26 November 2014

GoSiP. . . gOsIp. . .GoSiP. . . (NgeGosip-in Gosip)

Ssttt, kita ngegosip sebentar.  
Ada sesuatu nih yang mau saya sampaikan.  Penting!
Mau tau?  Stay here, ok!

Kali ini, saya mau ngegosip-in tentang, gosip!

-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-

Jujur, hampir semua orang pasti sudah tidak asing dengan yang namanya gosip, bahkan nyaris tidak ada atau sedikit sekali orang yang tidak pernah sama sekali terlibat di dalamnya.  Entah itu dalam kesengajaan atau sekadar terjebak dalam obrolan yang di luar kendali dirinya.

Ada tipe orang yang senang mencari dan menjadi sumber gosip.  Namun ada juga yang di dalam hati kecilnya menentang, tetapi ikut menikmati ketika berita gosip tersebut sedang diperbincangkan.  Entahlah, mungkin memang karena tingkat keingintahuan manusia yang cukup tinggi, sehingga berita sekecil apapun seperti menjadi menu wajib untuk dijadikan bahan obrolan.

Mungkin memang ada gosip yang berhubungan dengan berita baik.  Tetapi selama ini, gosip terlalu condong mengarahkan dirinya kepada kabar tidak sedap, berita miring, obrolan negatif, tentang seseorang atau sekelompok orang yang tidak termasuk di dalam mereka yang melakukan obrolan.

Jika yang menjadi bahan perbincangan adalah berita baik, mungkin tidak terlalu bermasalah.  Toh, berita baik memang seharusnya dibagi-bagi, disebarluaskan, sebagai bentuk rasa syukur (bukan dalam rangka sombong atau riya').  Tetapi jika yang diobrolkan adalah hal negatif dari seseorang, sementara orang yang dimaksud tidak ikut disertakan, tentu mengenai ini telah ada aturannya di dalam alqur'an.

Secara naluri pun seharusnya kita menyadari, bahwa sangat tidak adil rasanya jika kita menjelek-jelekan orang lain, sedangan yang dijelek-jelekkan tidak kita hadirkan, tidak diberikan kesempatan untuk melakukan pembelaan, tidak diizinkan untuk menceritakan masalah yang sebenarnya.

Entahlah berita yang diperbincangkan itu benar atau salah, tetap saja rasanya tidak etis.  Karena Rasulullah SAW di dalam sabdanya pun membagi hal ini menjadi dua istilah, yaitu Ghibah dan Fitnah.  Jika keburukan itu adalah fakta dan merupakan kebenaran, maka namanya adalah Ghibah.  Dan jika keburukan tersebut adalah sesuatu yang salah, maka namanya adalah Fitnah.  Dan keduanya, baik ghibah maupun fitnah, adalah dua hal yang buruk.

Rasulullah SAW pernah bersabda :
“Tahukah kamu apakah gibah itu ? “Jawab Sahabat : “Allah dan Rasulullah yang lebih mengetahui. Nabi SAW bersabda : “Yaitu menyebut saudaramu dengan apa yang tidak disukainya. Beliau Nabi SAW ditanya : “Bagaimanakah pendapat engkau kalau itu memang (kejadian) sebenarnya ada padanya ? Jawab Nabi SAW : “Kalau memang sebenarnya begitu, itulah yang disebut gibah. Akan tetapi, jikalau menyebut apa-apa yang tidak sebenarnya, berarti kamu telah menuduhnya dengan kebohongan (buhtan atau fitnah).”  (H.R. Muslim)



 sumber gambar: http://theonlynelly.wordpress.com/2012/08/17/gosip-gunjing-ghibah-intinya-ukhuwah/

Astaghfirullah.  Betapa kita tahu ini adalah sebuah dosa, namun entah mengapa begitu sulit untuk dihindari.  Dan saya bukan seorang ustadzah, bukan seseorang yang shaleh, belum bersih hatinya, belum benar akhlaknya.  Dan saya akui, betapa saya juga masih sering terjebak dalam obrolan semacam ini.  Bukan sesekali, tetapi sering.

Tulisan ini bukan untuk mencemooh atau menasehati mereka yang senang bergunjing (karena gosip memang masih mungkin mengarah kepada berita yang baik, maka saya ganti istilahnya menjadi bergunjing).  Sama sekali tidak.  Karena jika saya hendak menasehati, maka yang paling pertama dan pantas untuk dinasehati terlebih dahulu adalah diri saya sendiri.

Tulisan ini sekadar untuk dijadikan sebagai bahan renungan, tentang bagaimana posisi kita ketika berteman dengan mereka yang menjadikan gunjingan sebagai hobi.

Coba sahabat bayangkan, ketika suatu saat berada dalam kelompok yang sedang asyik bergunjing.  Bermula dari satu cerita, kemudian berbumbu, lalu satu dua orang terus menambahkan hingga menjadi semakin heboh.

Pikirkan bahwa, akankah kita aman dari gunjingan, jika suatu saat karena berhalangan kita tidak bisa ikut serta dalam obrolan mereka.  Adakah jaminan bahwa kita tidak akan menjadi bahan gunjingan saat kita tidak berada di tengah-tengah mereka?

Untuk mereka yang hampir selalu larut dalam gunjingan, sangat hobi mengumbar keburukan dan aib orang lain, pasti akan selalu tergelitik untuk mengusik kekurangan orang lain.  Sadarilah bahwa tidak ada manusia yang sempurna.  Setiap orang punya kekurangan, punya aib, termasuk juga diri kita.  Dan kekurangan sekecil apa pun akan menjadi celah yang begitu menarik untuk diperbincangkan.

Dan kita, sebagai orang yang juga punya kekurangan, berarti memiliki potensi untuk digunjingkan, saat kita sedang tidak bersama mereka.  Karena orang seperti ini, biasanya tidak lagi terlalu tertarik untuk menjaga atau menutupi aib, meski terhadap teman atau sahabatnya sendiri, termasuk juga diri kita!

Saat sedang mendengar seseorang atau sekelompok orang sedang mengumbar kekurangan seorang teman, terkadang saya berfikir: 'mungkin beginilah saya diperbincangan saat sedang tidak bersama mereka.'
Karena teman yang baik adalah yang bisa menutupi aib temannya.  Jika seorang teman telah dengan mudah mengumbar keburukan temannya, maka adakah lagi jaminan untuk aman dari gunjingan teman seperti ini?

Sekali lagi, ini hanyalah sebagai renungan.  Sedikit muhasabah untuk lebih berhati-hati.  Saat kita asyik memperbincangkan keburukan orang lain, cobalah berfikir bahwa kita pun sangat mungkin untuk dijadikan bahan gunjingan.

Semoga Allah memampukan kita dalam meneladani RasulNya.  Membimbing kita semua, serta membaguskan akhlak kita.  Semoga kita termasuk orang-orang yang mau berusaha untuk terus memperbaiki diri, juga selalu berhati-hati dalam berkata dan juga bertindak.

Allah berfirman di dalam Al Qur’an surat Al-Hujurat ayat 12

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”


Wallahu'alam

-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-

Ok, ngegosipnya sampai di sini dulu.  Maap jika tulisan ini tidak memberikan solusi.  Karena ini hanyalah sebuah gosip.  Dan layaknya gosip, maka tulisan ini pun tak jelas arah dan perkembangan ceritanya.  Silahkan jika ada yang ingin memberikan bumbu untuk gosip kali ini. :) :D

See U sobat!

5 komentar:

  1. thanks article nya izin bookmark yaa...

    BalasHapus
  2. gosip gosip gosip kesukaannya ibu2 kalo lgi rumpi..dosa yg ga kerasa juga..

    BalasHapus
  3. aduh nggak deh ah ngegosip.. takuuut

    BalasHapus

Karena banyak yang mengalami kesulitan dalam mengisi komentar, berikut panduan singkatnya:
Untuk memberi komentar tanpa login, silahkan pilih 'Name/URL' pada kolom 'Beri komentar sebagai', lalu masukkan nama anda (URL silahkan dikosongkan). Kemudian masukkan komentar yang ingin disampaikan. Terimakasih

Ikhlas itu Perkara Hati

Sahabat, mari bicara tentang keikhlasan. Ikhlas adalah perkara hati, karenanya tidak ada yang berhak memberikan penilaian hanya berdasarka...