20 September 2013

Memaksa Diri Untuk Berbagi

Pernah menyaksikan tayangan atau datang langsung ke pengajian yang diisi oleh ustadz Yusuf Mansur?  Pasti udah nggak asing sama yang namanya THE POWER OF GIVING.

Ya, sering kita saksikan di tengah acara, ustadz YM menganjurkan jamaah untuk menyedekahkan uang, cincin, hp, atau apa saja yang kebetulan dibawa, sebagai solusi dari mereka yang merasa hidupnya dirundung masalah, atau bagi siapa saja yang memang sedang mengharapkan suatu limpahan karunia dari Allah SWT.


Sekilas memang tampak jama'ah ini seperti 'dipaksa' untuk bersadaqah.  Ups, maaf, kata dipaksa saya kasih tanda kutip, karena sejatinya ini memang bukan sebuah pemaksaan.  Mungkin bahasa lebih pasnya adalah dilatih untuk berbagi, dilatih untuk memberi apa yang ada ditangan, tanpa harus pilih-pilih.

Dulu waktu kecil kita juga perlu dilatih untuk memulai suatu ibadah, seperti shalat, shaum, bangun malam (untuk shalat), dan sebagainya.  Dilatih.  Dari yang awalnya berat, kemudian menjadi ringan, dan lama-lama menjadi sebuah kebiasaan.

Setidaknya, dari fenomena ini, saya melihat ada dua hal yang sangat ditekankan (dari kaca mata saya yang masih sangat awam ilmu).  Ada dua hal yang (mungkin) ingin diajarkan oleh ustadz YM kepada para jama'ahnya.  Di atas, ada kata (mungkin) dalam tanda kurung, karena memang saya belum pernah bertanya langsung kepada Ustadz yang bersangkutan.  Jadi baru praduga aja nih yaaa, hehe.


Pertama, Tauhid

Sering kita berkata,

"Rezeki mah Allah yang ngatur",

"Kalo udah rezeki dari Allah sih, nggak bakalan ketuker lah",

dan ungkapan lainnya yang senada.
Di bibir kita mengakui bahwa Allah-lah sumber segala rezeki, sekecil apapun.

Tapi pada kenyataannya, di dalam hati kita masih sering meragukan perkataan kita tadi.  Sehingga tak jarang ungkapan yang sesungguhnya bertolak belakang dengan kalimat-kalimat di atas, terlontar juga dari mulut kita, seperti,

"Duh, kalo dagangan nggak laku, saya makan dari mana?",

"Saya dapet dari mana coba uang sebanyak itu?", dan sebagainya.

Nah lho, padahal sebelumnya kita yakin bahwa rezeki itu sudah diatur sama Allah, tapi kok ujung-ujungnya masih ragu juga??  Pasti ada yang nggak beres nih.

Yak, keyakinan kita bahwa Allah-lah sumber segala pertolongan, termasuk masalah rezeki, yang seringkali masih minim.  Kita lebih sering ragu ketimbang yakin.  Seakan selama ini kita bisa makan karena uang gaji yang rutin masuk ke rekening, dari laba dagangan, atau dari berbagai sumber lainnya.

Memang sih kita wajib berusaha untuk membuka seluas mungkin pintu rezeki.  Bisa dengan bekerja sebagai pegawai, menjadi pedagang, dan sebagainya.  Tapi ketika rezeki sudah didapat, harusnya kita tetap yakin bahwa sumber utamanya adalah Allah SWT.  Sumber-sumber yang tadi kita 'tuduh' sebagai pintu rezeki, hanyalah jalan bagi Allah untuk menurunkan rezekinya kepada kita.

Pernah nggak ngalamin, ketika tabungan habis, gajian masih lama, tapi malu juga pinjem sama temen?  Saya pernah lho.  Sebelumnya saya pernah cerita kan tentang masa-masa 'sulit' saya dalam menyelesaikan skripsi, yang akhirnya luar biasa menguras rekening.  Lengkapnya baca deh di mati suri itu bukan mati 

Setelah semua urusan kuliah beres, uang yang tersisa memang sempat saya infaqkan.  Ceritanya sih sebagai bentuk rasa syukur atas segala kemudahan dan kelulusan yang Allah berikan.
Nah, ternyata setelah itu, saya pernah terjebak dalam masa sulit.  Hehe, maaf kalo terkesan lebay, karena sebenernya sih Alhamdulillah, nggak sulit-sulit amat.  Tapi situasinya waktu itu, saya bener-bener kehabisan uang untuk makan.  Bayangkan, jangankan untuk belanja sana-sini, buat makan aja saya musti ngirit dalam artian yang sesungguhnya.  Dua rekening saya kosong, uang di dompet nyaris habis, sementara gajian masih satu minggu lagi.

Apa yang terpikirkan oleh saya saat itu??  Pinjem sama temen, minta sama ortu?  Ah, nggak.  Saya berdoa aja sama Allah.  Saya berdoa sungguh-sungguh.  Saya shalawat sebanyak-banyaknya.  Moment ini saya jadikan kesempatan untuk mempertajam lagi keyakinan saya, bahwa sumber rezeki itu adalah Allah SWT.  Saya fokuskan bahwa Allah berkuasa atas segalanya, termasuk untuk masalah yang mungkin terkesan remeh.  Allah, Allah, Allah.  Itu yang ada dalam pikiran saya saat itu.

Eh, Alhamdulillah, dalam masa sulit itu, beberapa kali di kantor ada makan gratisan, atau klo nggak ada yang traktir makan di luar.  Dan puncaknya, hari terakhir, saya malah mendapatkan uang karena pulang kerja melebihi dari jam pulang.  Biasanya kalaupun dapet uang, nggak akan langsung hari itu juga, tapi beberapa hari setelahnya.  Alhamdulillah, jadi bisa makan deh tuh.  Dari siapa?  Dari siapa lagi kalo bukan dari Allah SWT.

Beberapa hari setelah gajian, malah rezeki mengalir.  Mulai dari bonus jelang ramadhan, hingga hari-hari mendekati lebaran yang terus dibanjiri rezeki.  Malah jadi bisa bagi-bagi 'THR' juga buat beberapa orang.  Alhamdulillah.

Pengen ngerasain?? cobain deh kosongin rekening (hehe), terus kuatkan keyakinan kepada Allah.  Benahi lagi rasa percaya yang sekarang mungkin mulai luntur.  Yakin, bahwa segala sesuatu itu bersumber dari Allah SWT.

Ok sobat, itu tadi hal pertama yang ingin diajarkan.  Tauhid, aqidah, keyakinan, bahwa Allah-lah sumber dari segala sumber.


Kedua, Menepis Hubbun dunya

Ketika kita dapet uang 100 ribu, sering kita berfikir,

"Seandainya dikasih 100 ribu lagi aja (jadi 200 ribu), saya infaq-in deh yang 100 ribunya.  Kalo sekarang, baru 100 ribu, nggak cukup.  Buat saya nya jadi nggak ada."

Eh, giliran dikasih tambahan 100 ribu lagi sama Allah, malah jadi main nego-nego an.

"Tar deh infaqnya, kalo dapet 1 juta.  Kan banyak tuh.  Saya infaq-in deh 500 ribu, atau kalo nggak 250 ribu dah."

Tapi, begitu diberikan harta berlimpah, berlipat-lipat, terkadang masih saja hobi menunda.  Nanti deh infaqnya, kalo uangnya udah bejibun.  Saya kan masih perlu buat beli ini, beli itu, bayar ini, bayar itu.

Wah, wah.  Janji janji tinggal janji dong tuh.  Padahal, sebelum dapet 'bonus', hidup bisa berjalan apa adanya.  Tapi mengapa setelah harta berlimpah, seolah sadaqah bisa merenggut kebebasan hidup, menghalangi keinginan untuk beli ini itu?

Inilah sob, salah-satu ciri hubbun dunya (cinta dunia).  Apa saja yang sudah dalam genggaman rasanya begitu berat untuk dikeluarkan.  Limpahan harta tak akan pernah mencukupi.  Selalu merasa kurang, sayang untuk berbagi.

Sungguh benarlah apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW:

Dari Ibnu 'Abbas RA, ia mendengar Rasulullah SAW bersabda,

لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا ، وَلاَ يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

"Seandainya manusia diberi dua lembah berisi harta, tentu ia masih menginginkan lembah yang ketiga. Yang bisa memenuhi dalam perut manusia hanyalah tanah. Allah tentu akan menerima taubat bagi siapa saja yang ingin bertaubat." (HR. Bukhari no. 6436)


Dengan 'memaksa' atau 'dipaksa' berbagi, berarti kita sedang melatih atau dilatih untuk menepis rasa cinta pada dunia yang terkadang telah menjadi demikian besar.  Kita diajarkan untuk tidak terlalu 'mendewakan' harta.  Uang yang ada ditangan bukalah segalanya.  Harta bukanlah sumber kehidupan yang sebenarnya.


Kita dituntut untuk ringan melepas apa yang telah Allah titipkan, karena sejatinya harta tadi bukanlah milik kita.

Jadi, ini dia hal kedua yang hendak ditanamkan.  Bagaimana kita melatih diri untuk tidak terlalu berlebihan dalam mencintai harta yang kita miliki.  Jika ini telah berhasil, maka akan menjadi ringan bagi kita untuk berbagi, untuk mengeluarkan apa-apa yang telah kita miliki.


Ok sobat, mari terus latih dan 'paksa' diri kita untuk berbagi.  Meski mungkin masih berat di awal, namun yakinlah bahwa kebaikan tak akan pernah tertukar.


Semoga kedua hal di atas dapat tertanam, dan mengakar kuat di dalam keperibadian kita.


"Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat gandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak." (Q.S. Al Hadid:18)

Dari Ali bin Abi Thalib r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Segeralah bersedekah, sesungguhnya musibah tidak dapat melintasi (mendahului) sedekah.” (Razin, Misykât). Ali berkata: "Pancinglah rezeki dengan sedekah." “Setiap awal pagi saat matahari terbit, Allah menurunkan dua malaikat ke bumi. Lalu salah satu berkata, ‘Ya Allah, berilah karunia orang yang menginfakkan hartanya. Ganti kepada orang yang membelanjakan hartanya karena Allah’. Malaikat yang satu berkata, ‘Ya Allah, binasakanlah orang-orang yang bakhil.” (Muttafaq ‘Alaih dari Abu Hurairah)
 Wallahu'alam bishawab
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Karena banyak yang mengalami kesulitan dalam mengisi komentar, berikut panduan singkatnya:
Untuk memberi komentar tanpa login, silahkan pilih 'Name/URL' pada kolom 'Beri komentar sebagai', lalu masukkan nama anda (URL silahkan dikosongkan). Kemudian masukkan komentar yang ingin disampaikan. Terimakasih

Ikhlas itu Perkara Hati

Sahabat, mari bicara tentang keikhlasan. Ikhlas adalah perkara hati, karenanya tidak ada yang berhak memberikan penilaian hanya berdasarka...