01 Februari 2013

Kangen Lagu Anak-Anak


Lah, kok jadi kangen lagu anak-anak ya?  Kan udah gede (bahasa jujurnya sih, udah tua!)

Hehe, bukan karena saya ingin mengulang masa kanak-kanak, bukan juga sedang ingin menikmati lagu anak-anak untuk konsumsi pribadi.  Tapi ini lho, selama bumi masih berputar, matahari masih terus terbit dari ufuk timur, dan selagi dunia masih belum kiamat, generasi penerus itu kan pasti akan selalu ada.  Dan generasi penerus itu ya anak-anak kita (kita?? jujur saya sih belom punya anak).

Ah, kok ya jadi ngelantur gini sih?  Bingung ya?  Sama, saya juga bingung mau mulai dari mana.
Eh, bukannya dari tadi udah dimulai.  Haha

Ok, kita luruskan jalurnya deh.



Gini, maksudnya saya ingin sedikit bernostalgia tentang masa ketika dulu saya masih menjadi anak-anak.  Zaman saya dulu tuh yah, rasanya menjamur artis-artis cilik yang bawain lagu khas anak-anak.  Sebut saja beberapa di antaranya ada Jhosua, Trio kwek-kwek, Chikita Meydi, Meysi, Sherina, Enno Lerian, Christina, Bondan Prakoso, Agnes Monica, dan lain-lain, dan sebagainya.  Masih banyak banget deh.  Dan masing-masing personal memiliki lagu yang juga nggak bisa disebutkan satu persatu karena saking banyaknya.  Dan semua lagu yang bejibun itu, khas dan sesuai dengan dunia anak-anak.  Hayyo, yang satu zaman dengan saya, pasti jadi bernostalgia juga kan?

Satu hal lagi.  Selain lagu dan artis cilik yang banyak, acara khusus lagu anak-anak pun memang banyak.  Mulai dari Kring-kring olala, Tralala Trilili, Jumpa Lagi, sama beberapa acara yang saya sedikit lupa nama acaranya.  Jadi dulu yah, sepulang sekolah di siang hari, atau pagi hari pada akhir pekan, saya sudah rajin tuh mantengin acara lagu yang khusus diperuntukkan untuk anak-anak.  Tapi sekarang kok rasa-rasanya jaraaaang banget yah.  Atau saya yang memang kurang update nih?

Setau saya sih, sepanjang pengamatan yang saya temui di beberapa tempat, sekarang anak-anak seumuran lima taun aja nyanyinya udah lagu-lagu orang dewasa.  Dan rata-rata sih, orang tuanya bangga ketika menunjukkan pada orang-orang bahwa anaknya bisa mengikuti bahkan hafal tuh lagu.
Hhm, fenomena apa ini?  Apa karena memang zamannya udah beda, sehingga anak-anak dituntut untuk segera dewasa sebelum waktunya.

Sayang memang.  Karena dunia anak-anak itu seharusnya dibiarkan mengalir, dinikmati.  Tak perlu dipaksa untuk menjadi dewasa jika memang belum waktunya.  Lagian nih yah, menurut pendapat pribadi saya aja, dewasa itu tidak diukur dengan hafal lagu orang-orang dewasa atau tidak.  Ketika anak mampu memahami akhlak yang baik kepada orang tua, mampu bijak dalam pertemanan, dapat mengerti tentang hal baik dan buruk, yang boleh dan tidak boleh, baru bisa dikatakan 'dewasa' dalam usia anak-anaknya.  Meski tetap pengajaran tentang hal ini pun harus bertahap dan disesuaikan dengan usianya.

Susahnya menemui lagu khas anak-anak akhirnya membuat saya 'berjuang' mendownload lagu anak-anak zaman dulu, untuk saya berikan kepada keponakan.  Meski sebelumnya memang ponakan sih senengnya dengerin shalawatan versi  Zamzam

Beberapa waktu belakangan ini, saya sempat juga mengikuti sebuah acara pencarian bakat anak-anak (Idola Cilik).  Dan alhamdulillah, setidaknya dalam acara ini anak-anak lebih dituntut untuk membawakan lagu-lagu yang sesuai dengan zamannya.  Acara ini (sejauh yang saya amati) mendukung untuk tetap melestarikan lagu anak-anak Indonesia.

Lagu anak-anak tidak melulu tentang dunia manja dan bermain kan?  Lagu seperti Laskar Pelangi dan semacam itu juga bagus kok untuk dibawakan oleh anak-anak.
Bahkan dulu Sherina ketika masih anak-anak, dengan teknik vokal yang luar biasa, juga syair lagu yang menyentuh, membawakan lagu yang bertema tentang dunia anak, persahabatan, tanpa harus terkesan manja dan monoton.  Banyak deh lagu-lagu keren yang temanya lebih sesuai dengan usia anak, dibanding tema-tema cinta yang bikin galau bin alay.  Kasian dong, anak yang dunianya masih ceria, dibikin ikut-ikutan galau karena masalah cinta?

Saya sedikit tergelitik ketika menyaksikan audisi Idola Cilik yang ditayangkan di sebuah stasiun televisi.  Seorang anak kecil (mungkin sekitar 6 tahunan kali ya), dengan gaya berpakaian ala orang dewasa, dandanan menor, tiba-tiba bergoyang menyanyikan lagu dangdut (yang jelas lagunya lagu orang dewasa).  MasyaAllah, kok orang tuanya mengizinkan anaknya tampil dengan gaya seperti itu ya?  Nggak habis pikir saya.  Mungkin niatnya sih untuk mencuri perhatian juri.
Tapi Alhamdulillah, tim juri akhirnya menetapkan anak tersebut tidak dapat lolos.  Bahkan sebelum keluar, anak tersebut sempat diberikan sedikit nasihat oleh Mama Ira (salah satu tim juri) agar tetap berpenampilan layaknya seperti anak seusianya.  Beliau juga menyarankan agar lain waktu, anak tersebut dapat memilih lagu yang lebih pantas untuk dibawakan oleh anak-anak.



Yah, memang zaman terus berubah.  Tapi bukan berarti seluruh perubahan harus dituruti.  Selama bernilai positif, memang tak ada salahnya untuk segera menyambut perubahan.  Tapi jika justru membawa ke arah yang negatif, apa harus juga latah mengikuti?

Mari, dukung terus lagu anak Indonesia!  Dan biarkan anak-anak kita (iya deh kita, walaupun saya belum punya anak) tumbuh dewasa secara alami, sesuai dengan masanya.  Kan banyak yang bilang, segala sesuatu itu akan indah pada waktunya. 

7 komentar:

  1. Makasih gan atas artikelnya... sangat membantu dalam proses belajar mengajar untuk anak... sip dah...

    BalasHapus
  2. Aku jadi nostalgia nih wahaha... kangen jaman waktu kecil huhuhuuu :(( thanks bang :)

    BalasHapus
  3. Kak posting lagu yang laen dongg... tp makasih banget lho udah bikin kangen sama sesuatu hehe :*

    BalasHapus
  4. Jamannya belum kenal cinta2 an ya jaman masa kecil. Gatau kenapa gue pengen balik kemasa itu wkwk. thanks bro!

    BalasHapus
  5. Kak tambah dong postinganya... ini sangat membantu buat pengetahuan anak saya hehe...

    BalasHapus
  6. Bener kata lu bang... semua akan indah pada waktunya hehe..
    btw waktunya kapan yak? gua kagak tau wkwk :D Thanks bang ^_^

    BalasHapus
  7. Abdi teh nyesel pisannn... tau dari dulu teh abdi kagak nakal... emang bener pepatah klo nasi udah jadi bubur..hiks,, makaSih kak udah bikin abdi sadar :)

    BalasHapus

Karena banyak yang mengalami kesulitan dalam mengisi komentar, berikut panduan singkatnya:
Untuk memberi komentar tanpa login, silahkan pilih 'Name/URL' pada kolom 'Beri komentar sebagai', lalu masukkan nama anda (URL silahkan dikosongkan). Kemudian masukkan komentar yang ingin disampaikan. Terimakasih

Ikhlas itu Perkara Hati

Sahabat, mari bicara tentang keikhlasan. Ikhlas adalah perkara hati, karenanya tidak ada yang berhak memberikan penilaian hanya berdasarka...