22 Mei 2012

HILANG BERANTAI

            Usep terjaga dan bangkit terburu-buru begitu melirik angka 13.27 pada layar ponselnya.  Dengan mengumpulkan kesadaran, ia melangkah keluar.  Pelataran sepi.  Lebih dari sepuluh menit ia menyusuri teras, berharap secepatnya menemukan satu benda.  Nihil.  Kini sambil berjinjit kaki Usep menelusuri halaman masjid kantor.  Berjalan ke sana kemari mencari sepasang sandal jepit berwarna biru nomor 39 miliknya.  Tidak terlalu mewah, tapi cukup sebagai alas kaki hingga menuju lift dan naik ke lantai sepuluh.

            "Nyari apaan, Sep?" Rio menepuk pundak Usep.  Entah dari sebelah mana, tiba-tiba makhluk itu sudah berdiri di belakangnya.

            "Sendal saya ke mana ya? Heran, sendal butut juga laku geuning[1]."  Usep garuk-garuk kepala.  Liar tatapnya menyapu seantero halaman.  Tak sedikitpun matanya beradu pada sang pemilik tanya.

            "Anu kumaha sendalna?[2]"  Rio jadi celingak-celinguk, mengikuti aksi rekan kerjanya.

            "Sendal jepit warna biru.  Lagi shalat mah disimpen weh di teras.  Naha’[3] sekarang nggak ada?  Cuma ditinggal shalat sama tidur bentar.”  Kini ia menuju rerimbun pohon bonsai yang menjadi penghias di sisi halaman.

            "Biru, alit[4] nya'? Barusan si Sopyan juga kehilangan sendal, terus liat ada sendal jepit biru di teras.  Dipake’ weh sama Sopyan teh.  Yah, kali aja yang itu."

            Gerakan Usep terhenti cepat.  Ia menegakkan badannya seraya berbalik ke arah Rio.

            “Sopyan?!”  Hanya hendak meyakinkan pendengaran.

            “Iya, tadi saya kan bareng dari sini.”  Serius wajah Rio.

"Ah, punya orang mah harusnya jangan dipake’ atuh.  Hayyu ah, ke sana."  Sambil menggerutu dan dengan kaki telanjang Usep berjalan ke arah lift, mencari Sopyan yang bekerja di lantai 12.  Panas aspal penghubung halaman masjid dan teras menuju lift tak lagi dihiraukan.  Rio tergopoh mengikuti langkah kaki Usep.

***

            "Yan, liat sendal jepit biru?  Punya saya ilang euy.  Barusan ge[5] nyeker dari masjid ke sini."  Dari bibir pintu Usep berjalan mendekati meja Sopyan.  Tanpa permisi ia menghempaskan tubuh ke kursi di depannya, melepas penat dan panas di telapak kaki.   Sementara itu Rio menarik kursi beroda dari meja kosong di seberang Sopyan.  Sopyan yang menyadari kehadiran Usep segera mengalihkan pandangan dari layar monitor 15 inch di hadapannya.

            "Ooh, itu teh punya kamu? Ha ha!  Punten atuh, kirain teh nggak ada yang punya.  Saya juga kehilangan sendal barusan.  Ha ha!!"  Meledak tawa Sopyan saat menyadari kekeliruannya.  Wajah Usep tampak kesal, namun meninggalkan kesan lucu di mata Sopyan.

            "Eta geura, kalah seuri[6].  Atuh udah tau punya orang mah jangan dibawa."  Usep manyun.  Semakin kesal ia melihat tawa sahabatnya.

            "Punya saya dipake’ siapa atuh? Mirip, tapi warna ijo.  Rada gedean dikit sih."  Giliran Sopyan yang berfikir, tawanya terhenti.  Sementara Usep merunduk, menarik sepasang sandal yang tersimpan di kolong meja kerja Sopyan.

"Aku! Haha!!  Aku yang pake’.  Nu ieu sanes?![7]"  Popon  yang sedari tadi mendengarkan perbincangan rekannya buru-buru berkometar, mengakui kesalahan.  Ia berjalan sembari menjinjing sepasang sandal jepit hijau yang diduga milik Sopyan.

Segera Sopyan memeriksa sandal di tangan Popon.  Pipet merah muda yang menyambung di bagian telapak sebelah kiri cukup menjadi pengenal.  Ia meraih benda itu.

"Betul pisan ini punya saya. Ah, si Popon mah nggak bilang-bilang."  Sopyan girang melihat sepasang sandalnya yang penuh sejarah.  Sigap ia mengamankan sepasang sandal itu ke kolong meja.

            "Huh! Saya juga kehilangan sendal.  Atuh punya saya di saha’[8] tah??" Popon mengulang kembali pertanyaan yang dilontarkan oleh Sopyan.  Usep dan Sopyan hanya mengangkat bahu.

            "Nu kumaha sendalnya?" Rio bersuara.

            "Anu hideung, rada ageung[9].  Jarang nemu sendal kaya’ gitu mah.”  Kursi bulat yang tak jelas siapa pemiliknya lantaran selalu berpindah tempat, kini berdenyit begitu tubuh tambun Popon hinggap di atasnya.

            "Oh! Saya liat tadi siang"  Setelah sekian detik hening, tiba-tiba suara melaju dari seberang meja Popon.  Ekspresi Ujang, sang pemilik suara tetap tenang.  Di balik kaca mata minus 3,5-nya ia serius menyusuri deretan angka yang terhampar di monitor.

            "Di mana? Ada di kamu??!"  Popon berdiri tak sabar, lebih tepatnya penasaran.  Seluruh mata ikut memandang ke arah Ujang yang hanya menampakkan punggungnya.

            "Sanes[10] atuh, saya mah punya sendal sendiri.  Tadi mah liat dipake’ sama Arip lantai tujuh.  Sok tanyain."  Kali ini ia menghentikan sejenak tatapan matanya pada monitor, demi membalikkan badan ke arah teman-temannya.

            "Ah, meuni panjang gini urusannya.  Dari sendal jepit jadi harus nyari ke lantai tujuh sagala. Tar lah pas ke masjid lagi saya tanyain."  Popon menggerutu sembari beranjak kembali ke meja kerjanya.  Sementara yang lain sibuk menertawakan.

 

***

            Kumandang adzan ashar menggema.  Sebagian penghuni PT Kromosom bergegas menuju masjid yang terletak di halaman gedung.  Detik-detik ini biasanya lift selalu ngantri, mengangkut banyak “penumpang”.    Popon yang sudah menyiapkan wudhu sejak beberapa menit sebelumnya berjalan santai.  Sebelum tiba di teras masjid, ia bertemu dengan Arip.  Matanya melirik sepasang kaki Arip yang beralaskan sandal jepit hitam.

            "Rip, eta sendal punya kamu bukan?"  Popon menyamai posisi hingga berjalan sejajar dengan Arip.  Arip menoleh, memelankan langkah.

            "Oo ieu, sanes.  Tadi abis shalat dzuhur ada yang ngambil sendal saya.  Yah sama saya yang ada weh dipake’."  Polos Arip mengakui ihwal sandal hitam yang ia gunakan.

            "Tau nggak siapa yang punya?"  Langkah mereka semakin mendekati pintu masjid, sementara iqamah mulai disuarakan.

            "Duka[11] tah. He he" Arip nyengir kuda.

            "Saya.  Eta teh sendal saya."  Popon menjawab sendiri pertanyaannya.

            "Oo, punya kamu? Punten atuh, bukan maksud hati.  Saya ge bingung sendal saya dibawa sama siapa?"  Sedikit terkejut Arip saat mengetahui faktanya.

            "Hehe, teu nanaon[12].  Saya ge tadinya ngambil sendal si Sopyan."  Mereka masuk ke dalam barisan jama'ah shalat ashar dan meluruskan niat.

 

***

            Kini giliran Arip yang harus bertelanjang kaki menuju lantai tujuh.  Tapi tiba-tiba rasa penasaran menahan langkahnya.  Ia melihat sepasang sandal miliknya tergeletak rapih di antara pasangan sandal jepit yang lain.  Ditemani Usep, Popon, dan Rio, Arip duduk di tangga teras masjid, mengawasi dari jarak yang tidak terlalu jauh.  Mereka bertekad untuk melihat siapa gerangan yang membawa sandal itu ke masjid sore ini. 

Satu persatu jama'ah yang telah merampungkan kewajiban shalat ashar berlalu, hendak kembali pada pekerjaan masing-masing.  Sekian orang beranjak, sekian pasang kaki diawasi, namun belum ada tanda-tanda sandal Arip akan dibawa pergi.

            "Hayyu ah, loba gawe yeuh.[13]"  Usep mulai tak sabar.

            "Ke’ heula atuh, sakeudap deui[14]'.  Penasaran saya mah.  Siapa yang ngambil sendalnya Arip teh."  Rio menahan tangan Usep yang bersiap hendak berdiri.  Usep mengurungkan niat, bertahan di teras.

            Kembali sunyi.  Mata-mata mereka serius menatap pasangan sandal yang masih tersisa.  Sepuluh menit, lima belas menit, sandal itu masih betah ditempatnya.  Wajah empat sekawan itu kian resah.

            "Eweuh, ah[15]!  Udah ambil aja, Rip.  Mungkin yang ngambil udah nemu sendalnya, jadi punya kamu ditinggal di sini."  Jelas ketidaksabaran Usep kian memuncak.

"Masih ada orang di dalem masjid teh.  Antosan[16] weh, bentar lagi.  Meuni teu sabar."  Popon mengomentari ucapan Usep.

"Lama atuh, saya teh banyak kerjaan.  Saya duluan atuh nya’.  Tar kasih tau weh, siapa yang ngambil sendalnya."  Usep benar-benar berdiri dan berlalu meninggalkan tiga sahabatnya.

"Ah, si Usep meuni teu sabaran pisan."  Popon menggerutu.

Kini tinggal bertiga mereka duduk di sisi teras masjid.  Rio meluruskan kaki, sementara Arip berdiri.

"Cangkeul[17] saya mah."  Seru Arip.

“Iya, bener kaya’nya yang dibilang sama Usep.  Sok weh, Rip ambil aja.”

"Sstt...."  Popon yang masih serius mengawasi, mengeluarkan aba-aba untuk diam.

"Tingali[18], ada yang make’ sendal Arip."  Pelan sekali suaranya.  Arip dan Rio otomatis membesarkan kedua mata, duduk tegak mendekati posisi Popon.

Tiga pasang mata itu serentak menatap ke satu arah.  Sepasang kaki melabuhkan kakinya dengan nyaman pada sandal merah marun milik Arip.  Arip hampir saja membuka mulutnya untuk mengingatkan sang pemilik kaki, tapi tertahan suaranya.

Popon dan Rio juga bengong, sama-sama tak mampu bersuara.  Kini mereka bertiga terdiam, menatap sepasang kaki melangkah ringan, kian menjauh menuju lift.  Ah, andai saja kaki itu bukan milik owner perusahaan yang terkenal killer, mungkin sejak tadi Arip sudah menegurnya.



[1] Geuning = Ternyata

[2] Anu kumaha sendalna? = Yang bagaimana sandalnya?

[3] Naha = Kenapa

[4] Alit = Kecil

[5] Ge/Oge = Juga

[6] Eta geura, kalah seuri = Itu coba ya, malah ketawa

[7] Nu ieu sanes? = Yang ini bukan?

[8] Saha = Siapa

[9] Anu hideung, rada ageung = Yang hitam, rada besar

[10] Sanes = Bukan

[11] Duka = Tidak tahu

[12] Teu nanaon = Tidak apa-apa

[13] Seueur gawe =  Banyak kerjaan

[14] ‘Ke heula atuh, sakeudap deui’ = Nanti dulu dong, sebentar lagi

[15] Eweuh, ah! = Ga ada, ah!

[16] Antosan = Tungguin

[17] Cangkeul = Pegel

[18] Tingali = Lihat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Karena banyak yang mengalami kesulitan dalam mengisi komentar, berikut panduan singkatnya:
Untuk memberi komentar tanpa login, silahkan pilih 'Name/URL' pada kolom 'Beri komentar sebagai', lalu masukkan nama anda (URL silahkan dikosongkan). Kemudian masukkan komentar yang ingin disampaikan. Terimakasih

Memeluk Kenangan

Saat aku mencoba melupakan namun gagal, Saat itulah aku memutuskan untuk berhenti melupakan. Berdamai. Merangkai kisah dalam ...