08 Februari 2013

Mushala di Pusat Belanja

Sahabat suka belanja ke tempat perbelanjaan nggak?  Terus pernah nggak ngalamin ketika lagi belanja, tiba-tiba masuk waktu shalat.  Atau parahnya, waktu shalat udah mepet, nyaris habis.  Yah, salah-satu alternatif tercepat supaya nggak ketinggalan adalah shalat di pusat perbelanjaan.  Tapi kadang merasa nyaman nggak sih?

Mayoritas mall atau pusat perbelanjaan memang menyediakan tempat untuk shalat.  Tapi beberapa di antaranya masih jauh dari kategori layak.  Ada yang meletakkan mushalla di pojok ruangan, sempit, tidak terawat, ada juga beberapa yang menempatkan mushalla di basemant, dekat area parkir.

Kadang suka miris, membayangkan bahwa di tengah bangunan nan megah, lantai mengkilap, serba wah, eh tempat ibadah yang disediakan hanya mengambil sepersekian bagian, kecil, kusam, jauh dari rasa nyaman.  Mungkin management masih beranggapan bahwa mushalla bukanlah faktor penting yang harus mendapatkan perhatiaan khusus.  Padahal kenyamanan ibadah sangat sangat sangat diperlukan oleh pengunjung, juga tentunya oleh para karyawan yang berkerja di tempat itu.

Saya pernah suatu kali terjebak (waktu shalat mepet dan tidak menemukan masjid) di sebuah toko buku di kawasan supratman.  Setelah bertanya kepada pegawai mengenai letak mushalla, saya segera beranjak menuju tempat yang dimaksud.  Ternyata, tempatnya di bagian belakang, kecil, kotor, dan kebetulan saat itu sedang turun hujan sehingga basah.  Karpet yang basah membuat suasana shalat semakin tidak nyaman.  Ditambah lagi tempatnya kecil sehingga nyaris bersisian dengan lelaki yang juga kebetulan sedang shalat.

Di salah satu toko buku lainnya (masih di daerah supratman) kondisinya tak jauh beda.  Mushalla yang disediakan hanya cukup untuk satu orang jamaah, sehingga jika ada dua orang yang hendak shalat (apalagi wanita dan laki-laki), harus rela mengantri terlebih dahulu.

Ada juga mushalla di sebuah supermarket yang lebih mirip gudang ketimbang tempat shalat.  Saat itu, saya menunggu jemputan dan tidak menemukan masjid terdekat.  Saat hendak shalat, saya menuju tempat yang telah diberitahukan oleh salah satu pegawai.  Begitu melewati semacam lorong, saya terheran karena tempat yang dimaksud begitu kotor dengan karpet yang tidak terawat, serta ada beberapa potongan sampah kertas di bagian pinggir.  Ketara sekali tempat itu jarang dibersihkan, atau dibersihkan seadaanya saja.  Luas tempat yang disediakan juga sangat minim, dengan bentuk yang tidak simetris.  Pastilah itu hanya bagian tersisa yang kemudian dimanfaatkan sebagai tempat shalat.

Saya jadi iba kepada karyawan yang sehari-harinya diam di sana.  Mungkin sebagai pengunjung kita masih bisa memilih untuk tidak shalat di tempat itu, dan memilih shalat di tempat lain.  Tapi bagi karyawan di sana?  Dengan waktu istirahat yang terbatas, pasti sangat sulit mencari tempat shalat jauh dari lokasi.  Apalagi jika jauh dari masjid.  Dan mau tak mau, tempat 'tak layak' itulah yang akhirnya mereka gunakan untuk beribadah, selama jam aktivitasnya belum berakhir.

Beberapa mall mewah juga masih menempatkan mushallanya di bagian basement.  Tempat ini juga sebenarnya masih kurang layak, karena selain jauh dari jangkauan (bayangkan mall yang berlantai-lantai, menempatkan posisi mushalla di bagian paling bawah), basement juga memiliki sirkulasi udara yang kurang bagus (panas dan pengap).  Sehingga aktivitas ibadah dilakukan hanya sekadarnya saja.

Namun tidak semua mall atau pusat belanja kondisinya seperti yang telah saya sebutkan di atas.  Masih ada beberapa mall yang perhatian pada ruang ibadah yang satu ini. 
Saya suka dengan mushalla di beberapa tempat perbelanjaan atau mall yang lain.  Seperti di BIP, Pasar Baru, ITC, juga beberapa tempat yang menempatkan mushalla di bagian atas.  Selain lebih nyaman, ruang yang disediakan juga cukup luas dengan pemisahan ruang laki-laki dan wanita.  Tempat wudhu yang disiapkan juga sangat layak.  Atau ada juga beberapa mall yang menempatkan mushalla mushalla kecil di setiap lantai, sehingga sangat membantu para pengunjung (dan tentunya para pegawai) untuk beribadah dengan nyaman dan tenang.

Yah, memang seperti itulah kondisi mayoritas pusat perbelanjaan di tempat kita, yang mayoritas penduduknya adalah umat muslim.   Sangat disayangkan memang, ketika pengembangan bangunan yang kian megah, tidak diimbangi dengan perbaikan sarana beribadah, khususnya mushalla.

Semoga saja semakin banyak management yang peka akan hal ini, dan menjadikan pembangunan/penyediaan ruang mushalla sebagai salah-satu prioritas.  Mushalla seharusnya tidak lagi hanya mengambil ruang sisa, tetapi harus benar-benar dirancang dan dipersiapkan dari awal pembangunan sebuah mall atau pusat perbelanjaan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Karena banyak yang mengalami kesulitan dalam mengisi komentar, berikut panduan singkatnya:
Untuk memberi komentar tanpa login, silahkan pilih 'Name/URL' pada kolom 'Beri komentar sebagai', lalu masukkan nama anda (URL silahkan dikosongkan). Kemudian masukkan komentar yang ingin disampaikan. Terimakasih

Ikhlas itu Perkara Hati

Sahabat, mari bicara tentang keikhlasan. Ikhlas adalah perkara hati, karenanya tidak ada yang berhak memberikan penilaian hanya berdasarka...