas, ada di bawah bantal.  Kita baca sama-sama ya.”  Aku mengenang kalimat terakhir sebelum ia berangkat sekolah.  Kalimat yang bermakna biasa tadi pagi, namun menjelma pesan demikian dalam saat ini.  Sekuat tenaga kucoba buang jauh-jauh segala prasangka yang menyesakkan dada.  Aya pasti baik-baik saja.

           

***

            Gundukan tanah itu masih basah, karena hujan tak henti mengguyur kampung sejak pagi.  Setiba di rumah yang mendadak menjadi demikian hampa, kupaksakan kaki menjenguk kamar Aya.  Pandanganku terarah pada satu benda hitam di samping bantal tidurnya.  Dengan sesak teramat dalam kucoba mencari satu kertas yang katanya diselipkan di bawah bantal.  Entahlah masih berarti atau tidak impian itu kini.  Tapi rasa penasaran mendadak mengalahkan segala duka atas kenangan.  Bersama bayang kegigihan Aya kutarik secarik kertas yang terlipat rapi.

            Gemetar tanganku membuka lipatan kertas kumal itu.  Entah mengapa aku merasa ada amanat demikian penting yang ia selipkan dalam rangkaian kalimat singkat yang tertulis di atasnya.

            “Mak, Aya boleh minta sesuatu?  Tapi janji Mak tak akan marah.  Aya takut, tapi sangat ingin.  Bang Ambia bilang, perempuan dewasa itu harus menggunakan kerudung.  Kalau tidak, tak akan mencium wanginya syurga.  Itu artinya tak akan masuk syurga.  Sedang di lain kesempatan Bang Ambia juga bilang bahwa syurga itu ada di telapak kaki ibu.  Aya bingung Mak.  Kalau Mak pun tak masuk syurga, lalu di mana syurga Aya, yang katanya ada di telapak kaki Emak.  Aya sangat ingin tinggal di syurga, Mak.  Impian Aya adalah menjadi penghuni syurga.  Katanya di syurga itu enak.  Apa yang kita mau tak perlu bersusah didapatkan.

            Mak tak marah kan?  Mak tak perlu repot cari kerudung.  Aya sudah beli satu.  Kerudung murah, tapi bagus.  Aya baru bisa beli satu, sebab uang yang terkumpul memang belum banyak.  Aya juga belum bisa belikan Mak mukena baru.  Tapi janji, nanti kalau Aya banyak uang, Aya beli mukena dan kerudung yang banyak.

            Sekali lagi, Mak tak marah kan?”

            Cepat kubuka keresek hitam yang sedari kemarin disembunyikannya dariku.  Sebuah kerudung coklat muda dengan bordir daun di bagian atas kepala.  Kembali lemas rasanya seluruh persendian badan ini, sementara sudut mata kian deras menumpahkan butiran hangat.  Dalam bibir yang bergetar aku berucap lirih, mencoba bicara seorang diri.  Ah tidak, aku sedang berbicara pada Aya.  Aku berbicara pada sosok yang dapat kupastikan bahagia dalam tidur panjangnya.

            “Mak janji.  Impian Aya kali ini pasti terwujud.  Mak janji.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Karena banyak yang mengalami kesulitan dalam mengisi komentar, berikut panduan singkatnya:
Untuk memberi komentar tanpa login, silahkan pilih 'Name/URL' pada kolom 'Beri komentar sebagai', lalu masukkan nama anda (URL silahkan dikosongkan). Kemudian masukkan komentar yang ingin disampaikan. Terimakasih

Memeluk Kenangan

Saat aku mencoba melupakan namun gagal, Saat itulah aku memutuskan untuk berhenti melupakan. Berdamai. Merangkai kisah dalam ...