11 Agustus 2008

Yang berguguran di jalan Da'wah

Subhanallah..memang benar bahwa segala nikmat harus senantiasa mengundang syukur kepada Allah SWT, termasuk keberadaan dan turut sertanya kita dalam barisan dakwah ini.


Ya Allah, mungkin akhir2 ini saya memang kurang bersyukur. Begitu terasa, militansi yang berkurang, semangat tarbiyah yang menurun, jiwa dan ghiroh dakwah tak lagi menggelora.

Mmg karena keadaan yang sangat mendesak, saya akhirnya selama kurang lebih satu bln absen dari tarbiyah. Tapi seakan saya waktu itu cukup menikmati kondisi ini.

Iri juga melihat ikhwah lain begitu semangat, membicarakan masalah DS untuk TReNDI, sedangkan saya…..,apa yang telah saya lakukan untuk turut mensukseskan amanah ini??

DS dan kampanye seadanya, do'a yang juga bs jadi ala kadarnya, ya Allah…padahal saya meyakini bahwa dakwah tak membutuhkan keberadaan saya. Bahwa sesungguhnya sayalah yang membutuhkan dakwah ini.

Setidaknya kesadaran itu akhirnya masih ada. Setidaknya saya masih bisa turut berjuang seperti yang lain, dengan turut berkonstribusi menjadi saksi pada hari pemilihan.

Satu hari sebelum hari H, saya dihubungi pihak DPRa cigadung, tempat dulu saya menjadi saksi untuk HADE. Dan saya mendapatkan tugas di salah satu RT di sana.

Tapi tiba2 malam hari saya dihubungi lagi, dan dikabarkan bahwa sudah ada ikhwan yang bersedia untuk menjadi saksi di TPS tersebut.

Subhanallah…, saya jadi teringat kisah sahabat rasul yang tertinggal pada perang tabuk. Karena terbersit keengganan, mereka akhirnya di iqob oleh Rasulullah. Dikucilkan kaum muslimin saat itu, termasuk oleh anggota keluarga.

Ya Allah, mungkin ini teguran atas kemalasan saya akhir2 ini. Atas lemahnya militansi diri.

Terus terang saya sedih dan kecewa. Bukan karena gagal jadi saksi lantas tak mendapatkan komisi, karena saya yakin sebagian besar masyarakatpun sudah tau bahwa tak ada kader PKS yang mau dibayar. Bukan pula karena gengsi sendirian tak menjadi saksi, sementara ikhwah yang lainnya hampir semua terdaftar sebagai saksi.

InsyaAllah bukan karena itu.

Tapi sedih karena saya tak bisa turut menjadi saksi sejarah, memberikan konstribusi terakhir untuk perjuangan pada babak ini.

Bukan masalah akhirnya menang atau kalah, karena Allah pasti telah mencatat perjuangan setiap mujahid yang ikhlas. Allah melihat usaha dan ikhtiar yang dilakukan, bukan hasil akhirnya.

Lalu saya, apa yang akan Allah nilai dari diri saya?? Saya yakin hampir tak ada, karena minimnya ikhtiar yang saya lakukan dalam perjuangan ini.

Ya Allah, mungkin ini memang teguran. Tapi hamba berharap, semoga Engkau tak sungguh2 memasukkan hamba ke dalam golongan orang2 yang berguguran di jalan dakwah.

Amiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Karena banyak yang mengalami kesulitan dalam mengisi komentar, berikut panduan singkatnya:
Untuk memberi komentar tanpa login, silahkan pilih 'Name/URL' pada kolom 'Beri komentar sebagai', lalu masukkan nama anda (URL silahkan dikosongkan). Kemudian masukkan komentar yang ingin disampaikan. Terimakasih

Ikhlas itu Perkara Hati

Sahabat, mari bicara tentang keikhlasan. Ikhlas adalah perkara hati, karenanya tidak ada yang berhak memberikan penilaian hanya berdasarka...