23 Agustus 2013

Mati Suri Itu Bukan Mati

Pernah mati suri?  Upss, mungkin pernah denger aja deh, kalo belum pernah ngalamin secara langsung.  Pasti pernah kan denger penuturan dari mereka yang mengalami mati suri?  Gimana?  Serem nggak?

Ok, kali ini saya nggak akan membahas mati suri yang berkaitan dengan nyawa manusia.

Terus ngapain dari tadi nanya tentang mati suri?  Hehe, kalem.  Saya memang akan cerita tentang mati suri, tapi mati suri yang rada unik dan langka.

Mau tau siapa yang mati suri?




SKRIPSI saya....



Eh, saya serius.  Tidak sedang bercanda!

Yak, skripsi saya memang pernah mati suri.  Tapi alhamdulillah sekarang sudah bangun lagi, bugar lagi, dan berhasil melewati garis finish.  Horeeee.


Selama 2,5 tahun skripsi saya sekarat dalam tidurnya yang panjang.  Wuidih, kalo manusia mungkin udah dianggap ending aja kali ya.  Memang sih, banyak yang menghadapi kendala dan kemudian terhenti saat dalam proses penyusunan skripsi.  Tapi untuk kasus yang seperti saya ini, rasanya cukup langka.  Karena setelah bertahun mengendap, tiba-tiba bangkit tanpa harus melalui proses pengajuan ulang atau bimbingan dari awal lagi.  Kebanyakan pasti akan meninggalkan skripsi yang nyaris dead, lalu memulai proses dari awal.

Dan uniknya, proses penyusunan ini (saat berhenti masih dalam revisi Bab II) hingga akhirnya diAcc untuk sidang hanya memakan waktu satu (1) bulan saja.  Sehingga banyak yang protes, 'kemarin ke mana aja?  Kalo bisa diselesaikan dalam waktu satu bulan, kenapa harus menuggu hingga bertahun-tahun?' Hehe.  Itulah hidup, penuh dengan misteri.

Cerita kenapa sampe' bisa mati suri biarlah menjadi kisah lalu ya, nggak perlu dibahas lagi.  Yang jelas, kondisinya pernah sekarat.  Tapi berhubung nadinya masih berdenyut, jantungnya masih berdetak, nurani saya sebagai manusia normal masih terketuk untuk memberikan kesempatan hidup bagi skripsi saya ini.  Saya masih menyimpan harapan agar ia dapat sehat dan normal layaknya skripsi-skripsi yang lain.

Keseriusan saya setidaknya dapat dibuktikan melalui berkas bimbingan yang masih tersimpan rapi, bukti pembayaran tertata di dalam lemari, juga file softcopy yang selalu menyertai ke manapun pergi, meskipun pernah suatu waktu flashdisk saya terserang virus hingga memusnahkan seluruh file skripsi yang sudah direvisi.  Tapi satu hal terpenting yang akhirnya membuat kondisi skripsi saya semakin akut adalah, langkah kaki yang kian tak terayun menuju kampus, juga nyali yang demikian ciut hingga tak kunjung menghubungi dosen pembimbing.

Bayangin, setelah bertahun menghilang, adakah yang berani datang kembali menghadap dosen.  Bingung, itu yang saya alami.

Pada tahun pertama, dari berbagai penjuru rajin menuding pertanyaan, sindiran, ataupun sekedar guyonan bernada sama, 'Kapan skripsi beres??' 
Mulai dari nada penuh canda dan bersahabat, hingga yang berirama sangar dan mengancam.
Dan menanggapi semua ini saya bukannya tak ambil pusing.  Jujur hampir tidak bisa tidur saya dibuatnya, setiap ada yang mengajukan pertanyaan semacam ini.  Rasanya saya memiliki hutang sebesar dunia, yang jika tidak segera dilunasi akan menanggung dosa teramat berat.

Saya berfikir bahwa alangkah lebih bahagianya mereka yang larut dalam kelelahan menyelesaikan tugas akhir.  Lebih baik berpayah, berlari, tapi jelas sedang mendekati garis finish, dari pada hanya diam dalam kebingungan karena tidak tahu harus berbuat apa.  Rasanya jika diberikan kesempatan untuk kembali menekuni skripsi ini, maka akan saya tuntaskan sepenuh jiwa, hingga tetes darah penghabisan (maklum, masih semangat 17 Agustusan).

Eh, tapi lagi-lagi ini serius!  Sering saya berdoa agar dibukakan kembali jalannya.  Darimana dan seperti apa jalannya, saya serahkan kepada Allah.  Saat itu saya hanya berjanji akan serius, jika suatu saat Allah berikan lagi kesempatan itu.

Mulai deh saya menghubungi beberapa teman senasib seperjuangan (karena masih ada beberapa teman juga yang betah menyandang gelar mahasiswanya ).  Saya rayu untuk semangat lagi menjenguk kampus yang lama terlupa.  Tapi ternyata, suliiiit sekali meyakinkan mereka-mereka ini untuk menjejakkan kembali kaki ke kampus.  Alasannya sama, bingung dan malu.  Ya, apa boleh buat.  Skripsi memang urusan pribadi, selesaikan sendiri.  Pesan saya buat yang sedang dalam proses penyusunan tugas akhir, sering-seringlah menyemangati diri sendiri ya.  Jangan bergantung pada teman.

Dua alternatif pilihan pun akhirnya saya buat.  Pertama, memberanikan diri untuk menghadap dosen pembimbing dengan resiko DITOLAK, dan diminta untuk mengajukan judul dari awal lagi.  Kedua, ya itu tadi, mengikuti prosedur pengajuan judul dari awal, meski memang akan panjang dan ribet.  Saya bahkan telah menentukan beberapa pilihan judul baru.

Masih dalam kebingungan yang sangat, tiba-tiba Allah dengan segala kuasanya menunjukkan jalan.  Suatu hari dosen pembimbing saya mengirimkan sms.

AJAIB.  Saat saya ketar-ketir, maju mundur antara mau menghubungi dosen atau langsung mengurus pengajuan judul dari awal, ternyata Allah kirimkan dosen saya untuk menghubungi terlebih dahulu, setelah 2,5 tahun berlalu.  Entahlah, mungkin karena masa studi saya nyaris expired, mungkin akan ada pemutihan di kampus, atau entah apa yang menginspirasi dosen saya ini, belum pernah saya tanyakan secara langsung.  (Nggak berani, hehe).  Tapi berawal dari sms ini, maka TERBUKALAH jalan.

Isinya singkat, sekadar mengingatkan tentang proses penyusunan skripsi yang lama terhenti.  Padahal, pertanyaan ini sama seperti ratusan pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang di sekitar saya, jauh sebelum dosen saya ini mengajukan pertanyaan.  Tapi ternyata, cukup satu kali saja pertanyaan dari beliau mampu bekerja seperti alat kejut, yang dengan sempurna telah menyadarkan skripsi saya.  Saya bahkan sempat bekerja bagaikan robot, tidak mengenal siang malam, hari biasa ataupun hari libur.  Saat itu saya sadar, bahwa skrispi saya telah bangun dari tidur panjangnya.

Bukan tanpa kendala proses yang saya jalani setelahnya.  Masalah tumpukan biaya yang mencapai angka hingga belasan juta, ditambah lagi waktu studi yang nyaris habis.  Ancaman DO sempat membuat saya kembali ciut, dan berfikir untuk menyudahi saja perjuangan.  Saat itu sempat terfikirkan: "ah, sudahlah, untuk apa.  Nanti bayar mahal-mahal tapi ternyata nggak bisa beres juga.  Toh udah mau DO ini.  Percuma.  Nggak ada lagi yang perlu diperjuangkan."

Tapi jika mengingat bahwa bagaimana ajaibnya Allah membukakan jalan, saya jadi berfikir bahwa pasti Allah juga yang akan memberikan pertolongan.  Allah yang akan menyertai saya hingga saya menuntaskan masalah ini.  Allah pasti tidak akan membiarkan saya berjuang sendirian. 

Allah telah membukakan jalannya, tinggal apakah saya serius mau melalui jalan itu atau tidak.  Malu rasanya jika masih tidak yakin dan bermalas-malasan.  Saya merasa, jikapun peluang ini saya sia-siakan, maka semakin jauh harapan untuk mendapatkan kesempatan selanjutnya.

Pikiran ini akhirnya membuat saya kembali mengumpulkan tekad, untuk terus berjuang, meski entah dari mana dan bagaimana saya akan menuntaskan.

Masalah biaya, jelas tidak mungkin minta kepada orangtua.  Sejak awal kuliah juga memang biaya telah menjadi tanggungan pribadi sepenuhnya.  Saat itu tabungan sangat limit, karena beberapa bulan sebelumnya telah saya habiskan untuk membeli satu unit rumah.  Yang saya pikirkan adalah, Allah maha kaya.  Mudah bagi Allah untuk memberikan rezeki, jika Dia telah berkehendak.

Masalah masa studi yang terbatas membuat saya berfikir bahwa saya harus menuntaskan skripsi ini hingga bulan depan.  Saat itu pertengahan bulan April.  Dan saya menargetkan akhir bulan Mei untuk sidang.  Sungguh terkesan muluk dan tak masuk akal, mengingat skripsi yang baru mencapai kulit luarnya saja, masih bab II.  Ditambah lagi saya harus belajar ekstra untuk memahami bahasan dari skripsi saya, karena bilangan tahun telah membuat saya lupa apa isi dari skripsi saya itu.  Jangankan isinya, judulnya pun saya sempat lupa.  Tapi sekali lagi, saya percaya tidak ada yang tidak bisa untuk Allah lakukan.  Mungkin saya memang tidak sanggup, karena otak saya sangat terbatas kemampuannya.  Tapi saya punya Allah, dan Allah bisa melakukan segalanya.

Sejak saat itu saya tak henti berdoa, bahkan menangis minta dimudahkan.  Pikiran saya bercabang antara dana yang harus segera dikumpulkan, juga menyelesaikan skripsi yang ternyata tidak mudah.  Saya membeli beberapa buku referensi dan mempelajari dari dasarnya.  Setiap menghadapi kendala, mentok dalam pembahasan, saya serahkan kepada Allah.  Saat itulah saya baru merasakan pasrah dalam arti yang sesungguhnya.  Rasanya beban yang demikian berat itu terbang, melayang, dengan keyakinan bahwa akan Allah selesaikan.

Saya sadar-sesadarnya, bahwa tidak ada yang bisa saya lakukan kecuali Allah yang mengizinkan.  Tidak ada yang saya ketahui, kecuali sedikit sekali dari apa yang telah Allah ajarkan.  Sungguh tidak ada satu perkara yang sulit, serumit apapun, jika Allah telah berkehendak membuatnya menjadi mudah.  Namun tidak akan ada juga hal yang mudah, meski tampak sepele, jika bukan karena Allahlah yang memudahkan.

Saya kerjakan skripsi seorang diri, tidak tertarik untuk minta dibuatkan.  Bagi saya, perkara meminta langsung kepada sumber pertolongan adalah jauh lebih utama, daripada berpayah-payah mengemis kepada manusia.  Dan kepada orangtua, saya minta didoakan.  Karena saya yakin akan sangat bersandar pada doa mereka.  Saya yakin merekalah yang paling berperan dalam keberhasilan saya pada akhirnya.

Saat itu saya benar-benar merasakan bahwa begitu dekatnya pertolongan Allah.  Saat bingung, lalu berpasrah, saat itu Allah berikan bantuan.  Hingga masalah dana terselesaikan, kesulitan pemahaman pun Allah lerai satu persatu.  Dan pada pertengahan bulan Mei, saya diperbolehkan untuk mendaftar sidang.  Subhanallah.

Eh, bahasanya kok jadi serius dan berapi-api gini ya.  Hehe, maklum, saya masih terbawa suasana saat itu.  Saat di mana setiap hari harus merelakan diri bergadang hingga jauh malam.

Tanggal 1 Juni 2013 saya sidang.  Alhamdulillah, sidang dimudahkan, dan dinyatakan lulus dengan yudisium Pujian (cumlaude).  Tepat satu pekan setelahnya, tanggal 8 Juni 2013 saya diwisuda.  Horeeee [lagi]

Rasanya legaaaaa sekali.  Bukan semata karena ijazah atau gelar yang berhasil saya dapatkan.  Tapi karena saya dapat menuntaskan apa yang telah saya mulai.  Hutang yang selama ini membenani lunas sudah.  Alhamdulillah.


== Haadza min fadlhi rabbi, liyabluwani a asykur am akfur ==
(Ini adalah karunia dari Tuhanku, untuk menguji apakah aku bersyukur, atau malah kufur) (Q.S An-Naml: 40)



Setelah lulus, saya kembali ke alam sadar.  Rasanya tidak percaya bahwa skripsi saya sudah tuntas, bahkan sudah diwisuda.  Saat itu saya sempat khawatir bahwa saya hanya berhalusinasi.  Saya takut bahwa saya telah gila.  EEh..

Saya takut bahwa semua hanya mimpi atau khayalan belaka.  Takut pada kenyataan saat saya terbagun, mendapati bahwa berkas skripsi saya masih sekarat, minta untuk segera dituntaskan.  Sungguh saya bahkan tidak percaya bahwa yang berjuang menyelesaikan skripsi itu adalah saya.  Meski memang saya yakini, tangan Allahlah yang bekerja.  Tentara-tentaraNya yang telah Ia kirimkan untuk 'memuluskan' jalan saya saat itu.  Butuh berhari-hari bagi saya untuk meyakinkan diri bahwa itu nyata, bukan mimpi, apalagi halusinasi.

Saat melihat tumpukan draft skripsi, berkas revisian bimbingan, bahkan baju toga yang masih tergantung di kamar, menjadi bukti bahwa apa yang saya alami memang sungguh telah terjadi.  Saya kembali menangis, menangis haru dan syukur kepada Allah SWT.

Aduh, aduh, bahasanya jadi berat lagi.  Masih suasana semangat ceritanya.

Ok, baiklah.  Itu tadi sedikit cerita, untuk menyemangati siapa saja yang masih berjuang menuntaskan tugas akhirnya.  Dekati Allah saja.  InsyaAllah akan Dia mudahkan.

Dan sekali lagi, mati suri itu memang bukan mati yang sesungguhnya.  Ia masih hidup.  Dan saat ia dihidupkan kembali, tergantung apakah kita akan menjadikan hidupnya lebih berarti, atau malah kita biarkan ia 'mati', sebelum mati yang sebenarnya.

Gimana, cerita tentang mati suri yang satu ini serem nggak?  Ya, buat kalian mungkin memang nggak serem.  Tapi saat saya dulu berkutat dalam peristiwa ini, rasanyaaaaa, hhm.., hanya Allah saja yang tahu.

Begitu beragam, campur aduk, dan luar biasanya perasaan yang saya alami, sungguh tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.  Takut, cemas, syukur, bahagia, bingung, sedih, dan sebagainya, bercampur jadi satu.  Satu kalimat yang saya tuangkan, untuk menggambarkan berjuta suasana hati saat itu adalah:

= There is only one word to describe my feelings, HASBUNALLAH =

Satu kalimat ini singkat, tapi dalam maknanya menurut saya.  Saat bibir tak tahu lagi harus bicara apa.  Saat berjuta rasa ingin saya bagi, namun tidak bisa.  Saat ingiiiiiin sekali rasanya menumpahkan curahan hati di media sosial, tapi saya tahan (maklum, sebisa mungkin nggak mau curhat di jejaring sosial.  Takut disebut anak galau :D).  Tapi sungguh hati tak sanggup lagi menahan beban.   Hingga akhirnya, meski berjuta kata tak sanggup keluar, namun kalimat inilah yang mengalir.  Karena HASBUNALLAH! memang hanya Allah saja tempat saya bersandar.

Terakhir, tak lupa saya sampaikan rasa terimakasih yang demikian tulus kepada bapak dosen pembimbing, serta seluruh civitas akademika di Fakultas Ekonomi Universitas Pasundan Bandung.  Terimakasih atas kesempatan yang masih diberikan, juga segala bantuan yang telah dihaturkan.  Setiap pertolongan yang disampaikan, sungguh hanya Allah saja yang mampu memberikan balasan.
Semoga Unpas semakin sukses dan dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas.

Saya suka dengan motto universitas ini, yang berbunyi:

Pengkuh Agamana, Luhung Elmuna, Jembar Budayana

(Yang loading, cari terjemahannya gih di kamus bahasa sunda) 


Dan saya bangga menjadi alumni Fakultas Ekonomi Universitas Pasundan Bandung (Cieeee).

 
Wau, postingan kali ini lumayan panjang ya.  Ya sudah, saya akhiri saja.  Semoga ada pelajaran yang bisa dipetik.

Semoga bermanfaat, dan salam perjuangan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Karena banyak yang mengalami kesulitan dalam mengisi komentar, berikut panduan singkatnya:
Untuk memberi komentar tanpa login, silahkan pilih 'Name/URL' pada kolom 'Beri komentar sebagai', lalu masukkan nama anda (URL silahkan dikosongkan). Kemudian masukkan komentar yang ingin disampaikan. Terimakasih

Ikhlas itu Perkara Hati

Sahabat, mari bicara tentang keikhlasan. Ikhlas adalah perkara hati, karenanya tidak ada yang berhak memberikan penilaian hanya berdasarka...