23 Mei 2013

Mutiara Waktu

Apa kabar pecinta wafiyyatunnisa's site?? hehe...

Lama saya nggak update, lama nggak nongol, lama nggak nulis.  Eits, tapi bukannya tanpa alasan!  Ada satu alasan syar'i, penting, dan sangat-sangat masuk akal bagi saya untuk sesaat fakum dari dunia ini.  Bahkan saya benar-benar menghentikan untuk sementara kegiatan tulis menulis, baca buku yang berkaitan dengan tulis menulis (cerpen, novel, dan sejenisnya), dunia flanel (yang sungguh tadinya saya persiapkan untuk bisnis), dan hal-hal lain yang menurut pengamatan saya memang HARUS ditunda.

Karena apakah??

SKRIPSI!

Yah, satu hal ini benar-benar menguras pikiran, tenaga, waktu, otak, air mata, bahkan juga menguras rekening pribadi.  (Ini ciyus lho, bukan lebay).

Ok, cerita lengkap tentang masalah ini saya tulis tar aja dah.  Soalnya sekarang masih dalam masa kritis, deg-degan, tegang.

Sekarang (mumpung lagi rada santai) saya mau update puisi aja dulu, sekalian juga ama penjelasannya.
Sebuah puisi yang awalnya saya tujukan untuk kado ulang tahun buat kakak perempuan saya.  Puisi yang saya cetak dan sisipkan menjadi sebuah pigura.  Puisi yang saya tulis dalam waktu kurang lebih setengah jam, saat saya sedang ngantri menunggu dosen pembimbing di kampus (tuh kan, nyambungnya ke skripsi lagi deh).  Daaaan, puisi ini juga akhirnya saya sisipkan dalam lembaran skripsi saya, hehe.

Sebuah puisi tentang waktu, tentang usia, tentang kehidupan antara dunia dan akhirat.  Langsung aja yuk, berikut ini puisinya:

MUTIARA WAKTU

Titik-titik masa beranjak
Sisakan butiran jejak
Menjelma mutiara
Menjelma kerikil tajam

          Pada masanya, titik putih mutiara menebar cahaya
          Dalam gelap, di tengah sunyi
          Lapang...

          Pada masanya, titik hitam kerikil menabur gulita
          Dalam sepi, di tengah himpitan
          Ngeri...

Dan di setiap bilangan masa
Butiran kerikil telah tertabur
Masa tersisa kian terukur
Namun titik mutiara masih mungkin melebur
Hapuskan hitam, jelmakan putih...

(Wafiyyatunnisa Asy Syu'lah)      














Ada empat alenia.  Kita bahas satu per satu yah.

- Alenia pertama:

Titik-titik masa beranjak
Sisakan butiran jejak
Menjelma mutiara
Menjelma kerikil tajam

Maksudnya adalah bahwa setiap waktu yang telah kita lewati akan meninggalkan bekas, menjadi sesuatu yang pasti akan dimintai pertanggungjawabannya.  Waktu memang pergi dan tak pernah kembali.  Tapi bukan berarti hilang dan lepas begitu saja.  Pergi dan menjadi sesuatu yang dilupakan.  Tidak.  Karena setiap yang kita lakukan dalam menjalani waktu-waktu milik kita, di sana akan ada catatan.  Dan masa yang kita habiskan akan menjelma menjadi dua wujud.  Kebaikan, atau keburukan.  Setitik demi setitik, menjelma menjadi butiran yang jelas.  dan butiran itu bisa berupa mutiara (kebaikan) dan juga kerikil tajam (keburukan).

- Alenia kedua:

Pada masanya, titik putih mutiara menebar cahaya
Dalam gelap, di tengah sunyi
Lapang...

Suatu saat nanti, ketika masa hidup di dunia telah berakhir, kebaikan yang kita lakukan akan menjadi malaikat penyelamat.  Menjadi cahaya dalam gelap dan sunyinya kuburan.  Pada saat itu barulah kita tersadar betapa berharganya untuk menghabiskan waktu dalam kebaikan.  Dan bersama kebaikan, ruang kubur yang pastinya sempit dan gelap, sepi karena sendirian, akan terasa lapang, benderang, dan menyenangkan.  Tentu saja semua tak lepas dari pertolongan, izin, dan rahmat Allah SWT.

- Alenia ketiga:
          
Pada masanya, titik hitam kerikil menabur gulita
Dalam sepi, di tengah himpitan
Ngeri...

Berkebalikan dengan kebaikan, setiap keburukan akan menjadi bumerang.  Pada saatnya nanti, saat tidak ada lagi penolong, saat tiada lagi teman dan kerabat.  Di sana, di alam kubur, kita harus mempertanggungjawabkan segalanya seorang diri.  Dan jika ternyata keburukan lebih mendominasi, maka alam kubur yang sepi dan gelap akan semakin terasa menghimpit, penuh dengan siksaan.

- Alenia keempat:

Dan di setiap bilangan masa
Butiran kerikil telah tertabur
Masa tersisa kian terukur
Namun titik mutiara masih mungkin melebur
Hapuskan hitam, jelmakan putih...

Dan pada setiap masa yang kita lalui, pastilah kita berhadapan dengan dua sisi.  Terang dan gelap, baik dan buruk.  Karena memang tak ada manusia yang sempurna.  Pastilah ada kesalahan terbentuk.  Ibarat kerikil yang telah tertabur memenuhi jejak langkah masa lalu.  Sedang waktu yang kita miliki semakin hari semakin berkurang.  Semakin dekat kita dengan titik ujung yang memang telah Allah gariskan.
Namun sedekat apapun saat ini kita dengan garis finish itu, selama nafas masih berhembus, selama masih ada kesempatan, peluang untuk bertaubat masih terbuka.  Dan sungguh, kebaikan itu akan menghapuskan keburukan.  Seperti titik-titik putih yang semakin lama semakin larut, melebur, menghapus noda hitam yang memang terlanjur telah ternoktah.
Dan peluang itu masih ada.  Masih sangat mungkin bagi kita untuk menghapus jejak hitam.  Meraup butiran kerikil dan membuangnya jauh-jauh, lalu mulai menabur butiran mutiara-mutiara yang bercahaya.


Dari Abu Dzar, Jundub bin Junadah dan Abu ‘Abdurrahman, Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda: “Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan susullah sesuatu perbuatan dosa dengan kebaikan, pasti akan menghapuskannya dan bergaullah sesama manusia dengan akhlaq yang baik”.
[HR. Tirmidzi, ia telah berkata: Hadits ini hasan, pada lafazh lain derajatnya hasan shahih]
Wallahu'alam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Karena banyak yang mengalami kesulitan dalam mengisi komentar, berikut panduan singkatnya:
Untuk memberi komentar tanpa login, silahkan pilih 'Name/URL' pada kolom 'Beri komentar sebagai', lalu masukkan nama anda (URL silahkan dikosongkan). Kemudian masukkan komentar yang ingin disampaikan. Terimakasih

Ikhlas itu Perkara Hati

Sahabat, mari bicara tentang keikhlasan. Ikhlas adalah perkara hati, karenanya tidak ada yang berhak memberikan penilaian hanya berdasarka...