30 Juli 2013

Grafik 10 Hari Terakhir Kita

Sahabat, hari ini hari ke 21 Ramadhan, dan malam ini memasuki malam ke 22.  Satu hari di sepuluh malam terakhir telah terlewati.  Apa yang telah kita upayakan untuk memuliakannya?

Dalam sebuah hadits diriwayatkan:

“Adalah Rasulullah SAW jika telah masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, beliau mengencangkan kainnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari-Muslim)

Rasulullah SAW begitu mengistimewakan bulan ramadhan, terlebih lagi pada sepuluh malam-malam terakhirnya.  Jika digambarkan dalam sebuah grafik, maka hari-hari terakhir justru menunjukkan angka semakin tinggi, semakin hebat ibadahnya.  Kita, bagaimana grafik yang kita bangun di bulan ramadhan kali ini??


Sahabat, sibuknya persiapan menjelang lebaran, mulai dari belanja, memasak, hingga mudik, membuat sebagian orang seringkali menurunkan angka grafiknya, justru di hari-hari terakhir.  Jika di awal ramadhan mereka begitu antusias, taraweh setiap malam, tadarus, rajin ke masjid, di hari-hari terakhir mulai berkurang euporianya.  Entah karena mulai bosan, entah karena lelah, entah karena itu tadi, disibukkan oleh berbagai persiapan idul fitri.

Memang tidak dilarang untuk memberikan persiapan terbaik, saat akan menyambut datangnya hari raya idul fitri.  Tapi jika kita kembalikan lagi kepada hakikat idul fitri itu sendiri, yang bermakna kembali kepada fitrah, sebuah kemenangan.  Jika ternyata kita tidak mampu 'lulus' dalam memberikan amalan terbaik, layakkah kita meraih kemenangan, menjadi bagian dari mereka yang kembali kepada fitrah?  Lalu sambutan demikian meriah yang kita hadirkan itu untuk kemenangan siapa?

Beberapa hadits lain terkait dengan betapa besarnya perhatian rasulullah SAW kepada sepuluh malam terakhir, antara lain:

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib: ia berkata: “Rasulullah SAW membangunkan keluarganya di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Turmudzi)

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Aisyah, ia berkata: 

“Di bulan Ramadhan, Rasulullah biasanya tidur dan bangun malam, namun jika telah masuk sepuluh hari terakhir, beliau mengencangkan ikat pinggang, menjauhi istri-istrinya, dan mandi di waktu antara Magrib dan Isya.”

“Nabi SAW melakukan iktikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai beliau meninggal. Kemudian, istri-istrinya yang melakukan iktikaf sepeninggal beliau.” (HR. Bukhari-Muslim).

Allah SWT sendiri menjanjikan hadirnya lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir di bulan ramadhan.  Malam yang lebih utama dari 1000 bulan.
Saya yakin seyakin-yakinnya, pembahasan tentang lailatul qadar pasti sudah tidak asing bagi sahabat semua.  Setiap tahun, di bulan ramadhan, selalu menjadi topik yang umum dalam ceramah-ceramah.  Tapi seberapa serius kita menanggapi masalah ini??  Apakah masih kurang keyakinan kita akan kebenaran berita ini?

Sahabat, malam ini dan beberapa malam ke depan, InsyaAllah akan menjadi saat Allah turunkan malam kemuliaan itu.  Tidak tertarikkah hati kita untuk bercengkrama bersamanya?

Masih ada waktu.  Semoga Allah teguhkan keyakinan kita, memberikan kesehatan lahir batin, hingga di akhir nanti, kita layak menyambut idul fitri.  Kita layak menjadi pemenang.  Kembali kepada fitrah, dan meraih gelar muttaqiin.

 Allahumma aamiin.....


*Selamat berburu pahala.  Mari tunaikan i'tikaf semampu yang kita bisa*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Karena banyak yang mengalami kesulitan dalam mengisi komentar, berikut panduan singkatnya:
Untuk memberi komentar tanpa login, silahkan pilih 'Name/URL' pada kolom 'Beri komentar sebagai', lalu masukkan nama anda (URL silahkan dikosongkan). Kemudian masukkan komentar yang ingin disampaikan. Terimakasih

Ikhlas itu Perkara Hati

Sahabat, mari bicara tentang keikhlasan. Ikhlas adalah perkara hati, karenanya tidak ada yang berhak memberikan penilaian hanya berdasarka...