13 Oktober 2011

Biarkan Rumah Itu Tegak Berdiri di Sana (Part 1)

Kisah berikut hanyalah sebagai bahan renungan serta evaluasi bagi kita semua, tentang pentingnya hijrah untuk berlindung dari sebuah tindak kedzoliman. Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari perbuatan dzolim, sekecil apapun.
(Nama dan tempat disamarkan).

Dari Jabir Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Jauhilah kedholiman karena kedholiman ialah kegelapan pada hari kiamat, dan jauhilah kikir karena ia telah membinasakan orang sebelummu." Riwayat Muslim.

Biarkan Rumah Itu Tegak Berdiri di Sana

"Tolonglah, Den.  Kasian kakak kalian." Ibu tua itu masih bersikeras mempengaruhi menantu lelaki satu-satunya.  Rudi, kakak sang Istri tentulah yang memohon agar Emak membantu negosiasi.

"Tapi, Mak.  Kami untuk apa tanah di sana. Di sini juga dah lebih dari cukup.  Rumah sama lapang di sini sangat luas."

"Masak mau tinggal di sini terus? Kapan-kapan kan kalian bisa pindah ke sana.  Juallah rumah di sini, jauh dari kota, jauh dari sodara.  Bikin rumah di sana, biar kumpul."

Dendi dan Istri saling bersitatap.  Ini kali kesekian ibu sang istri memohon agar mereka membantu Rudi, kakak Istrinya untuk patungan membeli tanah di Priangan.  Kali ini bahkan Emak sengaja jauh-jauh datang dari kota tempat tinggalnya, ke daerah tempat Dendi dan istrinya menetap.

"Masak dak mau bantu sodara sendiri? Yang jual tanah dak mau jual separoh.  Tapi klo sendirian, si Rudi tu dak sanggup.  Lagian terlalu luas, bisa untuk bangun beberapa rumah juga.  Kalian bangun masing-masing satu rumah yang besar juga masih luas tanahnya."
Rayuan demi rayuan terus diluncurkan, demi membantu keluarga anaknya di sana.  Untuk kasus ini, ia rasa hanya bisa mengandalkan suami Dewi.  Anak-anaknya yang lain tak ada yg bersedia.

Seperti biasa, Emak tak hendak berlama-lama menginap di rumah anaknya.  Tapi sebelum pulang ia berkali-kali memohon agar sepasang suami istri itu bersedia membantu kakaknya.  Hingga akhirnya Dendi luluh, tak kuasa menolak permintaan mertuanya.

***
Uang telah diserahkan dengan kepercayaan atas nama saudara.  Emak menjadi saksi.  Tanah akhirnya dibeli, namun sertifikat dan segala surat masih atas nama sang kakak.  Dendi menagih namun tak juga sertifikat yang cuma satu itu diurus.  Masih atas nama kepercayaan, Dendi dan istrinya mendiamkan urusan itu.  Mereka sempat datang melihat lokasi, dan Rudi menunjukkan sendiri batas-batas tanah milik mereka.

Bertahun-tahun tanah itu tak berpenghuni, menghampar luas di samping rumah Rudi.  Tak ada niat bagi keluarga Dendi untuk memperpanjang urusan sertifikat, karena setiap ditanya selalu tak ada tindakan serius.

***
Suatu saat Emak kembali merayu Dendi untuk menjual rumah miliknya.  Ia ingin Dendi segera membangun rumah di samping rumah Rudi.  Namun keinginan itu tak lantas diikuti oleh Dendi, dengan alasan pekerjaan.
"Pindahlah ke sini.  Tinggal dulu sementara di rumah Emak." Kata-kata Emak begitu meyakinkan.

Beberapa tahun kemudian, setelah melalui diskusi panjang berkali-kali, Dendi dan istri akhirnya mengamini permintaan Emak.  Rumah beserta tanah yang luas dijual.  Saat itu tiga orang anak mereka telah merantau untuk kuliah di kota Bandung.  Tinggallah dua orang anak wanita yang saat itu masih SMA.  Domisili kerja Dendi pun akhirnya bisa dipindahkan ke kota tempat mertua dan saudara-saudaranya menetap.  Atas keinginan Emak juga, mereka akhirnya tinggal di rumah tua itu.
"Sekalian nemenin Emak." Dendi berkata, menunjukkan baktinya kepada ibu mertua.

Sebenarnya Dendi dan keluarga hidup tentram dan bahagia di daerah.  Dendi termasuk pribadi yang religius.  Setiap hari ia tak lepas dari masjid.  Ia bahkan dipercaya untuk menjadi kepala sebuah madrasyah di daerah tempat tinggalnya.  Atas pertimbangan keshalehannya pula, pihak kantor akhirnya memberangkatkan Dendi dan istri untuk naik haji pada tahun 1997.
Rumah yang nyaman, keluarga harmonis dan damai.  Rasanya tak ada yang kurang.  Tapi tak mengapalah.  Memenuhi permintaan Emak mungkin tak ada salahnya juga.  Begitu pikir hati Dendi dan istrinya.

***
Siang itu tiba-tiba keributan terjadi.  Saat keluarga Rudi berkunjung ke rumah Emak, masalah sertifikat tanah menjadi topik utama.  Sekian tahun bersabar, Dendi hanya hendak menagih haknya.  Sesopan mungkin ia berusaha bicara.  Namun tanggapan Rudi tidaklah terpengaruh oleh sopan tidaknya bahasa.  Ia marah, merasa tidak dipercaya sebagai kakak.  Emak berusaha menengahi, namun tak jua memberikan pembelaan kepada Dendi.  Padahal Emak adalah saksi utama atas transaksi itu.

Emosi Dendi akhirnya terpancing.  Suara keduanya meninggi.  Dewi menengahi namun tak banyak berpengaruh.  Sementara di kamar belakang, Risa (putri bungsu Dendi) menangis.  Ia tak tahan dengan kekerasan.  Ada apalah ini, hingga harus saling bicara kasar dan memaki? pikir Risa.

Kakak terakhir Risa pun telah ikut merantau ke kota Bandung.  Selain Risa, ada juga kakak tertuanya yang saat itu pulang dari perantauan dikarenakan sakit berkepanjangan.

Lama Risa hanyut dalam tangis, hingga keributan berhenti. Sunyi.  Rupanya keluarga Rudi telah pulang.
Namun suasana menjadi aneh, karena Emak tak hendak meluruskan permasalahan.

***
Selama beberapa tahun masalah tak pernah tuntas.  Dendi berniat ingin menjual tanah tersebut, untuk tambahan biaya kuliah anak-anaknya.  Namun surat yang tak jua dalam genggaman menjadi penghambat.  Terlalu sensitif, hingga masalah-masalah kecil bisa menjadi bumerang.  Emak merasa tersinggung karena dianggap terlalu membela Rudi.

Suatu pagi terjadi pertengkaran hebat.  Emak mengusir Dendi dan keluarga (Risa sedang berada di sekolah saat itu).  Beberapa tetangga yang memahami duduk persoalan akhirnya berbaik hati memberikan tumpangan.  Dendi sebenarnya telah mencari rumah kontrakan namun belum bisa ditempati dalam waktu dekat.  Sebuah rumah kontrakan milik kenalan lama Dendi, yang masih dalam tahap penyelesaian.

Malam itu Dendi beserta istri dan dua anaknya tidur serabutan, di ruang tamu tetangga yang mendadak disulap jadi kamar tidur.  Tak ada yang dirasakan kecuali rasa sakit yang teramat dalam.  Dari dalam rumah mereka dapat melihat Emak bolak-balik mengambil air sumur tetangga karena tak ingin menyentuh air PAM yang dipasang dengan menggunakan uang Dendi.


*BERSAMBUNG ke Part 2

1 komentar:

Karena banyak yang mengalami kesulitan dalam mengisi komentar, berikut panduan singkatnya:
Untuk memberi komentar tanpa login, silahkan pilih 'Name/URL' pada kolom 'Beri komentar sebagai', lalu masukkan nama anda (URL silahkan dikosongkan). Kemudian masukkan komentar yang ingin disampaikan. Terimakasih

Ikhlas itu Perkara Hati

Sahabat, mari bicara tentang keikhlasan. Ikhlas adalah perkara hati, karenanya tidak ada yang berhak memberikan penilaian hanya berdasarka...