20 September 2013

Writing to Sharing, Sharing is Caring



Setiap orang pasti punya pengalaman, punya teman, punya hal-hal yang didengar atau dilihat.  Selama hal ini masih menjadi bagian dari hidup kita, maka kita bisa menjadi penulis.

Tapi terkadang terdapat beberapa ‘masalah’ yang membuat kita berfikir bahwa menulis merupakan hal berat dan tidak mungkin dilakukan, kecuali oleh mereka yang memang memiliki bakat bawaan.  Padahal, jika saja kita mau berkompromi, memberikan sedikit waktu untuk menelaah, maka masalah-masalah tadi dapat kita ‘abaikan.’  Berikut ini beberapa alasan yang seringkali kita tuduh menjadi terdakwa alias kambing hitam, mengapa hingga detik ini kita masih juga tak kunjung menggoreskan kata.

Sulit Mencari Inspirasi
Saya tinggal di lingkungan biasa, dengan pengalaman hidup biasa, dan teman-teman yang semuanya juga biasa-biasa saja.  Dari mana saya bisa mendapatkan inspirasi untuk menulis?  Tidak ada yang istimewa dari apa yang saya alami, saya dengar, saya lihat.

Ini nih, biasanya yang jadi alasan.  TIDAK PUNYA INSPIRASI!

Padahal, inspirasi tidak melulu harus datang dari hal-hal istimewa dan berat.  Inspirasi bisa datang dari mana saja, termasuk dari pengalaman yang paling sederhana sekalipun.  Yang perlu kita lakukan hanyalah sedikit mengasah kepekaan, untuk menjabarkan hal-hal sederhana tersebut menjadi sesuatu yang bermakna.

Kita pasti pernah berpergian, entah itu naik kendaraan pribadi ataupun angkutan umum. Dari satu rutinitas ini saja banyak yang bisa kita bagi.  Saat melirik anak jalanan yang meminta-minta, kita bisa menulis tentang keprihatinan, tentang rasa syukur atas kecukupan yang kita miliki, tentang kehidupan atau keseharian mereka, tentang solusi sosial, dan sebagainya.  Kita bisa memilih satu tema, dan menjabarkan tema tersebut ke dalam beberapa judul tulisan.

Contoh lain yang lebih sederhana, saat kita menyantap makan siang.  Menu makan siang yang beragam bisa menjadi inspirasi bagi kita.  Mungkin daging, ikan, aneka sayuran, tempe, dan sebagainya.  Kita bisa menulis tentang manfaat salah satu jenis makanan tadi, cara makan yang disunnahkan oleh Rasulullah, tentang kombinasi makanan yang baik dan yang buruk, dan seterusnya.

Simple, tak perlu berbergian keliling dunia, tidak juga harus menjadi orang hebat terlebih dahulu.  Silahkan latih dan asah kemampuan kita untuk membaca apa saja.  Membaca alam, membaca lingkungan, membaca kejadian.  Setiap hari pasti akan ada hal menarik yang dapat kita ceritakan.  Bahkan jika satu hari kita hanya berdiam diri di rumah, atau mengasingkan diri dalam kamar tanpa cahaya sekalipun.

Tidak Pandai Merangkai Kata
Sungguh, tak perlu menjadi seorang pujangga terlebih dahulu untuk bisa menulis.  Percayalah bahwa setiap orang punya karakter tulisan sendiri, termasuk juga kita.  Ada tipe yang romantis, motivatif, atau juga puitis.  Cobalah untuk mulai menulis, dan temukan gaya tulisan kita sendiri.  Tak perlu terpaku dengan gaya orang lain.

Untuk bisa mahir dan lancar merangkai kata, kita memang sudah seharusnya banyak membaca, karena sedikit banyak, tulisan-tulisan yang kita baca bisa mempengaruhi karakter tulisan kita.  Jangan malas membaca, karena dari sinilah kita menemukan beragam kosa-kata baru setiap harinya.

Ahmad Fuadi, penulis trilogi Negeri 5 Menara mengaku, bahwa selama menulis novel, beliau rajin membaca Thesaurus (kamus padanan kata/sinonim).  Jadi menurut beliau, kamus tidak semata dibuka saat mencari makna suatu kata, melainkan bisa menjadi konsumsi wajib para penulis yang ingin memperkaya kosa-kata.  Yah, tak ada salahnya kita mulai mengakrabkan diri dengan buku.  Entah itu buku cerita, buku motivasi, bahkan buku kamus sekalipun.

Membaca, selain dapat memperkaya kosa-kata, juga dapat menambah pengetahuan, sehingga tulisan yang kita tuangkan tidak sekadar menjadi tulisan yang dangkal dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Selanjutnya, selain tidak berhenti membaca, hal wajib yang juga harus kita lakukan adalah terus menulis.  Dengan tidak berhenti menulis, maka dengan sendirinya kita sedang melakukan training kepada diri kita sendiri.  Coba praktekkan cara ini selama beberapa bulan, lalu lakukan perbandingan terhadap tulisan kita setiap bulannya.  Semakin lama, kita akan semakin percaya diri dengan tulisan kita, karena apapun yang terus dilatih, akan menunjukkan hasil yang semakin meningkat.  Apalah lagi jika kita telah terbiasa hingga bertahun-tahun, maka saya yakin kita semua pasti akan dengan mudah mengenali ciri dari tulisan kita sendiri.  Kita akan punya karakter sendiri, yang menjadi ciri khusus, dan dikenali juga oleh pembaca setia tulisan kita.

Tidak Punya Banyak Waktu
Hhm..., alasan yang satu ini rada klasik ya.  Banyak orang mengaku sibuk, tapi masih menyempatkan diri untuk berlama-lama memantau jejaring sosial, ngobrol ngalor ngidul hingga menjurus ke ghibah, atau sekadar menghabiskan waktu di depan televisi.  Padahal, tidak perlu waktu lama untuk menulis.  Cukuplah kita mencomot sedikit saja waktu, di sela-sela kesibukan kita, atau mengalihkan beberapa jam dari waktu yang tadinya kita anggap sebagai waktu luang.

Kapan waktu yang terbaik untuk menulis, mari kita atur sendiri.  Karena kita yang paling hafal di mana celah itu bisa kita dapatkan.  Mungkin ada yang nyaman menulis saat dini hari, sebelum waktu subuh, ada yang sebelum tidur, atau ada juga saat siang hari, di tengah-tengah aktivitas kerja, saat sedang beristirahat.  Tak akan sama setiap orang, dan tak akan bisa dipaksakan untuk menjadi sama.

Jika telah kita tekadkan ingin menulis, maka dengan sendirinya akan tersedia waktu.  Pasti ada, karena tak mungkin sepanjang hari kita larut dalam kesibukan.  Silahkan latih diri untuk memanage waktu, dan temukan waktu yang paling pas bagi kita untuk satu atau dua jam bermain dengan kata-kata.

Tidak Punya Tempat Untuk Menyalurkan Tulisan
Alasan selanjutnya adalah, siapa yang mau membaca tulisan saya?  Jika saya mengirim ke penerbit, apa iya akan diterima?

Saat ini media online telah menjamur.  Banyak wadah yang akan menampung tulisan kita, tanpa edit, tanpa penolakan.  Kita bisa memilih blog pribadi, note jejaring sosial, ataupun sekadar hastag di twitter.  Kita bebas mengatur kapan tulisan kita akan terbit.  Tapi tentu saja, karena tanpa penyaringan, kita harus pandai menyaring sendiri tulisan yang akan kita sebarkan.  Jangan sampai tulisan kita menimbulkan konflik atau kesalahpahaman.

Kurang Motivasi
Jika alasannya adalah karena kurang motivasi, maka bergabunglah dengan komunitas menulis.  Banyak kelompok, mulai dari kelompok di dunia maya, hingga kelompok di dunia nyata.  Kita bisa memilih satu atau beberapa komunitas yang satu visi dan misi dengan kita.  Jangan beralasan malas dan tak semangat, namun tak juga bergerak untuk mencari komunitas.  Dalam hal apapun, kita butuh penyemangat, pengkoreksi, atau minimal pendengar yang dengan setia mendukung keinginan kita.

Melalui komunitas menulis kita juga akan mendapatkan banyak informasi, serta tips dan trik.  Mungkin bisa berupa informasi lomba, informasi seminar dan pelatihan, informasi berkaitan dengan penerbitan, hingga informasi mengenai lowongan menulis. 

Maka setelah ini, mulailah mencari komunitas, dan bergabunglah bersama mereka.  Sadari betapa banyak teman yang memiliki cita-cita sama.

Untuk Apa Menulis?
Terakhir, alasan paling kuat bagi setiap orang untuk tak juga mulai menulis adalah, apa manfaat dari menulis?  Untuk apa saya menulis?

Baiklah, mari kita perhatikan hadits berikut:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” 
(HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni. Dishahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah).

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk menjadi peribadi yang bermanfaat, salah-satunya adalah dengan mengikatkan ilmu ke dalam bentuk tulisan.

Writing to sharing, sharing is caring, menulis untuk berbagi, dan berbagi adalah bentuk kepedulian.  Banyak yang bisa diubah dengan tulisan, termasuk opini.  Banyak orang mendapat hidayah melalui tulisan.  Tak sedikit orang menjadi terketuk hatinya setelah membaca sebuah tulisan.

Jadi, menulis adalah untuk memperpanjang ucapan, dan mengekalkan manfaat.   Tulisan yang kita bagi, manfaatnya akan kekal, meski tahun berganti, ataupun saat nyawa telah berpamit pergi.  Menulis untuk berbagi manfaat, sehingga apa yang kita tulis haruslah sesuatu yang bermanfaat.

Terdapat begitu banyak gendre tulisan, seperti: cerpen, puisi, artikel, novel, cerbung, dan sebagainya.  Masing-masing punya ciri sendiri, dan setiap orang pasti memiliki genre tulisan favorit untuk didalami.

Satu tema atau satu pokok bahasan bisa saja dituangkan ke dalam berbagai jenis tulisan, tergantung jenis mana yang kita kuasai.  Namun jika melihat lagi kepada tujuan awal kita menulis, yaitu ingin menjadi manusia yang bermanfaat, maka apapun jenis tulisannya, tetaplah harus menjadi sesuatu yang bermanfaat, yang memberikan motivasi, pengetahuan, atau pencerahan kepada pembaca.  Tidak semata mengutamakan keindahan literasi, tetapi nol dari sisi nilai dan faedah.

Visi, tujuan, niat, atau apapun namanya, harus menjadi sesuatu yang kita utamakan.  Ketahui dulu tujuan awal kita menulis, lalu silahkan berkreasi semampu yang kita bisa, dengan tetap berjalan lurus dalam garis tujuan yang telah kita tetapkan.

InsyaAllah, tujuan yang jelas, akan membuat berbagai kendala lainnya menjadi kecil dan ringan.  Visi akan membuat kita memiliki energi untuk mematahkan segala alasan, hingga tidak ada lagi alasan bagi kita untuk tidak menulis.  Dan visi ingin menjadi pribadi yang bermanfaat merupakan salah-satu perwujudan untuk mengamalkan sunnah RasulNya.


Maka sekarang, mulailah menulis!  Teruslah menulis! Dan tetaplah menulis!


Salam semangat!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Karena banyak yang mengalami kesulitan dalam mengisi komentar, berikut panduan singkatnya:
Untuk memberi komentar tanpa login, silahkan pilih 'Name/URL' pada kolom 'Beri komentar sebagai', lalu masukkan nama anda (URL silahkan dikosongkan). Kemudian masukkan komentar yang ingin disampaikan. Terimakasih

Ikhlas itu Perkara Hati

Sahabat, mari bicara tentang keikhlasan. Ikhlas adalah perkara hati, karenanya tidak ada yang berhak memberikan penilaian hanya berdasarka...